Berita / Kategori / Artikel

Pendiri Tunaiku: Fintech Bisa Ubah Model Bisnis Bank di Indonesia

Populasi Indonesia saat ini sekitar 240 juta, hanya 20 persen yang sudah terjangkau oleh bank
• 08 Aug 2016
cover

Vishal Tulsian, Direktur Bank Amar Indonesia dan pendiri Tunaiku dalam wawancara bersama Bareksa. Tunaiku adalah salah satu produk fintech yang menyediakan kredit tanpa agunan untuk kelas menengah Indonesia.

Bareksa.com - Semakin banyak orang yang bisa mengakses internet. Di Indonesia, data dari Kementerian Komunikasi dan Informasi menunjukkan jumlah pengguna internet sebanyak 82 juta orang, sekitar sepertiga dari populasi negara ini. Selain itu, ponsel pintar (smartphone) menjadi perangkat yang populer untuk mengakses internet. Emarketer memprediksi pada 2018, jumlah pengguna aktif smartphone di Indonesia akan mencapai 92 juta orang.

Pertumbuhan pengguna internet dan ponsel pintar tersebut menjadi kesempatan bagi perusahaan teknologi yang menyediakan jasa keuangan (financial technology/fintech). Masyarakat pun, terutama yang belum terjangkau oleh bank, bisa menggunakan layanan fintech untuk kebutuhan keuangan mereka. Data World Bank mencatat penetrasi populasi di atas 15 tahun yang memiliki rekening sebesar 36 persen pada 2014.

Bareksa berkesempatan mewawancarai dengan Vishal Tulsian, Direktur Bank Amar Indonesia yang juga menginisiasi pembentukan Tunaiku, sebuah produk fintech yang telah diluncurkan sejak 2014. Bagaimana prospek dari industri fintech di Indonesia pada masa depan dan apa saja yang bisa dikembangkan untuk mempermudah orang menikmati jasa keuangan? Simak petikan wawancaranya berikut ini.

***

Banyak potensi besar datang dari populasi pengguna internet di Indonesia. Bagaimana industri keuangan dan bank dapat menangkap potensi ini?

Penetrasi internet di Indonesia sangat besar. Hal ini bisa menjadi potensi pengembangan fintech di Indonesia. Perlu saya sampaikan kegunaan fintech secara luas terlebih dahulu. Fintech di dunia Barat yang sudah maju berbeda kegunaannya dengan di dunia bagian Timur, termasuk Indonesia. Di dunia Barat, fintech digunakan untuk mendukung efisiensi karena sebagian besar masyarakatnya sudah dapat mengakses perbankan. Teknologi sendiri digunakan untuk meningkatkan efisiensi. Akan tetapi, di Indonesia, fintech berguna untuk menjangkau pasar yang masyarakatnya banyak belum tersentuh layanan perbankan sebelumnya. Populasi Indonesia saat ini sekitar 240 juta, hanya 20 persen yang sudah terjangkau oleh bank sementara 80 persen masih belum terjangkau (unbanked). Idealnya, fintech dapat mengubah model bisnis perbankan di Indonesia.

Dapatkan anda memberikan gambaran bagaimana potensi perubahan model bisnis tersebut di masa depan?

Fintech mencoba untuk melakukan fungsi yang sebelumnya ada di bank secara terpisah. Secara umum, sebuah bank memiliki tiga fungsi utama. Pertama, adalah untuk menyimpan uang atau menabung (deposit). Kedua, membantu memindahkan uang dari satu orang ke orang lain dalam transaksi atau transfer. Ketiga, bila orang memiliki arus kas, bank bisa memberikan pinjaman. Satu bank bisa memberi uang, sekaligus menjadi tempat menabung dan melakukan transfer.

Namun, fintech memungkinkan satu entitas fokus melakukan satu fungsi saja. Misalnya, ada fintech yang berfungsi melayani transfer saja, seperti dompet berjalan. Atau ada fintech yang menyalurkan pinjaman khusus untuk kredit pemilikan rumah saja (KPR), atau pinjaman untuk pendidikan saja, atau modal kerja saja. Begitulah masa depan dunia ini. Satu fintech hanya melayani transfer dari satu poin ke poin lain. Hal ini justru membuat kita lebih mudah untuk mentransfer uang.

Amar Bank meluncurkan produk fintech bernama Tunaiku pada 2014. Segmen pasar mana yang menjadi target dari produk ini?

