Cara Investasi Reksadana Saham Nyaman Meski Pasar Turun

Indeks saham IHSG turun 4,21 persen sebulan terakhir hingga 30 Maret 2021
Hanum Kusuma Dewi • 31 Mar 2021
cover

Ilustrasi investor reksadana saham sedang melihat portofolio dan kinerja pasar saham di laptop dan smartphone serta kertas laporan. (shutterstock)

Bareksa.com - Investasi di reksadana saham memiliki risiko tinggi, karena aset-aset saham di dalam portofolionya bisa bergerak naik-turun dengan cepat alias berfluktuasi. Reksadana saham sangat dipengaruhi oleh pergerakan pasar saham. 

Dalam sebulan terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau turun 4,21 persen dan ditutup di 6.071 per 30 Maret 2021. Bahkan, menurut data Bursa Efek Indonesia, IHSG hari ini hingga pukul 10:58 WIB turun 1,64 persen ke 5.974. 

Pergerakan pasar saham yang tercermin dari IHSG sebulan terakhir ini turun menekan kinerja reksadana, khususnya reksadana saham. Indeks Reksadana Saham Bareksa tercatat turun 5,05 persen per 30 Maret 2021. 

Grafik Pergerakan IHSG dan Indeks Reksadana Saham Bareksa

Sumber: Bursa Efek Indonesia, Bareksa.com

Taufan Yamin, Investment Specialist Sucor Asset Management menjelaskan bahwa sejak pertengahan Maret 2021, pasar saham cukup volatil. Sebab, tidak banyak sentimen positif yang datang dari pasar keuangan global. Sentimen datang juga dari dalam negeri terkait kebijakan BPJS Ketenagakerjaan mengurangi porsi investasi saham dan reksadana. 

Bagaimana sebaiknya investor bersikap menghadapi kondisi ini? Ini cara dan tips investasi reksadana saham yang nyaman meski pasar turun. 

1. Sesuaikan Profil Risiko

Sebelum memutuskan beli reksadana saham, pastikan kita siap menerima risikonya. Kalau ketika kita beli reksadana tetapi malah jadi tidak bisa tidur karena khawatir nilainya turun, sebaiknya jangan diteruskan. Pindahkan saja ke aset yang risikonya rendah, misal reksadana pendapatan tetap atau reksadana pasar uang. 

2. Tentukan Tujuan/Target

Tujuan adalah target atau alasan mengapa kita berinvestasi. Kita sebaiknya sudah memperkirakan jumlah yang ingin dicapai dan untuk apa uang hasil investasi reksadana tersebut. Kalau target sudah tercapai, boleh saja kita mencairkan sebagian investasi atau keuntungan kita. 

3. Investasi Jangka Panjang

Buat investor yang masih muda, dan punya tujuan jangka panjang, tidak ada salahnya memiliki reksadana saham sebagai investasi yang punya potensi imbal hasil tinggi. 

Kondisi ekonomi Indonesia masih memiliki potensi yang baik dalam jangka panjang. Sehingga, pasar saham Indonesia juga masih menarik untuk investasi jangka panjang. 

4. Cost Averaging

Saat melihat nilai investasi turun dalam portofolio, kita bisa menggunakan strategi dollar cost averaging (DCA) atau yang biasa disebut sebagai investasi bertahap, atau rutin. Strategi DCA juga cocok untuk investor yang memiliki modal sedikit tetapi rutin berinvestasi.

Ibarat diskon di toko, harga turun ini justru waktunya membeli sehingga kita bisa mendapatkan unit reksadana yang lebih banyak. Di masa depan, kita mengharapkan nilai ini akan tumbuh lebih tinggi lagi. 

5. Jangan Sering Cek Portofolio

Reksadana saham sangat berfluktuasi dalam jangka pendek, sehingga secara harian nilainya pasti akan bergerak naik-turun. Kalau sudah menentukan untuk tujuan jangka panjang, tidak perlu terlalu sering memantau portofolio karena malah bikin kita makin deg-degan.

Boleh saja kita melihat portofolio secara rutin, misal tiga bulan atau setahun sekali. Bila memang kinerjanya tidak sesuai harapan, kita bisa mengambil langkah selanjutnya, yaitu menambah atau mengalihkan ke produk reksadana lain. 

Reksadana adalah kumpulan dana investor yang dikelola oleh manajer investasi untuk dimasukkan ke dalam aset-aset keuangan seperti saham, obligasi dan pasar uang. Reksadana adalah investasi resmi yang diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan. 

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?
- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa, klik di sini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.