Harga SUN Bergerak Stabil, Peluang Reksadana Pendapatan Tetap

Harga SUN diperkirakan bergerak stabil pasca meredanya kenaikan imbal hasil US Treasury Bond 10 tahun
Abdul Malik • 15 Mar 2021
cover

Ilustrasi investasi di reksadana pendapatan tetap. (Shutterstock)

Bareksa.com - Harga Surat Utang Negara (SUN) diperkirakan bergerak stabil pasca meredanya kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury Bond 10 tahun dalam beberapa minggu terakhir. Hal ini akan berdampak positif terhadap reksadana pendapatan tetap yang memiliki underlying obligasi.

Associate Director of Fixed Income PT Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto menjelaskan setelah kenaikan yang cukup signifikan pekan lalu, yield US Treasury Bond mulai bergerak stabil sehingga berdampak positif pada pergerakan SUN.

Meski begitu, pergerakan SUN masih sempit dengan yield SUN 10 tahun diperkirakan pekan ini akan berada di level 6,6-6,7 persen.

Kendati pergerakan yield US Treasury Bond mulai mereda, namun arus modal asing ke pasar SUN masih tersendat. Hal ini akan mempengaruhi pergerakan yield SUN secara jangka pendek.

"Sedangkan secara jangka panjang, yield SUN masih menarik," papar Ramdhan di Jakarta akhir pekan lalu.

Di tengah koreksi yield dalam dua minggu terakhir, Ramdhan menilai hal tersebut bisa menjadi peluang bagi investor untuk masuk. Namun, investasi sebaiknya tidak dilakukan sekaligus untuk meminimalkan risiko, tetapi secara bertahap.

Investor Pantau Sikap Bank Sentral

Di sisi lain, Associate Director of Research Investment PT Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menjelaskan, pelaku pasar dan investor masih akan terus memperhatikan imbal hasil US Treasury. Hal ini terutama saat pertemuan Bank Sentral Amerika-The Fed pekan ini.

Pasalnya, investor ingin melihat sikap The Fed di tengah kenaikan yield US Treasury Bond. Dia berpendapat, meskipun Fed Fund Rate (FFR) masih dalam posisi rendah karena tingkat inflasi dan data ketenagakerjaan yang masih rendah, namun sikap The Fed terhadap pergerakan US Treasury masih akan mencuri perhatian. 

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah sikap Bank Indonesia (BI) dalam menghadapi kenaikan yield US Treasury Bond. Investor ingin melihat apakah BI akan kembali melakukan intervensi terhadap pasar obligasi dalam menghadapi kenaikan yield US Treasury Bond.

"Bank Indonesia sudah beberapa kali melakukan intervensi terhadap pasar obligasi dan rupiah kita. Apakah mungkin BI kembali melakukan intervensi karena akan melawan pasar. Oleh sebab itu pekan ini akan menjadi pekan penentu pergerakan pasar obligasi kedepannya," jelas dia.

Lelang SUN

Lebih lanjut, investor juga akan memperhatikan lelang obligasi pekan ini. Menurut Nico, investor akan cenderung meminta obligasi obligasi berdurasi pendek untuk meredam volatilitas yang terjadi akhir-akhir ini di pasar.

Karena itu, investor cenderung akan memperhatikan SUN seri FR0086 dan FR0087, sedangkan FE083 akan mengekor di belakang kedua obligasi tersebut. 

"Total penawaran yang masuk akan menjadi sebuah gambaran, apakah investor asing masih akan menaruh hati terhadap pasar obligasi atau tidak," kata dia.

Dengan mulai meredanya yield US Treasury Bond dan peluang peningkatan harga SUN secara jangka panjang, hal ini akan berdampak positif terhadap reksadana pendapatan tetap. Reksadana ini adalah reksadana yang menempatkan sebagian besar portofolionya pada efek bersifat utang.

Di Bareksa, ada 30 produk reksadana pendapatan tetap yang bisa dipilih oleh investor. Produk tersebut mencatatkan kinerja yang baik dalam tiga tahun terakhir.

Syailendra Pendapatan Tetap Premium adalah salah satu produk reksadana pendapatan tetap dari PT Syailendra Capital yang menunjukkan kinerja yang baik. Produk ini membukukan tingkat bagi hasil (return) hingga 32 persen dalam tiga tahun.

(K09/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

DISCLAIMER​
Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.