Takut Harga Emas Turun? Ini Tips Mengurangi Risiko Investasi Logam Mulia

Cara paling umum untuk mengurangi risiko dalam berinvestasi adalah dengan diversifikasi
Bareksa • 28 Aug 2020
cover

Ilustrasi emas batangan logam mulia emas antam dengan latar grafik harga

Bareksa.com - Ketika berinvestasi, tentu kita sebagai investor mengharapkan adanya pertumbuhan nilai dari aset investasi, atau adanya imbal hasil (return). Namun, terkadang kita melupakan hadirnya risiko, sehingga panik jika nilai investasi tergerus atau berkurang.

Begitu juga dengan investasi emas logam mulia. Memang, emas batangan dengan kadar kemurnian 99,99 persen ini bisa dibilang sebagai aset aman (safe haven), tetapi risiko itu tetap saja ada.

Risiko apa saja yang mungkin muncul dalam investasi emas? Pertama, risiko berkurangnya nilai atau harga emas kita. Hal ini bisa terjadi karena harga emas di pasar bisa naik dan turun tergantung kondisi dan permintaan.

Kedua, risiko kehilangan. Kalau kita menyimpan emas batangan sendiri, ada risiko hilang karena kita lupa tempat penyimpanannya atau risiko dicuri orang karena emas sangat menarik bagi siapapun.

Bagaimana cara menghindari risiko itu?

Risiko tidak bisa dihindari sepenuhnya, tetapi kita bisa mengambil langkah untuk mengurangi atau meminimalisir risiko tersebut.

1. Diversifikasi Investasi

Cara paling umum untuk mengurangi risiko dalam berinvestasi adalah dengan diversifikasi. Diversifikasi investasi artinya membagi dana investasi dalam berbagai instrumen berbeda, sehingga risiko bisa terbagi sekaligus kita bisa menikmati potensi imbal hasil beragam dalam berbagai kondisi pasar.

Seperti pepatah dalam bahasa Inggris menyebutkan, "Don't put your eggs in one basket," investor sebaiknya menaruh dana investasi tidak dalam satu instrumen yang sama.

Investasi emas sering disebut sebagai aset investasi aman (safe haven) dan harga emas dipercaya terus naik dalam jangka panjang. Akan tetapi, bila kita menaruh 100 persen harta kita dalam investasi emas juga tidak bijak, karena ada saatnya harga emas tidak tumbuh tinggi dan imbal hasilnya bisa tertinggal daripada aset lain.

2. Sesuaikan dengan profil risiko

Profil risiko adalah seberapa besar tingkat toleransi investor terhadap risiko investasi. Investor yang berani mengambil risiko besar demi imbal hasil tinggi disebut sebagai investor agresif, atau pengambil risiko (risk taker). Sementara investor konservatif, lebih nyaman untuk memastikan dana pokoknya aman meski imbal hasilnya tidak terlalu tinggi.

Dari profil risiko ini, kita bisa menyesuaikan porsi-porsi investasi di dalam berbagai aset. Bila kita termasuk investor agresif, mayoritas dana kita bisa ditaruh di pasar saham atau investasi reksadana saham dan sebagian kecil ditaruh di pasar uang, atau logam mulia emas. Contoh diversifikasinya adalah, 60 persen di reksadana saham, 20 persen di pasar uang, 10 persen di SBN dan 10 persen di emas.

Untuk investor yang konservatif, porsi terbesar investasinya ada di instrumen dengan risiko rendah, seperti investasi emas, pasar uang, dan surat utang negara. Contoh diversifikasinya, 30 persen investasi emas, 30 persen di surat utang negara dan 40 persen di pasar uang.

3. Tempat penyimpanan aman

Khusus investasi emas, kita memerlukan tempat aman untuk menyimpan wujud fisik dari logam mulia ini agar tidak hilang atau mudah dicuri orang. Brankas atau safe deposit box di bank bisa menjadi pilihan aman, tetapi ada biaya tambahan.

Risiko penyimpanan ini bisa dikurangi bila kita memutuskan untuk membeli emas secara online dengan fasilitas titipan. Investasi emas ini sudah tersedia dengan fitur BareksaEmas di aplikasi Bareksa.

Dengan aplikasi Bareksa, kita bisa melihat nilai emas yang kita miliki dalam satu aplikasi yang bisa melihat total reksadana dan surat berharga negara (SBN) kita dalam portofolio.

4. Cairkan di saat tepat

Diversifikasi menjadikan keragaman dalam aset investasi kita. Karena sifat yang berbeda dari tiap aset, ada saatnya satu aset tumbuh lebih tinggi daripada yang lainnya sehingga porsinya dalam portofolio kita berubah. Di saat satu aset sedang memberikan hasil yang tinggi, kita bisa memanennya, alias mencairkannya untuk mewujudkan keuntungan kita.

Contohnya, harga emas baru saja mencapai rekor tertinggi sepanjang masa akibat pandemi Covid-19, sementara pasar saham sedang melemah. Kita bisa menggunakan momen ini untuk mengambil keuntungan (profit taking), saat harga emas tinggi kita jual saja sebagian tetapi jangan sebaliknya ketika harga turun kita panik dan justru menjualnya.

Kalau harga emas sedang turun, sebaiknya kita tidak menjualnya sebab yang terjadi kita justru menanggung kerugian. Toh, ukuran emas yang kita miliki tetap sama, misal kita membeli 5 gram, saat harganya turun tetap saja 5 gram. Makanya, kita bisa menyimpan emas itu sampai menunggu harganya naik kembali.

Ingin memantau investasi emas di manapun dan kapanpun? Gunakan fitur BareksaEmas yang tersedia di aplikasi Bareksa. Harga emas yang ditampilkan mengikuti harga pasar terbaru dari mitra Indogold, pedagang emas online yang sudah mendapat izin dari Otoritas Jasa Keuangan.

Sebagai informasi, emas dalam fitur BareksaEmas di aplikasi Bareksa adalah logam mulia dengan kadar 99,99 persen yang diproduksi oleh ANTAM dan UBS mulai dari ukuran 0,1 gram. Bila kita ingin mengambil wujud emas tersebut, bisa dimulai dengan ukuran 1 gram.

Ayo segara investasi emas online di Bareksa, sebab sekarang sedang ada promo Upgrade Your Asset untuk pembelian emas berhadiah emas hingga Rp500.000.

***

Ingin berinvestasi di Bareksa?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS