SBN Menguat Saat Pasar Saham Turun, Reksadana Pendapatan Tetap Juaranya

Mayoritas SBN pada perdagangan kemarin ramai dikoleksi investor, ditandai dengan penurunan imbal hasilnya
Abdul Malik • 24 Mar 2021
cover

Ilustrasi investor memantau perkembangan harga SBN dan dampaknya ke reksadana pendapatan tetap. (Shutterstock)

Bareksa.com - Bursa saham Tanah Air kembali mengalami tekanan di hari kedua perdagangan pekan ini. Setelah turun 0,87 persen di awal pekan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melanjutkan pelemahannya pada perdagangan kemarin yakni turun 0,77 persen di level 6.252.

Investor asing tampak keluar dari pasar saham domestik yang ditandai dengan terjadinya aksi jual bersih (neg foreign buy) senilai Rp191,98 miliar di pasar reguler. Berbanding terbalik dengan pasar saham, pasar obligasi Tanah Air justru mencatatkan kinerja positif pada perdagangan kemarin.

Harga obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) pada perdagangan Selasa (23/3/2021) ditutup menguat, di tengah penurunan kembali imbal hasil obligasi acuan pemerintah Amerika Serikat (AS) pada sore hari kemarin waktu Indonesia dan menyusul kenaikan kembali kasus Covid-19 di beberapa tempat.

Mayoritas SBN pada perdagangan kemarin ramai dikoleksi investor, ditandai dengan penurunan imbal hasilnya (yield), kecuali SBN tenor 3 tahun dan 25 tahun yang cenderung dilepas oleh investor.

SBN tenor 3 tahun berseri FR0039 mencetak kenaikan yield 2 basis poin (bps) ke 5,346 persen, sedangkan yield SBN tenor 25 tahun seri FR0067 naik 7,2 bps ke 7,598 persen.

Sementara untuk yield SBN seri FR0087 dengan tenor 10 tahun yang merupakan yield acuan obligasi negara kembali turun 3,7 bps ke level 6,773 persen. Yield berlawanan arah dari harga, sehingga penurunan yield menunjukkan harga obligasi yang sedang menguat, demikian juga sebaliknya.

Sumber: World Government Bond

Menurunnya kembali yield SBN pada perdagangan kemarin karena investor SBN menanggapi positif terkait penurunan yield obligasi pemerintah AS (US Treasury) yang kembali terjadi pada sore hari ini waktu Indonesia.

Berdasarkan data dari situs World Government Bond, yield surat utang pemerintah AS tenor 10 tahun kembali turun 3,9 bp ke level 1,659 persen.

Di sisi lain, penguatan pasar obligasi domestik juga tercermin dari menguatnya Indonesia Composite Bond Index (ICBI) 0,17 persen pada perdagangan kemarin.

Reksadana Pendapatan Tetap Dominasi Return Harian

Kondisi pasar obligasi yang mencatatkan kinerja positif pada perdagangan kemarin, secara umum turut mendorong kinerja reksadana pendapatan tetap yang memang mengalokasikan sedikitnya 80 persen portofolionya ke dalam aset berupa surat utang tersebut.

Berdasarkan data Bareksa, indeks reksadana pendapatan tetap dan indeks reksadana pendapatan tetap syariah kompak mencatatkan kenaikan masing-masing sebesar 0,13 persen dan 0,05 persen, sedikit di bawah ICBI yang bertambah 0,17 persen.

Sumber: Bareksa

Di sisi lain, secara lebih rinci produk reksadana pendapatan tetap berhasil mendominasi imbal hasil (return) tertinggi pada perdagangan kemarin. Berdasarkan top 10 return produk reksadana pada perdagangan kemarin, seluruhnya ditempati oleh produk reksadana pendapatan tetap.

Sumber: Bareksa

Perlu diingat, kinerja reksadana di masa lalu tidak bisa menjadi jaminan kinerja di masa yang akan datang. Asumsi tersebut hanya berdasarkan atas kinerja historis yang sudah terjadi.

Sekadar informasi, reksadana pendapatan tetap adalah reksadana yang menempatkan mayoritas (80 persen) dananya ke instrumen yang menghasilkan pendapatan tetap, yakni surat utang atau obligasi.

Sesuai dengan karakternya, reksadana pendapatan tetap ini memiliki tingkat pengembalian hasil yang stabil karena memiliki aset surat utang atau obligasi yang memberikan keuntungan berupa kupon secara rutin.

Dalam jangka pendek dan menengah, harga reksadana pendapatan tetap, yang tercermin dari nilai aktiva bersih (NAB), cenderung naik stabil dan tidak banyak berfluktuasi (naik-turun) seperti halnya saham.

Karena itu, reksadana ini cocok untuk investor bertipe konservatif. Investor bertipe konservatif ini memiliki profil risiko yang rendah dan cenderung menghindari risiko (risk averse).

(KA01/Arief Budiman/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

DISCLAIMER​
Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.