Ingin Investasi Reksadana Tanpa Ragu? Ukur Kinerjanya dengan Barometer Bareksa

Penilaian dipisahkan berdasarkan jenis dan nilai dana kelolaannya
Abdul Malik • 18 Jan 2021
cover

Ilustrasi investor memantau perkembangan investasinya di reksadana (Shutterstock).

Bareksa.com - Reksadana, salah satu instrumen investasi ini dikenal dengan modal awal yang amat terjangkau bagi investor milenial sekalipun. Tapi tidak sedikit orang yang baru akan memulai investasi reksadana atau sudah berinvestasi, masih bingung bagaimana mengukur baik buruknya kinerja reksadana dengan risiko yang terukur.

Dalam berinvestasi, investor pastinya menginginkan berinvestasi reksadana dapat menghasilkan imbal hasil tinggi dengan risiko rendah. Nah untuk memudahkan investor memilih reksadana yang sesuai dengan keinginan dan profil risikonya, Bareksa menyediakan apa yang disebut "Barometer Bareksa".

Dengan mengakses Bareksa.com, pada menu reksadana, Anda akan mendapati Barometer Bareksa pada kolom Daftar Produk Reksadana, pada setiap jenis reksadana yang ingin ada ketahui jenis-jenis produknya. Ada lima bulatan dari skala 1 sampai 5. Skala 5 adalah peringkat tertinggi dalam Barometer Bareksa, sementara peringkat terendah diberi skala 1.

Bagaimana Barometer Bareksa Mengukur Kinerja Reksadana?

Pertama, Bareksa memisahkan reksadana berdasarkan jenis. Tentu kita ketahui bersama, performa reksadana saham berbeda dengan reksadana pasar uang atau pendapatan tetap. Sehingga, akan tidak adil jika membandingkan reksadana tanpa memperhitungkan jenis reksadana tersebut.

Perlu diketahui, untuk saat ini jenis reksadana yang masuk dalam penilaian Bareksa adalah reksadana saham, campuran, pendapatan tetap, pasar uang, serta Indeks & ETF. Mengingat keterbatasan publikasi data dan ketidakseragaman format, maka Bareksa tidak melakukan penilaian pada reksadana terproteksi dan reksadana penyertaan terbatas.

Kedua, Bareksa memisahkan reksadana berdasarkan nilai dana kelolaan atau asset under management (AUM). Penting untuk diketahui bahwa reksadana dengan dana kelolaan besar (lebih dari Rp500 miliar) biasanya bergerak lebih moderat ketimbang reksadana dengan dana kelolaan kecil (kurang Rp100 miliar).

Hal ini terjadi karena reksadana kelolaan kecil lebih leluasa menentukan alokasi investasi pada instrumen investasi yang lebih fluktuatif seperti saham-saham mid-cap. Sementara itu, reksadana dengan dana kelolaan besar, akan lebih berhati-hati dalam menentukan alokasi investasi karena perubahan pada portofolio investasi akan berdampak besar pada nilai aset yang dikelolanya.

Bareksakemudian membagi Barometer ke dalam tiga tahapan nilai dana kelolaan yakni reksadana dengan AUM di atas Rp500 miliar, reksadana dengan AUM Rp100 miliar hingga Rp500 miliar, dan terendah yakni reksadana dengan AUM di bawah Rp100 miliar.

Ketiga, masuk dalam proses penilaian yang menggunakan dua parameter utama yakni return (imbal hasil) dan risiko.

1. Return

Bareksa mengukur return reksadana dalam periode tahunan, bulanan dan juga dalam enam bulan terakhir. Return masing-masing reksadana kemudian dibandingkan dengan rata-rata return reksadana sejenis untuk mendapatkan urutan nilainya. Tidak hanya total return, Bareksa juga menghitung seberapa konsisten suatu reksadana mampu mencetak return lebih tinggi dibandingkan rata-rata kompetitornya.

Parameter return memiliki bobot 50 persen terhadap penilaian. Tambahan nilai akan diberikan bagi reksadana yang dalam enam bulan terakhir secara konsisten mencetak return di atas rata-rata.

2. Risiko

Untuk mengukur risiko reksadana, variabel yang digunakan adalah nilai standar deviasi. Standar deviasi adalah nilai statistik yang digunakan untuk mengetahui seberapa besar sebaran data (yang dalam hal ini merupakan return reksadana). Maka, semakin besar nilai nilai standar deviasi suatu reksadana menunjukkan semakin besar sebaran data return reksadana tersebut.

Artinya, reksadana dengan standar deviasi besar bergerak lebih fluktuatif dibanding reksadana dengan standar deviasi rendah. Sehingga, dapat disimpulkan reksadana dengan standar deviasi besar lebih berisiko dibanding reksadana dengan standar deviasi kecil. Di sisi lain serupa dengan parameter return, parameter risiko memiliki bobot 50 persen terhadap penilaian.

Dalam Barometer Bareksa, penilaian tertinggi akan diberikan pada reksadana yang secara historis menghasilkan return tinggi secara konsisten dan memiliki nilai risiko terendah. Sehingga, Baereksa meyakini Barometer Bareksa bisa menghasilkan suatu penilaian yang memudahkan investor untuk memilih reksadana yang diinginkan.

Selain itu, Bareksa juga memberi penilaian khusus pada reksadana yang baru berusia antara dua bulan hingga satu tahun, atau yang kami sebut reksadana newcomers. Variabel yang digunakan untuk menilai kinerja reksadana newcomers adalah kinerja reksadana dibandingkan dengan reksadana sejenis dalam suatu periode tertentu.

Dalam menghitung kinerja reksadana newcomers, variabel yang digunakan adalah return atau imbal hasil reksadana setiap bulan, sehingga unsur volatilitas pergerakan NAV juga masuk dalam pengukuran.

Sejumlah Produk Reksadana di Marketplace Bareksa

Sumber: Bareksa

Jadi, sudahkah menentukan produk apa dan dari jenis reksadana apa yang akan Anda pilih? Sebaiknya, sebelum melakukan investasi baiknya untuk kenyamanan berinvestasi, pastikan dulu tujuan keuangan dan profil risiko Anda.

(Martina Priyanti/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?
- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa. GRATIS

DISCLAIMER​
Semua data kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini adalah kinerja masa lalu dan tidak menjamin kinerja di masa mendatang. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.