Investasi Rp1 Miliar Selama 10 Tahun: Ini Perbedaan Hasil IHSG dan S&P 500
Simulasi investasi Rp1 miliar selama 10 tahun menunjukkan perbedaan hasil IHSG dan S&P 500. Simak manfaat diversifikasi saham global serta risikonya.

Simulasi investasi Rp1 miliar selama 10 tahun menunjukkan perbedaan hasil IHSG dan S&P 500. Simak manfaat diversifikasi saham global serta risikonya.
Bareksa – Bagaimana hasil investasi Rp1 miliar jika ditempatkan di pasar saham Indonesia selama sepuluh tahun? Bagaimana pula hasilnya apabila sebagian dana dialokasikan ke pasar saham Amerika Serikat (AS)?
Simulasi berdasarkan data 14 Oktober 2016 hingga 19 Oktober 2026 menunjukkan bahwa investasi Rp1 miliar yang seluruhnya mengikuti pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bernilai sekitar Rp911 juta pada akhir periode.
Sebaliknya, portofolio dengan komposisi 60% IHSG dan 40% indeks S&P 500 menghasilkan nilai sekitar Rp2,52 miliar. S&P 500 merupakan indeks saham yang mencerminkan pergerakan sekitar 500 perusahaan besar di Amerika Serikat.
Promo Terbaru di Bareksa
Perbedaan hasil tersebut menunjukkan bagaimana diversifikasi lintas negara dan mata uang dapat memengaruhi kinerja investasi jangka panjang. Namun, hasil historis tidak menjamin bahwa komposisi serupa akan memberikan keuntungan pada masa mendatang.
Simulasi Rp1 Miliar: IHSG vs S&P 500 Selama 10 Tahun
Simulasi ini menggunakan modal awal Rp1 miliar dengan empat pilihan alokasi. Seluruh investasi diasumsikan dilakukan satu kali pada Oktober 2016, tanpa penambahan modal maupun perubahan komposisi hingga Oktober 2026.
Perhitungan menggunakan indeks harga tanpa dividen. Nilai investasi S&P 500 dikonversi ke rupiah berdasarkan pergerakan kurs dolar AS.
Komposisi Investasi | Nilai Akhir | Keuntungan/Kerugian |
100% IHSG | Rp911 juta | -8,9% |
80% IHSG, 20% S&P 500 | Rp1,72 miliar | +72% |
60% IHSG, 40% S&P 500 | Rp2,52 miliar | +152% |
100% S&P 500 | Rp4,94 miliar | +394% |
Sumber: Simulasi berdasarkan data Yahoo Finance, periode 14 Oktober 2016–19 Oktober 2026 diolah Tim Riset Bareksa
Dalam ilustrasi ini, komposisi 60% IHSG dan 40% S&P 500 menghasilkan nilai akhir sekitar Rp1,61 miliar lebih besar dibandingkan investasi yang seluruhnya mengikuti IHSG.
Perbedaan tersebut bukan berarti alokasi 60:40 merupakan komposisi investasi yang paling sesuai untuk setiap investor. Hasilnya bergantung pada periode pengamatan, kinerja pasar, nilai tukar, biaya, dan risiko yang dapat diterima investor.
Pelemahan IHSG Mengurangi Hasil Investasi Jangka Panjang
Simulasi menunjukkan investasi yang seluruhnya mengikuti IHSG berakhir di bawah nilai modal awal. Namun, pergerakan selama sepuluh tahun tidak selalu menunjukkan kerugian. Pada Januari 2026, nilai investasi tersebut sempat mencapai sekitar Rp1,67 miliar. Tekanan pasar saham sepanjang 2026 kemudian mengurangi sebagian besar kenaikan nilai yang telah terbentuk.
Kondisi ini memperlihatkan salah satu risiko konsentrasi investasi pada satu pasar. Ketika pasar tersebut mengalami koreksi besar, seluruh portofolio dapat terdampak secara bersamaan.
Perlu diperhatikan bahwa simulasi berbasis indeks tidak sama dengan hasil investasi langsung pada sekumpulan saham individual atau produk reksadana. Hasil aktual dapat berbeda karena pemilihan saham, biaya, pajak, dan kebijakan pengelolaan portofolio.
Penguatan Dolar AS Memengaruhi Nilai Investasi
Selain pergerakan harga saham, nilai tukar menjadi faktor penting dalam investasi global. Pada Oktober 2016, kurs rupiah sekitar Rp13.044 per dolar AS. Sepuluh tahun kemudian, kurs dalam simulasi berada di sekitar Rp17.943 per dolar AS.
Artinya, dolar AS menguat sekitar 37,6% terhadap rupiah selama periode pengamatan. Sebagai ilustrasi, perubahan nilai portofolio IHSG juga terlihat ketika dinyatakan dalam dolar AS.
Indikator | Oktober 2016 | Oktober 2026 |
Nilai investasi dalam rupiah | Rp1 miliar | Rp911 juta |
Kurs rupiah per dolar AS | Rp13.044 | Rp17.943 |
Nilai setara dolar AS | US$76.664 | US$50.772 |
Sumber: Perhitungan dari asumsi kurs, diolah Tim Riset Bareksa
Penurunan nilai dalam dolar AS menjadi relevan bagi investor yang memiliki kewajiban atau rencana pengeluaran dalam mata uang asing, seperti pendidikan anak di luar negeri, perjalanan internasional, maupun pembelian aset global.
Namun, investasi dalam dolar AS juga memiliki risiko nilai tukar. Jika rupiah menguat, nilai investasi berdenominasi dolar AS yang dikonversi ke rupiah dapat berkurang, meskipun harga aset dalam dolar tidak berubah.
