CEO Schroders Indonesia, Michael T : Dampak Risiko Taper Tantrum pada Pasar Indonesia

Dampaknya dinilai tak signifikan seperti bursa saham di AS yang sudah mengalami kenaikan cukup signifikan
Abdul Malik • 23 Aug 2021
cover

Ilustrasi risiko taper tantrum yang diperkirakan akan mempengaruhi kinerja pasar saham dan SBN Indonesia, sehingga berdampak pada kinerja reksadana. (Shutterstock)

Bareksa.com - Presiden Direktur PT Schroder Investment Management Indonesia (Schroders), Michael Tjoajadi memproyeksikan di ekonomi global akan tumbuh signifikan di kisaran 5,9 persen pada tahun ini, angka pertumbuhan tertinggi sejak tahun 2001. Hal ini seiring masifnya program vaksinasi yang dilakukan oleh negara-negara di dunia.

Menurut Michael, ekonomi global mulai kembali pulih setelah tertekan cukup dalam pada tahun lalu ke level 3,5 persen akibat pandemi. Capaian itu lebih buruk dari pada saat krisis tahun 2008 di mana ekonomi terkontraksi 0,4 persen.

"Ekonomi dunia mengalami penurunan signifikan dari positif agregat 2,6 persen pada 2019 menjadi turun 3,5 persen di 2020," kata Michael, dilansir CNBC Indonesia (20/8/2021).

Meski begitu, dia meyakini, seiring dengan vaksinasi yang terus masif dilakukan, hal ini akan mendorong perekonomian dunia kembali pulih signifikan. Schroders memperkirakan, ekonomi dunia akan tumbuh 5,9 persen di 2021 dan 4,5 persen di 2022.

"Forecast bisa mengalami kenaikan 5,9 persen di tahun 2021. Ini pertumbuhan tertinggi sejak 2001," katanya menambahkan.

Dengan positifnya pertumbuhan ekonomi global, hal ini diyakini juga akan berdampak baik bagi perekonomian domestik. Hal ini sudah terlihat dari pertumbuhan ekonomi nasional di kuartal kedua yang tumbuh 7,07 persen secara tahunan.

"Di Indonesia, kita harapkan akan tetap tumbuh walau tidak setinggi 7 persen karena ada PPKM Level 4 dua bulan, akan tetap mengalami positif pertumbuhan di 2021 dan akan continue di 2022," imbuhnya.

Namun Michael menilai ada faktor risiko yang menjadi perhatian pelaku pasar, yaitu tingkat inflasi.

Di AS misalnya, tingkat inflasi menunjukkan kenaikan yang signifikan karena disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain, pemulihan ekonomi di Negeri Paman Sam, meningkatnya daya beli masyarakat, dan faktor positif pertumbuhan ekonomi dunia. Hal ini turut mendorong naiknya harga-harga seperti barang komoditas, energi, CPO (minyak sawit) hingga nikel.

"Inflasi naik memberikan indikasi perekonomian akan tumbuh dan membuat kita optimistis, laba perusahaan publik akan mengalami kenaikan," katanya.

Risiko Taper Tantrum

Adapun terkait dengan rencana pengurangan nilai pembelian aset (tapering) oleh bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed yang kemungkinan terjadi tahun ini, dinilai akan menjadi sentimen negatif bagi bursa saham domestik dalam jangka pendek.

Hal ini terlihat dari respons negatif pelaku pasar terkait wacana tapering The Fed yang menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Kamis kemarin terkoreksi hingga 2,06 persen ke level 5.992,32 poin dengan nilai transaksi Rp14,1 triliun.

Dalam sepekan perdagangan yang berlangsung mulai dari 16 hingga 20 Agustus, IHSG berakhir di zona merah sebanyak tiga kali dan di zona hijau sebanyak dua kali, di mana secara mingguan mengakumulasi penurunan 1,77 persen ke level 6.030,77.

Meski bursa saham Tanah Air terkena imbas, menurut Michael, dampaknya tak signifikan seperti bursa saham di AS yang sudah mengalami kenaikan cukup signifikan.

"Short term [jangka pendek] akan impact ke sentimen? Ya akan terjadi impact-nya walau saya tidak melihat Indonesia akan memiliki impact yang sangat besar. AS yang mengalami dampak sangat besar, AS punya harga saham sudah naik signifikan," ungkap Michael.

Michael melanjutkan, kendati menghadapi risiko taper tantrum, dia optimistis, pada tahun ini ekonomi Indonesia akan tetap tumbuh seiring dengan pemulihan ekonomi nasional.

Sinyal ini sudah terlihat dari pertumbuhan ekonomi nasional di kuartal kedua yang tumbuh 7,07 persen secara tahunan, sehingga, imbasnya akan positif bagi kinerja keuangan emiten.

"Saya melihat walaupun terjadi taper tantrum, ekonomi akan tetap tumbuh, saya melihat perusahaan publik akan tumbuh revenue dan profitnya," ujar Michael.

Faktor selanjutnya yang menyebabkan IHSG tidak akan terkoreksi cukup dalam dengan sentimen tapering lantaran secara valuasi, imbal hasil IHSG masih belum bergerak signifikan, berbeda dengan indeks Dow Jones yang sudah mencetak rekor.

Sejak awal tahun sampai dengan 18 Agustus 2021, IHSG hanya menguat 2,33 persen, masih lebih baik dari bursa saham Malaysia dan Filipina yang terkoreksi 6 persen. Sedangkan, kinerja IHSG masih kalah dari bursa saham Thailand dan Singapura yang naik  7,09 persen dan 10,17 persen secara year to date atau sepanjang tahun berjalan.

"Ini tidak terlalu berimbas ke indeks kita. Valuasi di negara yang indeksnya sudah naik jauh lebih mahal daripada Indonesia. Valuasi kita dibandingkan pre-Covid, itu tidak ke mana-mana. Indeks pre Covid 6.200-6.600. Dow Jones di US memecahkan rekor, mereka sudah jauh lebih mahal," tuturnya.

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.