IHSG Menguat Meski Ditekan Aksi Jual Asing, Reksadana Saham Juara Cuan

Investor asing tercatat menorehkan aksi jual bersih (net sell) senilai R842,84 miliar di pasar reguler kemarin
Abdul Malik • 21 Jun 2022
cover

Ilustrasi investor memantau perkembangan pasar saham melalui ponsel. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat meskipun ditekan aksi jual asing (net sell) sehingga mendongkrak kinerja reksadana berbasis saham seperti reksadana saham, reksadana indeks dan reksadana campuran. (Shutterstock)

Bareksa.com - Mengawali perdagangan pekan keempat Juni 2022, pasar saham Tanah Air mampu berakhir di zona hijau setelah sempat anjlok lebih dari 1 persen pada sesi pertama perdagangan.

Pada perdagangan Senin (20/6/2022), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup dengan kenaikan 0,57 persen ke level 6.976,38. Aktivitas perdagangan tergolong ramai dengan nilai transaksi mencapai Rp14,85 triliun, di mana investor asing tercatat menorehkan aksi jual bersih (net sell) senilai R842,84 miliar di pasar reguler.

IHSG yang sempat terkoreksi kemudian berhasil rebound terjadi di saat kondisi global yang masih belum menentu, membuat investor cenderung masih berhati-hati untuk belanja saham.

Dari bursa Asia-Pasifik, kemarin pergerakannya terpantau bervariasi, di mana indeks Nikkei Jepang melemah 0,74 persen, Shanghai Composite China turun tipis 0,04 persen, ASX 200 Australia terkoreksi 0,64 persen, dan KOSPI masih ambruk 2,04 persen.

Sedangkan indeks Hang Seng Hong Kong menguat 0,42 persen, Straits Times Singapura naik tipis 0,01 persen, dan IHSG juga menghijau.

Dari Amerika Serikat (AS), pada perdagangan akhir pekan lalu, bursa saham AS atau Wall Street secara mayoritas menguat. Hanya indeks Dow Jones yang masih melemah 0,13 persen.

Sedangkan indeks S&P 500 dan Nasdaq berhasil rebound. S&P 500 menguat 0,22 persen, sedangkan Nasdaq melonjak 1,43 persen.

Namun, secara keseluruhan, S&P masih anjlok 5,8 persen sepanjang pekan lalu. Pelemahan tersebut adalah yang terbesar sejak Maret 2020 atau saat periode awal pandemi Covid-19.

Dow Jones sepanjang pekan lalu juga masih ambles 4,8 persen, yang merupakan penurunan terbesar sejak Oktober 2020. Pada Kamis pekan lalu, untuk pertama kalinya sejak Januari 2021, Dow Jones juga ditutup di bawah 30.000.

"Pekan ini bisa dibilang brutal... Saya bilang kita sedang mengalami resesi... ini resesi ringan, bukan resesi resmi menurut definisi NBER, pastinya belum, tapi semester pertama ini pertumbuhan ekonomi sudah negatif," tutur profesor Wharton Business School Jeremy Siegel kepada CNBC International.

Bursa AS menjalani pekan yang sangat berat pada pekan lalu dipicu kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed), tingginya inflasi, dan ancaman resesi.

Lonjakan inflasi membuat pasar khawatir The Fed akan mengambil kebijakan yang lebih agresif. Kebijakan tersebut dikhawatirkan bisa memukul perekonomian AS dan membawa Paman Sam ke lembah resesi.

Kekhawatiran resesi semakin kuat setelah indikator ekonomi AS yang dikeluarkan pada pekan lalu memburuk, termasuk penjualan ritel dan pembangunan rumah baru.

Penjualan ritel dan layanan konsumsi makanan terkontraksi 0,3 persen (month on month/mom) pada Mei tahun ini. Data ini di bawah ekspektasi pasar yang memproyeksikan penjualan bakal tumbuh 0,1 persen.

Data tersebut juga berbanding terbalik dibandingkan yang tercatat di April di mana penjualan ritel dan layanan konsumsi makanan masih tumbuh 0,7 persen.

Sementara itu, pembangunan rumah baru di AS melemah 14,4 persen pada Mei menjadi 1,55 juta. Pembangunan rumah baru tersebut menjadi yang terendah sejak April 2020.

Reksadana Saham Dominasi Return Harian

Kondisi pasar saham Indonesia yang bergerak positif pada perdagangan kemarin, secara umum turut mendorong kinerja reksadana berbasis saham.

Berdasarkan data Bareksa, indeks reksadana saham berhasil terapresiasi 0,3, namun indeks reksadana saham syariah justru masih terkoreksi tipis 0,06 persen.

Sumber : Bareksa

Kemudian secara lebih rinci, produk reksadana saham memang terlihat mendominasi kinerja positif dengan return harian tertinggi pada perdagangan kemarin.

Sumber : Bareksa

Berdasarkan top 10 return tertinggi pada perdagangan kemarin, 5 diantaranya ditempati oleh reksadana jenis saham, kemudian disusul oleh reksadana indeks & ETF sebanyak 3 produk, dan reksadana campuran sebanyak 2 produk.

Reksadana dengan cuan tertinggi tersebut di antaranya Schroder Dana Prestasi dengan imbalan 1,19 persen sehari, Mega Asset Greater Infrastructure dengan imbal hasil 1,15 persen, Sucorinvest Citra Dana Berimbang dengan cuan 1,09 persen, Schroder Dana Prestasi Plus dengan return 1,04 persen dan Reksa Dana Indeks Avrist IDX30 dengan imbalan 1 persen. Selengkapnya dalam daftar top 10 cuan tertinggi sebagaimana tertera dalam tabel.

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

Reksadana saham adalah reksadana yang mayoritas aset dalam portofolionya adalah instrumen aset saham atau efek ekuitas. Reksadana jenis ini berisiko berfluktuasi dalam jangka pendek tetapi berpotensi tumbuh dalam jangka panjang.

Karena itu, reksadana saham yang agresif disarankan untuk investor dengan profil risiko tinggi dan untuk investasi jangka panjang (>5 tahun). Demi kenyamanan berinvestasi, pastikan dulu tujuan keuangan dan profil risiko Anda.

(KA01/Arief Budiman/AM)

 ​***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.