Diversifikasi Dapat Mengurangi Ketergantungan pada Satu Pasar
Diversifikasi bukan sekadar memperbanyak jumlah saham. Strategi ini juga mencakup penyebaran investasi ke berbagai sektor, negara, kelas aset, dan mata uang. Dalam simulasi tersebut, alokasi ke IHSG memberikan eksposur pada pasar saham domestik, sedangkan S&P 500 memberikan eksposur ke perusahaan besar Amerika Serikat.
Pergerakan kedua pasar tidak selalu searah. Karena itu, menggabungkan aset dari dua pasar dapat mengubah karakteristik risiko dan hasil investasi. Tetapi diversifikasi tidak menghilangkan risiko kerugian. Pasar saham global dapat mengalami koreksi bersamaan, sementara perubahan nilai tukar dapat memperbesar maupun mengurangi hasil dalam rupiah.
Bagi investor dengan portofolio besar, keputusan alokasi sebaiknya mempertimbangkan:
Tujuan keuangan: kebutuhan dalam rupiah atau mata uang asing.
Jangka waktu investasi: kapan dana akan digunakan.
Toleransi risiko: kemampuan menghadapi penurunan nilai portofolio.
Likuiditas: kemudahan menjual aset ketika membutuhkan dana.
Biaya dan pajak: pengaruhnya terhadap keuntungan bersih.
Mengenal Eksposur Saham AS Melalui Bareksa Crypto RWA
Akses terhadap pasar global kini semakin beragam, termasuk melalui produk aset digital. Melalui Bareksa Crypto RWA, investor dapat memperoleh eksposur terhadap pergerakan harga sejumlah saham Amerika Serikat melalui produk tokenized US stock, dengan transaksi menggunakan Saldo Rupiah dan diproses oleh TRIV.
Tokenized US stock merupakan aset kripto yang dirancang untuk mengikuti harga saham tertentu, bukan kepemilikan langsung atas saham perusahaan tersebut. Karena itu, investor perlu membedakan produk ini dengan pembelian saham melalui broker sekuritas di Amerika Serikat. Hak investor, struktur aset pendukung, mekanisme perdagangan, likuiditas, biaya, dan risiko penyedia dapat berbeda.
Catatan penting: Simulasi indeks S&P 500 selama 2016–2026 tidak menggambarkan kinerja aktual produk Bareksa Crypto RWA. Produk tokenized stock tertentu juga tidak otomatis memberikan eksposur yang sama dengan investasi pada seluruh indeks S&P 500.
Investor perlu memeriksa informasi produk, ketentuan transaksi, serta kesesuaiannya dengan profil risiko sebelum berinvestasi.
Kesimpulan
Simulasi investasi Rp1 miliar selama sepuluh tahun menunjukkan hasil yang berbeda antara portofolio yang seluruhnya mengikuti IHSG dan portofolio yang menggabungkan IHSG dengan S&P 500. Dalam periode yang diamati, komposisi 60% IHSG dan 40% S&P 500 menghasilkan nilai sekitar Rp2,52 miliar, dibandingkan Rp911 juta pada skenario 100% IHSG. Temuan ini memperlihatkan manfaat potensial diversifikasi lintas negara dan mata uang. Namun, pemilihan alokasi investasi harus tetap mempertimbangkan kondisi keuangan, kebutuhan likuiditas, dan kemampuan menghadapi risiko. Portofolio yang terdiversifikasi memberi investor lebih dari satu sumber pertumbuhan, tanpa menjamin hasil investasi.
Daftar Akun Crypto RWA di Sini
(Adam Nugroho/AM)
Disclaimer
Perdagangan aset kripto memiliki risiko tinggi. Harga dapat naik dan turun secara signifikan. Pastikan kamu memahami risikonya sebelum bertransaksi. Seluruh rangkaian proses transaksi aset kripto melalui sistem PT Tiga Inti Utama (TRIV). TRIV Berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Pertanyaan Umum
Berapa hasil investasi Rp1 miliar di IHSG selama sepuluh tahun?
Berdasarkan simulasi 14 Oktober 2016 hingga 19 Oktober 2026, nilainya sekitar Rp911 juta, sebelum biaya dan pajak.
Berapa hasil investasi 60% IHSG dan 40% S&P 500?
Dalam simulasi yang sama, nilainya mencapai sekitar Rp2,52 miliar. Komposisi tersebut merupakan ilustrasi, bukan rekomendasi alokasi.
Apakah investasi S&P 500 selalu lebih menguntungkan dibandingkan IHSG?
Tidak. Kinerja kedua pasar dapat berubah dari waktu ke waktu. Hasil historis tidak menjamin kinerja masa mendatang.
Apakah diversifikasi menjamin investasi tidak rugi?
Tidak. Diversifikasi dapat membantu mengurangi konsentrasi risiko, tetapi seluruh portofolio tetap dapat mengalami kerugian.
Apakah tokenized US stock sama dengan saham AS langsung?
Tidak. Tokenized US stock merupakan aset kripto yang mengikuti pergerakan harga saham tertentu, tanpa memberikan kepemilikan langsung atas saham perusahaan.
Profil Penulis

Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WMI dan WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
Pilihan Investasi di Bareksa
Klik produk untuk lihat lebih detail.
| Produk Eksklusif | Harga/Unit | 1 Bulan | 6 Bulan | YTD | 1 Tahun | 3 Tahun | 5 Tahun |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
Trimegah Dana Obligasi Nusantara autodebet | 1.256,78 | ||||||
Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A | 1.209,69 | - | - | ||||
STAR Stable Amanah Sukuk autodebet | 1.219,09 | - | - | ||||
Eastspring Syariah Mixed Asset Fund Kelas A | 1.026,77 | - | - |
Produk Belum Tersedia
Ayo daftar Bareksa SBN sekarang untuk bertransaksi ketika periode pembelian dibuka.
