Saham Melonjak Seiring Penjualan di Januari Positif, Ini Target Harga UNTR

Harga Saham UNTR ditutup melonjak 5,47 persen berakhir di level Rp27.950 per saham akhir pekan lalu
Bareksa • 25 Feb 2019
cover

Alat Berat Komatsu Milik PT United Tractors Tbk (UNTR)

Bareksa.com - Harga saham PT United TractorsTbk (UNTR) pada perdagangan Jumat, 22 Februari 2019 ditutup melonjak 5,47 persen berakhir di level Rp27.950 per saham.

Saham UNTR bergerak sangat atraktif pada perdagangan akhir pekan lalu dan menempati peringkat kedua saham dengan nilai transaksi perdagangan terbesar di bursa yang mencapai Rp515,81 miliar.

Berdasarkan aktivitas broker summary, tiga broker teratas yang paling banyak membeli saham UNTR pada perdagangan Jumat antara lain Deutsche Sekuritas (DB) senilai Rp117,47 miliar, UBS Sekuritas (AK) Rp106,51 miliar, dan Macquarie Sekuritas (RX) Rp50,36 miliar.

Nilai pembelian ketiga broker tersebut berkontribusi terhadap nilai transaksi keseluruhan saham UNTR masing-masing 22,77 persen, 20,65 persen, dan 9,76 persen.

Kinerja Operasional Januari 2019

PT United Tractors Tbk (UNTR) melaporkan pertumbuhan kinerja operasional secara tahunan pada Januari 2019.

Berdasarkan laporan operasional perseroan Januari 2019, anak usaha grup Astra tersebut mencatat pertumbuhan di atas 10 persen secara tahunan untuk penjualan alat berat merek Komatsu, produksi batu bara, serta volume pengupasan lapisan penutup batu bara atau overburden removal (OB).

Secara detail, UNTR mencatatkan penjualan alat berat merek Komatsu 465 unit pada Januari 2019, naik 14,81 persen dari 405 unit pada Januari 2018.

Di sisi lain, volume produksi batu bara dan volume OB lewat PT Pamapersada Nusantara (PAMA) naik 25 persen secara tahunan dari 7,6 juta ton pada Januari 2018 menjadi 9,5 juta ton pada Januari 2019.

Adapun, volume OB tercatat tumbuh 11,09 persen secara tahunan pada Januari 2019. Total volume OB pada bulan pertama tahun ini mencapai 74,1 juta bank cubic meter (BCM).

Sejalan dengan capaian Januari 2019, Investor Relations United Tractors Ari Setiyawan mengatakan pihaknya optimistis dapat mencapai target operasional tahun ini.

“Kami berharap dapat mempertahankan kinerja yang baik ditambah adanya tambang emas Martabe,” ujarnya, Jumat (22/02/2019) seperti dilansir Bisnis.

Ari menjelaskan penjualan alat berat merek Komatsu pada Januari 2019, terdongkrak oleh penjualan ke pelanggan yang telah melakukan pemesanan sebelumnya. Sebagian besar pesanan yang masuk digunakan untuk pergantian alat berat lama.

Sebagai catatan, UNTR memangkas target penjualan alat berat dari 4.900 unit menjadi 4.000 unit di 2019. Hal itu sejalan dengan aktivitas di sektor pertambangan.

Target dipangkas setelah mempertimbangkan dinamika harga batu bara, khususnya kalori rendah. Pada awal Januari 2019, komoditas itu berada di level sekitar US$30-US$31 per ton.

Selain itu, lanjut Ari, ada rencana pemerintah untuk mengurangi produksi batu bara nasional ke level 490 juta ton. Kondisi itu diprediksi akan berdampak terhadap penurunan permintaan alat berat dari sektor pertambangan.

“Kendati demikian, pembatasan produksi batu bara nasional diharapkan dapat menstabilkan harga batu bara khususnya kalori rendah,” imbuhnya.

PAMA disebut tengah melakukan beberapa inisitiatif untuk memitigasi dampak dari musim penghujan agar tetap dapat menggenjot produksi batu bara serta pekerjaan OB. Strategi yang ditempuh di antaranya memperbaiki kualitas jalan pengangkutan atau hauling road, serta front penambangan dan disposal area sehingga down time akibat hujan yang turun dapat dikurangi.

“Target produksi batu bara dan volume OB tahun ini diharapkan dapat dipertahankan di level yang sama dengan tahun lalu,” jelas Ari.

Sementara itu, dia menyebutkan penjualan batu bara sekitar 772.000 ton pada Januari 2019, tumbuh sekitar 4 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Tetapi, angka itu masih di bawah target 2019. UNTR membidik penjualan batu bara tumbuh 28 persen tahun ini.

Realisasi penjualan batu bara di bawah target akibat beberapa faktor, salah satunya kendala logistik untuk pengangkutan batu bara melalui sungai.

“Sekiranya cuaca ke depan lebih kondusif dan kendala logistik berkurang, kami berkeyakinan dapat mencapai target penjualan batu bara tahun ini sebesar 9 juta ton,” papar Ari.

Secara terperinci, target penjualan coking coal sekitar 1,5 juta ton dari total 9 juta ton. Pada 2018, realisasi penjualan komoditas itu sekitar 800.000 ton dari 7 juta ton.

Dengan demikian, sisa dari target 9 juta ton atau sebanyak 7,5 juta ton dibidik dari thermal coal. Seperti diketahui, UNTR menjalankan bisnis penjualan batu bara melalui entitas anak PT Tuah Turangga Agung (TTA).

Analisis Teknikal Saham UNTR

Menurut analisis Bareksa, secara teknikal candle saham UNTR pada perdagangan Jumat membentuk bullish candle dengan body yang cukup besar disertai short upper shadow.

Kondisi tersebut menggambarkan saham ini bergerak positif dalam rentang yang cukup lebar, hingga mampu berakhir dua tick di bawah level tertingginya.

Volume terlihat mengalami lonjakan sangat signifikan dibandingkan dengan sehari sebelumnya, menandakan adanya akumulasi beli serta antusiasme yang besar dari pelaku pasar.

Kemudian investor asing juga tampak sangat banyak mengoleksi saham UNTR dengan mencatatkan pembelian bersih (net buy) senilai Rp187,82 miliar, atau yang terbesar dibandingkan seluruh saham lain di bursa.

Apabila diperhatikan, pergerakan saham UNTR terlihat sudah mengalami rally penguatan dalam dua hari beruntun di sekitar area bottomnya. Kemudian garis MA 5 sudah terjadi golden cross dengan MA 20 menandakan adanya potensi rally lanjutan.

(KA01/AM)

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui saham mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami kinerja keuangan saham tersebut.