Nilai Penawaran Umum di Pasar Modal Tembus Rp108 Triliun, Ini Datanya

Per 27 November 2020, nilai penawaran umum dari IPO mencapai Rp5,22 triliun yang dilakukan oleh 46 perusahaan
Abdul Malik • 01 Dec 2020
cover

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Inarno Djajadi dalam sambutannya di Sharia Investment Week 2020

Bareksa - Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, nilai penawaran umum di pasar modal sudah melebihi Rp100 triliun atau mencapai Rp108,33 triliun hingga 27 November 2020. Nilai penawaran umum ini paling banyak berasal dari penerbitan saham perdana (initial public offering/IPO) dan rights issue.

Direktur Utama BEI Inarno Djajadi mengatakan, per 27 November 2020, nilai penawaran umum dari IPO mencapai Rp5,22 triliun yang dilakukan oleh 46 perusahaan."Jumlah IPO di Indonesia merupakan tertinggi di kawasan Asia Tenggara," ujar Inarno dalam acara Media Gathering Pasar Modal Secara Virtual, Selasa (1/12).

IPO tertinggi di Asean

Sumber : materi paparan Dirut BEI, Inarno Djajadi

Inarno menjelaskan, jumlah IPO di negara-negara di kawasan Asia Tenggara relatif sedikit dibandingkan Indonesia. Malaysia dan Thailand hanya mencatat 14 perusahaan yang melakukan IPO. Sementara Singapura dan Filipina mencatat jumlah IPO sebanyak 5 dan 2 perusahaan.

Kendati jumlah perusahaan yang IPO cukup besar, namun nilai emisi dari IPO di Indonesia masih relatif kecil. Inarno menjelaskan, dengan 46 perusahaan yang IPO tersebut, nilai emisinya mencapai US$360 juta atau sekitar Rp5,22 triliun.

Sementara Malaysia yang hanya dengan 14 perusahaan yang IPO bisa mencatat nilai emisi US$480 juta. Bahkan Thailand bisa mencatat nilai emisi IPO sebesar US$4,19 miliar dari 14 perusahaan yang IPO.

Inarno berharap akan ada perusahaan yang akan IPO dengan nilai yang besar pada akhir tahun ini. Sehingga, nilai emisi tersebut bisa meningkatkan total emisi di pasar modal Indonesia.

Adapun berdasarkan pipeline BEI per 27 November 2020, masih terdapat 20 perusahaan yang akan melantai di bursa. Inarno menjelaskan, 20 perusahaan ini akan mencatatkan sahamnya pada akhir 2020 ini atau pada kuartal I 2021.

Inarno melanjutkan, selain dari IPO, nilai penawaran umum juga berasal dari rights issue dan waran sebesar Rp28,1 triliun. Kemudian, penawaran umum lain berasal dari emisi obligasi dan sukuk sebesar Rp74,47 triliun. Selanjutnya dari efek beragun aset (EBA) Rp451,25 miliar dan exchange traded fund (ETF) Rp47,51 miliar.

Seiring nilai penawaran umum yang sudah melebihi Rp100 triliun, aktivitas transaksi di bursa juga terus meningkat. Inarno menyebutkan, transaksi harian di bursa pada November 2020 rata-rata mencapai Rp11,9 triliun. Nilai transaksi harian ini merupakan nilai transaksi tertinggi sepanjang 2020. Hal ini sekaligus membuat rata-rata transaksi harian pada periode Januari-November 2020 mencapai Rp8,3 triliun.

Peningkatan transaksi harian pada November 2020 ditopang oleh peningkatan frekuensi transaksi harian investor ritel. Inarno menyebutkan, per 27 November 2020, frekuensi transaksi harian investor ritel mencapai 148 ribu transaksi per hari.

"Frekuensi transaksi ini merupakan frekuensi tertinggi sepanjang 2020 atau meningkat 184 persen dibandingkan Januari 2020," papar dia.

Aktifnya investor ritel bertransaksi diiringi pula oleh jumlah investor pasar modal yang meningkat. Per 27 Oktober 2020, jumlah investor pasar modal mencapai 3,39 juta orang dengan 1,43 juta orang atau 42,1 persen di antaranya adalah investor saham.

Total investor pasar modal

Sumber : materi paparan Dirut BEI, Inarno Djajadi

(K09/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?
- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

​DISCLAIMER​
Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.