Tunaiku menyasar orang yang tidak memiliki jalur lain untuk meminjam uang hingga Rp10 juta. Ada pasar yang ingin meminjam antara Rp2-10 juta, tetapi tidak ada channel, terlepas dari persetujuan regulator untuk mengizinkan channel perbankan. Biasanya, orang dalam segmen ini meminjam uang dari saudara atau bahkan lintah darat. Di sisi lain, populasi kelas menengah tumbuh signifikan. Menurut data Mackenzie, sekitar 90 juta orang akan masuk kategori kelas menengah pada tahun 2025. Hal ini berarti semakin banyak orang yang menginginkan untuk membeli barang seperti kulkas, microwave, atau benda populer lainnya. Selain itu, ada juga orang yang menginginkan pendidikan tinggi bagi anak mereka tetapi tidak bisa membayar biaya dalam satu kali waktu, tetapi bisa mencicilnya dalam 12 bulan. Mereka juga membutuhkan uang untuk membayar biaya dokter dalam keadaan darurat. Inilah pasar yang membutuhkan uang tunai. Inilah model bisnis kami, dan kami dapat menjangkau pasar ini. Jadi pasar kami adalah mereka yang butuh pinjaman konsumsi, tanpa agunan bernilai Rp10 juta untuk jangka waktu hingga 12 bulan.

Apa yang menjadikan jasa Tunaiku ini menarik bagi konsumen?

Ketersediaan. Bila orang  butuh Rp5 juta, mereka tidak bisa mendapatkannya tanpa agunan, apalagi bila mereka tidak memiliki kartu kredit. Orang kelas menengah atas bisa dengan mudah meminjam Rp5 juta dengan kartu kredit. Tetapi kami ingin menyediakan dana bagi mereka yang tidak punya kesempatan memiliki kartu kredit.

Sejak diluncurkan, sudah berapa nasabah yang menikmati produk Tunaiku?

Awalnya, kami mencatat sekitar 100 nasabah per bulan. Lalu angka tersebut tumbuh lebih cepat daripada yang kami perkirakan hingga saat ini mencapai 500-600 nasabah per bulan. Kami sudah memiliki 25.000 nasabah hingga saat ini. Kami menerima aplikasi pengajuan lebih dari 1.000 dalam sehari. Padahal, dulu 1.000 aplikasi dalam sebulan, kini sudah meningkat jadi 1.000 dalam sehari. Sebagian besar nasabah berada di Jabotabek, Surabaya. Daerah dekat kantor cabang kami beroperasi.

Berapa jumlah yang sudah disalurkan melalui program Tunaiku?

Rata-rata satu nasabah saat ini mengajukan Rp6-7 juta. Bila dikalikan dengan total 25.000 nasabah, total penyaluran kami sekitar Rp150-Rp175 miliar.

Apakah ada rencana untuk memperluas layanan hingga ke daerah lain, khususnya bagian Timur Indonesia?

Tentu ada, itu adalah rencana kami. Itulah tujuan dari pengembangan fintech ini. Kami ingin menjangkau pasar yang belum pernah tersentuh sebelumnya.

Bagaimana regulasi di Indonesia dapat mendukung perkembangan fintech di masa depan?

Fintech adalah sebuah hal baru di Indonesia. Wajar bila peraturan sedikit tertinggal dibandingkan perkembangan fintech ini. Sejauh ini, regulator sudah sangat mendukung. Saat ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sedang menyusun aturan khusus tentang fintech. Kami juga ikut diajak untuk berdiskusi. Prospek industri ini bagus ke depan, sehingga regulasi sangat penting agar tetap menjaganya berjalan di jalur yang benar.

Strategi dan langkah apa yang diambil oleh Amar Bank untuk meningkatkan pangsa pasar di Indonesia?

Kami sudah bekerja sama dengan Tokopedia, salah satu e-commerce terbesar di Indonesia. Para merchant yang ada di Tokopedia bisa dengan mudah mengajukan aplikasi pinjaman kepada kami. Tokopedia memiliki lebih dari 100.000 merchant, dan mereka adalah pengusaha kecil menengah yang butuh dana tetapi belum banyak tersentuh oleh bank. Padahal, seperti kita ketahui, usaha kecil menengah atau UKM ini yang menopang ekonomi Indonesia.

Banyak UKM yang masih dimiliki oleh individu, berbeda dengan perusahaan besar yang berdiri dengan badan hukum Perseroan Terbatas atau PT. Para pengusaha UKM inilah yang menjadi potensi pasar untuk kredit tanpa agunan. Misalkan, mereka butuh dana sekitar Rp80 juta. Bank konvensional bisa memberi pinjaman dengan agunan tetapi mereka tidak memiliki harta sebesar itu. Mereka hanya memiliki rumah yang harganya jauh di atas kebutuhan dana mereka. Oleh sebab itu, penyedia pinjaman tanpa agunan bisa masuk ke segmen ini.

Apakah Amar Bank akan meluncurkan produk fintech lainnya dalam waktu dekat?

Ya, kami memikirkan untuk membuat produk yang khusus transaksi, seperti halnya dompet berjalan (mobile wallet). Banyak orang punya ponsel tetapi tidak punya rekening bank, kami bisa menyentuh area ini. Jadi, uang disimpan dalam bentuk seperti pulsa HP. Mereka bisa bertransaksi, seperti mengirimkan pulsa. Tidak perlu uang tunai, bank, ATM, atau kartu debit. Hanya cukup sebuah ponsel dan kita bisa bertransaksi. Saat ini kami sedang mengajukan kerja sama dengan beberapa operator seluler di Indonesia.

Tags: