Syailendra: Laba Emiten Diprediksi Pulih, Potensi Reksadana Saham

Syailendra menargetkan indeks saham IHSG akhir 2021 berkisar di level 6.600-6.900
Hanum Kusuma Dewi • 16 Mar 2021
cover

Ilustrasi investasi di pasar saham dan reksadana saham dengan prospek positif yang digambarkan dengan grafik saham, tumpukan koin dan banteng (bull). (shutterstock)

Bareksa.com - Syailendra Capital mempertimbangkan berbagai faktor yang mendorong ekspektasi indeks saham, termasuk melimpahnya likuiditas, potensi premi risiko yang lebih rendah dan laba emiten yang diprediksi pulih bertahap. Faktor-faktor ini bisa mendorong kinerja reksadana berbasis saham. 

Dalam Monthly Bulletin March 2021, Syailendra memperkirakan pertumbuhan laba dari saham-saham pilihan (Syailendra equity universe) berkisar minus 30-35 persen pada 2020. Namun, laba 2021 diperkirakan tumbuh mencapai 30 persen akibat kinerja tahun lalu yang sangat rendah (low base effect). 

Aktivitas ekonomi diperkirakan akan berangsur normal pada semester kedua tahun ini, setelah distribusi vaksin berjalan secara bertahap. Sehingga, Syailendra memperkirakan laba kuartalan para emiten akan berangsur normal pada paruh kedua 2021. 

Investor juga diperkirakan sudah mulai mengambil risiko, dengan perimbangan tingginya likuiditas di pasar global yang berpotensi memberikan arus dana masuk (foreign inflow) di pasar pada 2021. 

Selain itu, premi risiko kredit (CDS) Indonesia sudah mencapai level terendah saat Indonesia mendapatkan peringkat layak investasi (investment grade) dari S&P dan Moody's. "Sehingga, foreign inflow berpotensi kembali ke Indonesia," tulis Syailendra.

Argumen lain yang mendorong investor untuk masuk ke pasar saham adalah valuasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Dari sisi rasio harga terhadap laba (price to earning/PER), valuasi IHSG terlihat sudah lebih tinggi yang menandakan antisipasi investor terhadap perbaikan laba perusahaan. 

Grafik PE Band IHSG

Reli yang terjadi dalam dua kuartal terakhir menunjukkan antisipasi investor terhadap pemulihan laba dan katalis positif sepanjang semester kedua tahun lalu. "Sehingga, IHSG mempunyai valuasi di plus 2 standard deviation band dibandingkan historis sejak 2008-2019."

Namun, menurut Syailendra, dari rasio harga terhadap nilai buku (price to book value/PBV), valuasi IHSG masih terbilang murah secara historis. Sejak 2015, PBV IHSG berkisar antara 2,1-2,5 dibandingkan level saat ini di 1,94 kali. 

"Valuasi IHSG menggunakan price to book masih dapat dikatakan memiliki potensi upside," tulis Syailendra. 

Grafik PBV Band IHSG

Syailendra menargetkan IHSG akhir tahun 2021 berkisar di level 6.600-6.900. Pertumbuhan laba 2021 diasumsikan sekitar 30 persen dengan PER sekitar 16-18 kali laba tahun 2021. 

IHSG mencerminkan pasar saham yang bisa berpengaruh pada reksadana yang memiliki aset saham dalam portofolionya, termasuk reksadana saham. Reksadana saham memiliki risiko tinggi yang disarankan untuk investor agresif dan cocok untuk investasi jangka panjang. 

Reksadana adalah kumpulan dana investor yang dikelola manajer investasi untuk dimasukkan ke dalam aset-aset keuangan seperti saham, obligasi dan pasar uang. Reksadana adalah investasi resmi yang diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan. 

***

 Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini

- Beli reksadana, klik tautan ini

- Pilih reksadana, klik tautan ini

- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

 DISCLAIMER

Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.