Berita / Kategori / Artikel

Capai Rp7 Triliun, Dana Kelolaan Reksadana Indeks Naik 2 Bulan Berturut

AUM reksadana indeks di industri naik 12 persen sepanjang April-Mei 2020
• 19 Jun 2020
cover

Ilustrasi sejumlah investor analis pasar modal sedang berdiskusi melakukan analisis kinerja investasi reksadana saham obligasi surat berharga negara dengan melihat data di komputer laptop dan kertas bergambar grafik sambil menulis catatan dengan pulpen.

Bareksa.com - Dalam dua bulan terakhir, dana kelolaan reksadana indeks di industri mengalami peningkatan 12 persen. Peningkatan ini terjadi bukan hanya karena kinerja, tetapi juga bertambahnya unit yang dimiliki oleh investor.

Laporan Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market - Monthly Report May 2020 yang mengolah data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menunjukkan dana kelolaan (asset under management/AUM) reksadana indeks per akhir Mei 2020 mencapai Rp7 triliun, meningkat 4 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Peningkatan bulanan ini terjadi kedua kalinya setelah pada April, dana kelolaan reksadana indeks juga naik. Bila diakumulasi, dalam dua bulan terakhir terjadi peningkatan AUM sebesar 12 persen untuk reksadana indeks saja.

Grafik Peningkatan AUM Reksadana Indeks Maret-Mei 2020

Sumber: Bareksa.com

Seiring dengan bertambahnya dana kelolaan per Mei, jumlah unit penyertaan reksadana indeks juga bertambah. Per akhir Mei, jumlah unit penyertaan reksadana indeks mencapai 9,09 miliar, naik 2 persen secara bulanan dan 7 persen dalam dua bulan terakhir.

Bila dilihat sejak awal tahun, jumlah unit penyertaan reksadana indeks sudah meningkat 10,57 persen. Padahal, dana kelolaan reksadana indeks kalau dilihat dari posisi akhir tahun lalu menurun 19,89 persen. Adapun jumlah produk reksadana indeks di industri per Mei sebanyak 37 produk, hanya bertambah 1 produk sejak akhir tahun lalu.

Grafik Unit Penyertaan Reksadana Indeks

Sumber: Mutual Fund Industry, Data Market - Monthly Report May 2020

Meski terjadi penurunan dana kelolaan secara year to date (YTD), peningkatan pada unit penyertaan ini bisa menunjukkan adanya subscription (pembelian) atau penambahan unit reksadana. Artinya, justru banyak investor yang melakukan pembelian di saat nilai aktiva bersih (NAB) reksadana sedang turun, yang menjadikan NAB/UP atau harga reksadana sedang murah.

Perlu diketahui, reksadana indeks adalah reksadana saham yang meniru portofolio indeks acuannya. Misal, reksadana indeks ada yang mengacu pada LQ45, maka isi portofolio reksadana tersebut sama dengan saham-saham dalam LQ45.

Tujuan dari penerbitan reksadana indeks adalah meniru pergerakan indeks acuannya. Jadi, semakin mirip dengan indeks acuannya, maka reksadana indeks tersebut semakin baik.

Seperti halnya investasi saham atau reksadana saham, investasi reksadana indeks saham memiliki risiko pergerakan pasar yang cepat. Sehingga, investasi reksadana indeks saham disarankan untuk investor dengan profil risiko agresif yang bisa menerima risiko tinggi (risk taker) serta untuk investasi jangka panjang (di atas lima tahun).

Sebagian isi artikel ini merupakan cuplikan dari laporan bulanan Industri reksadana Bareksa Mutual Fund Industry, Data Market – Monthly Report May 2020. Untuk berlangganan laporan ini silakan hubungi [email protected] (cc: [email protected]).

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.

 

Tags: