BeritaArrow iconBerita Ekonomi TerkiniArrow iconArtikel

Berita Hari Ini : Harga Emas Bangkit, Penempatan Dana Pemerintah di Bank BUMN Ditambah

Abdul Malik29 September 2020
Tags:
Berita Hari Ini : Harga Emas Bangkit, Penempatan Dana Pemerintah di Bank BUMN Ditambah
Ilustrasi harga emas batangan. (Shutterstock)

Harga minyak menguat 1 persen, BI bisa defisit Rp21 triliun akibat burden sharing, reksadana saham kembali negatif, PPRO masuk ke Indonesia via OVO dan Doku

Bareksa.com - Berikut adalah perkembangan penting di isu ekonomi, pasar modal dan aksi korporasi, yang disarikan dari media dan laporan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Selasa, 29 September 2020 :

Harga Emas

Harga emas pada Senin (28/9) menguat seiring meredanya penguatan dolar Amerika Serikat dari level tertinggi dua bulan menjelang pelaksanaan debat kandidat presiden AS pekan ini, Dilansir Reuters, harga emas di pasar spot naik 0,3 persen jadi US$1.865 per ounce, tidak berbeda harga emas berjangka AS menguat 0,4 persen jadi US$1.873.

Promo Terbaru di Bareksa

"Harga emas mulai menguat dan bangkit dari pelemahannya, seiring dolar AS yang mulai mereda kenaikannya," ujar Analis Standard Chartered, Suki Cooper. "Ada beberapa peristiwa berisiko pekan ini yang bisa menguntungkan emas, mulai debat kandidat Presiden AS hingga pengumuman data pengangguran dan inflasi," dia menambahkan.

Indeks dolar AS tercatat melemah 0,4 persen dari level tertingginya selama 2 bulan, dibandingkan mata uang utama dunia lainnya pada sesi terakhir kemarin. "Harga emas telah menemukan level support teknikal yang baru di US$1.850," ujar Edward Moya, analis market senior OANDA, New York.

Kontan melaporkan, dari dalam negeri harga emas di Butik Emas, Logam Mulia, Aneka Tambang (Antam) tetap Rp1.006.000 per gram, pada Senin (28/9). Mengutip situs Logam Mulia, harga pecahan 1 gram emas Antam pada Senin (28/9) berada di Rp1.006.000. Harga emas hari ini sama dengan harga emas pada hari Minggu (27/9) di Rp1.006.000. Adapun harga pembelian kembali atau buyback emas Antam menjadi Rp894.000 per gram.

Jika ditinjau dari 7 hari lalu (21 September 2020), harga emas Antam ini turun Rp18.000 per gram dari harga sebelumnya Rp1.024.000.

Harga Minyak

Harga minyak mentah berhasil menguat 1 persen pada awal pekan ini setelah bursa saham global menguat di tengah harapan untuk paket stimulus Amerika Serikat (AS) lainnya. Tetapi penguatan harga emas hitam ini terbatas oleh meningkatnya kasus virus corona yang memicu kekhawatiran tentang permintaan bahan bakar.

Dilansir Kontan, pada senin (28/9), harga minyak mentah jenis Brent kontrak pengiriman November 2020 ditutup di level US$42,43 per barel, naik 51 sen atau 1,22 persen. Setali tiga uang, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) kontrak pengiriman November 2020 menguat 35 sen atau 0,87 persen ke US$40,60 per barel.

"Menurut pendapat saya, peristiwa yang paling mungkin mampu menggerakkan pasar minyak mentah ke level berikutnya adalah dengan adanya paket stimulus virus corona baru," kata Bob Yawger, Director of Energy Futures Mizuho.

Penguatan harga minyak terjadi setelah Wall Street mengalami reli panjang usai adanya pembicaraan baru terkait RUU bantuan Covid-19 antara pemerintah dan DPR. Ketua DPR AS Nancy Pelosi pun sempat mengutarakan bahwa kesepakatan dapat dicapai dengan Gedung Putih.

Di sisi lain, harga minyak juga terbantu oleh indeks dolar AS yang melemah. Ini membuat harga minyak yang diperdagangkan dalam dolar AS menjadi lebih murah bagi investor yang memegang mata uang lainnya. Namun, krisis kesehatan global, yang telah memangkas konsumsi bahan bakar global, masih menjadi awan gelap bagi harga minyak mentah untuk melesat lebih tinggi.

Penempatan Dana Pemerintah

Pemerintah menambah penempatan uang negara di Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dari Rp30 triliun menjadi Rp47,5 triliun atau bertambah senilai Rp17,5 triliun. Selain itu, periode penempatan dana ini juga diperpanjang. Dilansir Bisnis.com, Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan, Rahayu Puspasari mengatakan jangka waktu penempatan uang negara tersebut lebih lama dari sebelumnya. Dalam penempatan uang negara tahap I di bank BUMN yang senilai Rp30 triliun, dilakukan selama tiga bulan atau berakhir pada September 2020.

Pada penempatan uang negara tahap II di Himbara, jangka waktunya adalah selama 110 hari atau 3 bulan lebih 20 hari. Jangka waktu tersebut menyesuaikan dengan kondisi akhir 2020 dan adanya cuti bersama. Dengan jangka waktu tersebut, penempatan uang negara tahap II tersebut akan jatuh tempo pada 13 Januari 2021.

Sementara itu, suku bunga dari penempatan uang negara tersebut akan menyesuaikan dengan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI 7 Days Reverse Repo Rate (BI7DRRR) yang saat ini 4 persen, suku bunga Deposit Facility 3,25 persen, dan suku bunga Lending Facility 4,75 persen. Adapun penempatan uang negara tahap I di Himbara memiliki bunga 3,42 persen dengan target penyaluran kredit senilai Rp120 triliun.

"Penempatan dana ke Himbara telah diperpanjang dan telah dilakukan penempatan dana tahap II," kata Puspa.

Bank Indonesia

Skema burden sharing atau menanggung beban bersama antara Bank Indonesia dan pemerintah berdasarkan keputusan bersama Menteri Keuangan yang pertama, pada 16 April 2020, akan berlanjut hingga 2022. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan pihaknya masih terus mengkaji dampak dari penerapan skema burden sharing terhadap inflasi dan neraca keuangan BI. Untuk dampak ke inflasi, BI telah menyiapkan beberapa skenario, misalnya menggeser kelebihan likuiditas di perbankan.

"Skenario seperti itu dipikirkan, kami terus memantau perkembangannya. Belum bisa kami sampaikan sekarang, fokusnya sekarang memulihkan ekonomi," katanya dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, Senin (28/9/2020) dilansir Bisnis.com.

Di samping itu, Perry mengatakan, skema burden sharing ini juga akan berdampak pada neraca keuangan BI. Tahun depan, diperkirakan BI akan mengalami defisit hingga Rp21 triliun. "Kami laporkan di mana memang dari prognosa sampai Agustus, tahun depan BI akan mengalami defisit Rp21 triliun dari surplus tahun ini yang relatif besar," jelasnya.

Namun demikian, Perry mengatakan tingkat inflasi saat ini masih sangat rendah. Di samping itu, tren suku bunga global masih terus menurun. Karena itu, BI akan melakukan efisiensi operasi moneter. "Kalau inflasi rendah, ada ruang suku bunga, tapi masalah stabilitas nilai tukar perlu kita jaga. Kami pandang jalur kuantitas bisa lebih besar," katanya.

BI mencatat hingga 24 September 2020, total realisasi pembelian SBN di pasar perdana, termasuk burden sharing untuk pendanaan APBN 2020 mencapai Rp234,65 triliun. Jika diperincikan, pembelian SBN berdasarkan keputusan bersama Menteri Keuangan pada 16 April 2020 di pasar perdana sesuai dengan mekanisme pasar telah mencapai Rp51,17 triliun dalam 22 kali lelang yang dilakukan pemerintah.

Sementara, untuk realisasi pembelian SBN berdasarkan keputusan bersama Menteri Keuangan kedua, pada 7 Juli 2020, untuk public goods telah mencapai Rp183,48 triliun. Berdasarkan kesepakatan, BI membeli SBN untuk public goods Rp397,56 triliun. BI juga mencatat realisasi pembelian SBN untuk non-public goods baru mencapai Rp44,38 triliun dari total Rp177,03 triliun.

Reksadana

Setelah lima bulan berturut-turut mencatatkan imbal hasil positif, kinerja reksadana saham kembali mencatatkan hasil negatif bulan ini akibat tertekan pelemahan indeks harga saham gabungan (IHSG). Bisnis melaporkan berdasarkan data Infovesta Utama, sejak awal tahun reksadana saham dan IHSG memang menorehkan rapor merah. Pada Januari, IHSG ada di posisi -5,71 persen, diikuti kinerja RD Saham -7,12 persen, begitu pula Februari IHSG -8,20 persen dan RD saham -7,23 persen.

Kemudian, kondisi semakin diperparah datangnya wabah Covid-19 di awal Maret yang membuat kinerja pasar saham di bulan ini -16,76 persen sehingga reksadana saham juga anjlok 15,96 persen. Akan tetapi, setelah penurunan dalam tersebut, IHSG dan reksadana saham mulai rebound. Sejak April 2020 reksadana saham berhasil bangkit dan mencetak imbal hasil positif sebesar 2,85 persen. Ketika itu, IHSG juga mulai merayap naik 3,91 persen.

Kemudian pada bulan-bulan berikutnya reksadana saham terus mencetak return positif, berturut-turut 0,81 persen (Mei), 3,72 persen (Juni), 2,98 persen (Juli), dan 1,39 persen (Agustus). Sayangnya, kondisi kembali berbalik pada September ini yang mana sepanjang bulan berjalan hingga 25 September 2020 IHSG -5,59 persen, begitu pula return reksadana saham saham -5,82 persen. Pun, sepanjang tahun berjalan IHSG -21,49 persen dan RD saham -23,41 persen.

Infovesta mengatakan kinerja pasar saham Indonesia di sepanjang tahun 2020 mengalami tekanan akibat preferensi risiko investor yang berubah semenjak pandemi Covid-19 masuk ke Indonesia. Selain itu capital outflow yang dilakukan oleh asing secara besar-besaran membuat IHSG tidak mampu menahan derasnya aksi net sell pihak asing. Hingga 25 September 2020, net foreign sell tercatat Rp14,17 triliun (MtD) dan Rp42,21 triliun (YtD).

“Beragam sentimen dan ketidakpastian membuat investor asing cenderung beralih kepada instrumen investasi yang lebih aman dan menghindari investasi di negara berkembang seperti di Indonesia,” tulis tim riset Infovesta dalam publikasinya, Senin (28/9/2020).

Hingga akhir September, kinerja saham diyakini masih mengalami tekanan. Salah satunya disebabkan oleh kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diproyeksikan oleh Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) pada 16 September lalu -3,3 persen yoy, lebih buruk dari proyeksi sebelumnya -2,8 persen yoy. “Hal tersebut diperburuk dengan diberlakuannya kembali pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang membuat pemulihan ekonomi di Indonesia semakin terhambat,” kata Infovesta.

Doku dan OVO

Platform pembayaran asal Inggris, PPRO, mengumumkan langkah ekspansinya di Indonesia. Mereka masuk ke pasar Indonesia dengan mengintegrasikan metode pembayaran e-commerce Doku dan OVO. Dilansir Kontan, PPRO mengklaim akan menawarkan akses pembayaran paling sederhana dan paling efisien di pasar e-commerce Indonesia. Ini menandai tonggak penting dalam ekspansi PPRO di seluruh Asia Pasifik.

Menurut laporan terbaru, pasar e-commerce di Indonesia tumbuh 50 persen pada 2020, dengan banyak konsumen menggunakan toko online untuk pertama kalinya tahun ini karena pandemi. Integrasi yang dijalankan PPRO ini akan memungkinkan pelanggan pembayaran internasional dan pedagang online untuk meningkatkan pendapatan mereka dari konsumen Indonesia. Mengingat, jangkauan gabungan Doku dan OVO sangat besar di dalam negeri.

Doku dan OVO masing-masing dianggap sebagai salah satu aplikasi dompet elektronik teratas di Indonesia. Untuk mendukung keragaman preferensi pembayaran di Indonesia, integrasi ini akan menawarkan empat jenis layanan pembayaran yakni dompet elektronik (e-wallet), internet banking, transfer bank, dan uang tunai bagi konsumen yang lebih suka membayar di ATM dan toko swalayan.

Kelvin Phua, Global Head of Payment Networks PPRO, mengatakan Indonesia adalah pasar strategis bagi pelanggan papan atas dan para pelanggan pedagang online PPRO. Para pelanggan ini tengah terdesak untuk bisa melebarkan sayapnya lebih cepat dari sebelumnya setelah pandemi terjadi.

Indonesia juga salah satu negara yang paling kompleks terkait kepatuhan, peraturan, dan preferensi konsumen. "Oleh karena itu, kami
senang menawarkan metode pembayaran dan pengelolaan transaksi pembayaran lintas negara yang lebih mudah,” ujar Phua.

(*)

Pilihan Investasi di Bareksa

Klik produk untuk lihat lebih detail.

Empty Illustration

Produk Belum Tersedia

Ayo daftar Bareksa SBN sekarang untuk bertransaksi ketika periode pembelian dibuka.

Video Pilihan

Lihat Semua

Artikel Lainnya

Lihat Semua