Apa Itu Strategi Investasi Lump Sum? Ini Penjelasannya

Strategi investasi ini bisa digunakan dalam investasi reksadana jangka panjang dengan tren naik
Hanum Kusuma Dewi • 20 Apr 2021
cover

Ilustrasi wanita muda cantik menarik memakai kaca mada berbaju kasual duduk di atas meja kerja sambil tersenyum bahagia. Karyawan bekerja freelance untuk perusahaan kantor milenial digital.

Bareksa.com - Ingin mulai berinvestasi tapi penghasilan tidak tetap karena bukan sebagai pekerja kantoran? Tenang, investasi juga bisa dilakukan oleh seorang pekerja lepas atau freelance sekalipun.

Ada strategi investasi yang bisa digunakan oleh Anda yang menerima penghasilan tidak tetap setiap bulan, seperti freelancer ataupun pemilik toko. Strategi lump sum atau menyetor sekaligus, inilah yang dapat dimanfaatkan bagi yang merasa berpenghasilan tidak tetap.

Investasi lump sum adalah menyetor sejumlah dana besar di awal investasi dan membiarkan uang investasi tersebut bergerak naik turun mengikuti perkembangan pasar, tanpa melakukan tambahan investasi (top up) sampai investor memutuskan untuk mencairkannya.

Pilihan strategi ini efektif memberikan hasil investasi yang baik, jika dilakukan dengan timing yang tepat yaitu saat harga-harga NAB (nilai aktiva bersih) sedang turun pada posisi terendah sehingga memungkinkan investor memperoleh lebih banyak unit investasi pada harga yang lebih murah.

Nah, karena sedang turun, secara logika investasi akan naik kembali (swing) lagi ke posisi sebelumnya bahkan lebih tinggi sehingga memberi hasil yang lebih maksimal. Akan tetapi, posisi terendah tidak selalu dapat diprediksi dengan baik.

Selain itu, investasi dengan model lump sum memerlukan modal yang cukup besar sehingga bisa menyulitkan sebagian calon investor, terutama yang memiliki alokasi investasi pas-pasan.

Sementara itu kelemahan investasi dengan cara ini adalah jika waktu yang digunakan untuk melakukan investasi kurang tepat dan investor tidak berorientasi jangka panjang. Makanya, ketika harga reksadana mengalami penurunan, kerugian yang dialaminya bisa lebih besar.

Karena sulitnya mengetahui waktu yang tepat itu, manajer investasi (MI) yang sudah berpengalaman puluhan tahun sekalipun sulit melakukannya secara konsisten. Cara investasi ini sebaiknya dilakukan oleh investor yang berorientasi jangka menengah dan panjang serta siap menghadapi risiko penurunan harga.

Felicia Putri Tjiasaka, investment coach dalam penjelasannya di investream Bareksa, mengatakan bahwa strategi lump sum sebaiknya digunakan untuk investasi yang memiliki pergerakan tren naik dalam jangka panjang. Untuk jangka pendek, baiknya digunakan dalam investasi berisiko rendah seperti reksadana pasar uang. 

Adapun reksadana saham, yang mayoritas portofolionya adalah saham, bisa berfluktuasi dalam jangka pendek tetapi potensinya tinggi dalam jangka panjang. Reksadana saham cocok untuk investor dengan profil risiko tinggi dan tujuan investasi jangka panjang. 

Demi kenyamanan berinvestasi pastikan dulu tujuan keuangan dan profil risiko Anda ya sebelum memilih strategi investasi pun jenis serta produk reksadana yang akan dipilih.

(Martina Priyanti/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini 

- Beli reksadana, klik tautan ini 

- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store

- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore 

- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.