Tapering dimulai, era 'uang mudah' berakhir sudah
Apa saja dampak keputusan pengurangan stimulus yang diambil The Fed?
Apa saja dampak keputusan pengurangan stimulus yang diambil The Fed?
Bareksa.com - Ketidakpastian akan tapering (pemangkasan stimulus) akhirnya berakhir. Dalam laporannya, Viktor Shvets, analis dari Macquarie Capital Securities Ltd, mengingatkan para investor bahwa keputusan The Fed ini akan diimbangi dengan kebijakan moneter dari negara-negara lain untuk meredam volatilitas dari pergerakan mata uang masing-masing.
Sebetulnya, masih menurut Shvets, kebijakan bank sentral Amerika Serikat ini cukup berisiko karena beberapa indikator ekonomi Amerika masih berada di bawah target, seperti inflasi dan tingkat pengangguran. Hingga Oktober 2013, inflasi masih sekitar 1,1 persen di bawah target The Fed sebesar 2 persen. Sedangkan, yield obligasi 10 tahun meningkat 6 basis poin menjadi 2,89 persen. Tingkat pengangguran memang turun sebesar 7 persen di bulan November, seiring dengan penambahan jumlah tenaga kerja sebesar 203 ribu.
The Federal Reserve, dalam rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada Rabu, 18 Desember 2013, mengumumkan memangkas pembelian aset bulanan sebesar USD10 miliar, menjadi USD75 miliar, serta mempertahankan tingkat suku bunga acuan di level rendah dalam waktu yang lebih lama untuk merangsang pertumbuhan ekonomi. Stimulus akan kembali dikurangi jika data tenaga kerja lebih baik dari yang diperkirakan. Program tersebut akan sepenuhnya dihentikan pada akhir 2014.
Promo Terbaru di Bareksa
Gubernur The Fed, Ben Shalom Bernanke, mengatakan bahwa ekonomi memang belum pulih sempurna, tetapi diharapkan periode pertumbuhan ekonomi yang normal akan segera terlihat. Ia juga telah merundingkan keputusan tersebut dengan Wakil Gubernur The Fed, Janet Yellen yang akan menggantikan Bernanke tanggal 31 Januari 2014, di mana Yellen mendukung keputusan Bernanke saat ini.
The Fed mengatakan pembelian bulanan untuk hipotek dan obligasi Treasury juga akan dipangkas sebesar USD5 miliar mulai bulan Januari 2014. Hal ini menyebabkan harga obligasi Treasury Amerika jatuh. Kepala strategi investasi Brown Brothers Harriman Wealth Management mengomentari bahwa langkah tersebut sudah tepat dilakukan, bukan sesuatu yang besar, serta menunjukkan bahwa The Fed tidak terburu-buru melakukan tapering demi mendukung stabilitas perekonomian.
Dikutip Kontan.com, Edwin Sebayang, analis MNC Securities, mengatakan saat ini yang perlu dicermati investor adalah Fed Rate, bukan lagi pembatasan stimulus. Karena jika Fed Rate dinaikkan, maka sudah pasti hot money yang selama ini bergerak di bursa lokal akan menghilang. Reza Priyambada, analis Trust Securities memberikan pandangan senada. Investor sudah mendapatkan kepastian, yang selama ini dinanti-nanti. Perry Warjiyo, Deputi Gubernur Bank Indonesia, sebagaimana dilaporkan SeputarForex.com, mengemukakan sikap The Fed makin memperjelas pola kebijakan di Amerika yang ditujukan untuk membantu keseimbangan perekonomian mereka. Pemerintah Indonesia sendiri meyakini kebijakan itu tidak akan berdampak negatif terhadap stabilitas pasar finansial dan ekonomi nasional.
Namun, analis First Asia Capital, David Sutyanto, mengingatkan, paska keputusan The Fed, pelaku pasar untuk kembali fokus pada kondisi makro ekonomi domestik seperti ancaman membesarnya defisit transaksi berjalan tahun depan. (kd)
Pilihan Investasi di Bareksa
Klik produk untuk lihat lebih detail.
| Produk Eksklusif | Harga/Unit | 1 Bulan | 6 Bulan | YTD | 1 Tahun | 3 Tahun | 5 Tahun |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
Trimegah Dana Obligasi Nusantara autodebet | 1.202,9 | ||||||
Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A | 1.160,86 | - | - | ||||
STAR Stable Amanah Sukuk autodebet | 1.193,29 | - | - | ||||
Eastspring Syariah Mixed Asset Fund Kelas A | 1.016,14 | - | - | - |
Produk Belum Tersedia
Ayo daftar Bareksa SBN sekarang untuk bertransaksi ketika periode pembelian dibuka.
Ayo daftar Bareksa SBN sekarang untuk bertransaksi ketika periode pembelian dibuka.



