Berita / Kategori / Artikel

Daftar Produk Reksadana Rekomendasi Bareksa April 2018

Investor reksadana yang sudah menjadi nasabah di marketplace Bareksa, tidak perlu bingung untuk mencari produk terbaik
• 04 Apr 2018
cover

Ilustrasi nasabah membuka aplikasi Bareksa di telepon genggam dan laptop. (Bareksa/Hanum)

Bareksa.com - Kinerja pasar keuangan sepanjang triwulan pertama tahun ini terpantau melemah, akibat tekanan yang terjadi pada Maret 2018. Maka dari itu, investor yang memiliki reksadana perlu mengatur strategi untuk mengamankan investasinya.

Sentimen dari pasar global dan kondisi ekonomi dalam negeri yang tumbuh melambat menjadi sejumlah faktor pembuat pasar saham dan obligasi Indonesia tertekan sepanjang Maret. Dari dalam negeri, inflasi masih stabil yang menunjukkan masyarakat masih menahan diri untuk konsumsi.

Dari luar negeri, terdapat sentimen kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat Fed Rate sebanyak 4 kali tahun ini. Hal itu menimbulkan risiko ketidakstabilan global yang mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah dibandingkan indeks acuan bursa negara-negara lain di ASEAN.

Berdasarkan data bursa yang diolah Bareksa, sepanjang bulan Maret, IHSG sudah melemah 6,19 persen. Hal ini seiring dengan keluarnya dana asing dari pasar saham sebesar Rp14,72 triliun dalam sebulan.

Sementara itu, pasar obligasi juga sudah melemah yang tercermin dari peningkatan yield. Kembali naiknya yield benchmark obligasi pemerintah tenor 10 tahun membuat pasar obligasi Indonesia kembali menarik jika dibandingkan dengan yield obligasi Amerika (US Treasury).

Dengan kondisi pasar seperti ini, langkah apa yang perlu diambil oleh investor, khususnya pemegang reksa dana? Berdasarkan analisis Bareksa, di tengah pasar keuangan yang melemah, produk-produk dengan risiko rendah (termasuk reksadana pendapatan tetap dan pasar uang) secara umum mampu bertahan.

Menurut data Marketplace Bareksa, lebih dari 50 persen produk-produk jenis pendapatan tetap syariah dan pasar uang mampu mengalahkan tingkat keuntungan acuannya (benchmark). Sedangkan untuk produk risiko tinggi (reksadana campuran dan saham), hanya 27 – 37 persen dari setiap jenis produk yang mampu mengalahkan indeks acuannya.

Oleh karena itu, dengan kondisi pasar yang cenderung bearish, analis Bareksa menyarankan untuk beralih ke produk reksadana pasar uang dalam jangka pendek. Adapun bagi investor yang sudah memegang produk reksadana dengan risiko lebih tinggi yakni pendapatan tetap, saham dan campuran, inilah saatnya untuk membeli (top up) agar potensi penurunan harga bisa diminimalisir.

Rekomendasi Bareksa

Investor reksadana, terutama yang sudah menjadi nasabah di marketplace Bareksa, tidak perlu bingung untuk mencari produk reksadana yang bagus. Sebab Bareksa telah mengeluarkan riset yang merekomendasikan sejumlah produk terbaik yang bisa dibeli di marketplace reksadana Bareksa.

Dalam membuat rekomendasi ini, tim analis riset Bareksa mempertimbangkan empat hal.

Pertama, pemilihan didasarkan pada kinerja reksadana terbaik dalam periode 1 tahun dan sejak awal tahun (year to date/YTD) hingga riset ini ditulis menggunakan data per 20 Maret 2018.

Reksadana yang baik tidak semata membuat return atau keuntungan besar saja, tetapi harus sejalan dengan risiko yang ditanggungnya (risk adjusted return/RAR). Karena itu, produk dengan nilai RAR tinggi tentu bisa menawarkan keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan risikonya.

Kedua, reksadana memiliki konsistensi dalam menghasilkan kinerja berdasarkan nilai konsistensi beating index (KBI), yang merupakan indikator untuk melihat seberapa konsisten suatu produk reksa dana dalam mengalahkan benchmark atau acuan jenisnya di setiap bulannya.

Semakin tinggi persentase KBI maka semakin baik, sebab semakin sering produk tersebut mengalahkan acuannya di setiap bulan. Yang dimaksud mengalahkan benchmark atau acuan adalah seperti contoh berikut :

- Per Januari, produk reksadana pendapatan tetap A tumbuh 1 persen (vs indeks reksa dana pendapatan tetap tumbuh 0,8 persen).
- Per Februari, produk reksadana pendapatan tetap A melemah 1 persen (vs indeks reksadana pendapatan tetap melemah 1,5 persen).

Misalnya, produk reksadana pendapatan tetap A mempunyai presentase KBI di 2017 sebesar 75 persen artinya reksadana pendapatan tetap A mampu mengalahkan benchmark-nya selama 9 bulan dari 12 bulan di 2017.

Ketiga, reksadana yang masuk rekomendasi memiliki portofolio yang berkorelasi positif dengan perkembangan makro dan mikro ekonomi.

Keempat, reksadana pilihan juga harus memiliki tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance), berdasarkan interview yang dilakukan Bareksa.

Berdasarkan empat kriteria tersebut, terdapat dua produk reksadana pasar uang yang mendapat rekomendasi. Adapun untuk jenis reksadana pendapatan tetap ada dua produk, untuk jenis campuran ada dua produk, serta jenis saham ada tiga produk.

Reksadana Pasar Uang

Dua produk reksadana pasar uang yang mendapat rekomendasi Bareksa ternyata bisa mengalahkan indeks 100 persen sepanjang setahun terakhir.

Setahun terakhir (per 20 Maret 2018), kedua reksadana ini bisa mengalahkan indeks reksadana pasar uang yang hanya memberikan keuntungan 4,2 persen. Produk Sucorinvest Money Market Fund mampu membukukan return 7,77 persen setahun dan Syailendra Dana Kas bisa memberikan untung 6,66 persen.

Reksadana Pendapatan Tetap

Kedua produk reksadana pendapatan tetap ini mampu mengalahkan indeks acuannya yang mencatat return 5,67 persen dalam setahun terakhir (per 20 Maret 2018). Manulife Obligasi Negara Indonesia II bisa memberi keuntungan 9,28 persen setahun. Kemudian, Syailendra Pendapatan Tetap Premium - yang belum genap berumur setahun pada 20 Maret 2018 - bisa membukukan kinerja positif 2,16 persen secara YTD, sementara indeks reksadana pendapatan tetap minus 1,04 persen.

Reksadana Saham

Tiga produk reksadana pilihan Bareksa untuk kategori saham ini memang memiliki KBI yang kurang dari 75 persen dalam setahun terakhir. Namun, ketiganya mampu mengalahkan IHSG secara YTD (per 23 Maret 2018) yang mencatat return minus 2,28 persen. Sucorinvest Maxi Fund yang menjadi jawara kelompok ini bahkan memberi keuntungan 12,06 persen sejak awal tahun dan memberi 21,06 persen setahun terakhir.

Reksadana Campuran

Dua produk rekomendasi Bareksa ini mampu mengalahkan IHSG dan indeks acuannya baik secara YTD (per 23 Maret 2018) maupun selama setahun terakhir (23 Maret 2018). Sucorinvet Flexi Fund bisa memberi keuntungan 20,49 persen setahun dan Schroder Dana Terpadu II mencatat return 17,39 persen, dibandingkan IHSG yang naik 11,63 persen dan indeks reksadana campuran yang hanya naik 3,5 persen.

**

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksa dana, klik tautan ini
- Pilih reksa dana, klik tautan ini
- Belajar reksa dana, klik Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksa dana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksa dana.

Tags: