Strategi Berinvestasi Emas di Tengah Potensi Kebijakan Hawkish The Fed

Kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat dan bank sentral negara lain akan mempengaruhi pergerakan emas ke depannya
Abdul Malik • 29 Oct 2021
cover

Ilustrasi investasi di emas batangan atau logam mulia. (Shutterstock)

Bareksa.com - Pergerakan harga emas dalam beberapa hari terakhir masih tertekan dan bergerak mendekati batas US$1.800. Kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) dan bank sentral negara lain akan mempengaruhi pergerakan emas ke depannya.

Pada Kamis, (28/10), harga emas memulai upaya pemulihannya karena nilai tukar dolar AS mulai bergerak dari level terendahnya  mengikuti imbal hasil Treasury AS. Namun, kenaikan harga emas yang terjadi baru-baru ini erat kaitannya dengan kekhawatiran pasar akan berakhirnya kebijakan uang longgar yang digelontorkan selama pandemi.

"Juga perlu dicatat bahwa harapan dari stimulus AS dan perselisihan Sino-Amerika menjadi katalis tambahan yang setidaknya ikut menyumbang pondasi bagi harga emas," tulis Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX), Jumat (29/10).

Hal ini berkaitan dengan ekspektasi Federal Reserve AS (Fed) dan Bank Sentral Eropa (ECB) akan mengikuti jejak bank sentral utama lainnya yang memperketat kebijakan moneter. Konsensus pasar melihat adanya ekspektasi peningkatan inflasi dan peningkatan data makro lainnya dari negara-negara maju, serta meredanya ketakutan akan Covid-19.

Ke depan, data awal Produk Domestik Bruto (PDB) AS yang lebih kuat dari perkiraan akan membantu The Fed untuk terus mempertahankan sikap hawkish-nya bisa membebani sentimen pasar namun bisa membantu Dolar AS untuk mendapatkan kembali momentum kenaikan. Namun kemungkinan kebijakan hawkish di beberapa bank sentral lain seperti European Central Bank (ECB) dan Bank of Japan bisa menghambat Dolar AS membantu upaya emas untuk rebound kembali.

Adapun pergerakan emas pada Jumat, (29/10) berpotensi melanjutkan rebound dengan support terdekat di level US$1.795 dan resistance terdekat berada di area US$1.805 hingga ke area US$1.810. Support terjauh harga emas berada di area US$1.790 hingga ke area US$1.785.

Punya Tempat Tersendiri di Mata Investor

Di sisi lain, Senior Investment Strategies OCBC Bank Vasu Menon mengungkapkan, emas masih memiliki tempat tersendiri dalam portofolio investor, tetapi alokasinya cenderung lebih kecil dari sebelumnya. Kekhawatiran akan emas meningkatkan ekspektasi pertumbuhan global dan Fed yang lebih hawkish

The Fed sebelumnya menjelaskan kemungkinan akan mulai melakukan tapering pada pertemuan November dan Ketua The Fed Jerome Powell memperkirakan pengurangan akan selesai sekitar pertengahan tahun depan. 

Ringkasan ini menunjukan proyeksi Ekonomi The Fed lebih hawkish, dengan dot plot menunjukkan peluang 50 berbanding 50 dari kenaikan 2022 dan memproyeksikan kemungkinan kenaikan suku bunga yang lebih besar.

"Kami tetap berhati-hati pada emas di tengah ekspektasi peningkatan aktivitas ekonomi, pemulihan Covid-19, dan kenaikan imbal hasil AS," tulis Venon dalam Monthly Outlook OCBC Bank.

Penurunan harga emas tetap menjadi hal yang paling mungkin terjadi selama 6 hingga 12 bulan ke depan. OCBC Bank menurunkan perkiraan emas 12 bulan menjadi US$1620 per ounce dari US$1675 per ounce sebelumnya.

(K09/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.