Bareksa Insight : Jokowi Cabut Larangan Ekspor CPO, Potensi Cuan Reksadana Ini

Kebijakan ini diprediksi akan kembali mendorong surplus neraca perdagangan pada Mei 2022, serta menopang penguatan nilai tukar rupiah
Abdul Malik • 20 May 2022
cover

Pekerja menurunkan tandan buah segar kelapa sawit dari perahu di Perkebunan kawasan Gambut Jaya, Muaro Jambi, Selasa (15/9). Presiden Jokowi segera mencabut larangan ekspor CPO, kebijakan ini bisa mendongkrak neraca dagang Indonesia dan jadi sentimen positif bagi pasar saham dan reksadana. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

Bareksa.com - Presiden Joko Widodo kemarin mengumumkan akan mencabut larangan ekspor minyak sawit mentah (CPO) dan minyak goreng mulai 23 Mei 2022. 

Analisis Bareksa memperkirakan kebijakan ini akan kembali mendorong surplus neraca perdagangan pada Mei 2022, serta menopang penguatan nilai tukar rupiah yang kemarin sempat melemah di kisaran Rp14.700 per dolar Amerika Serikat. 

Hal ini bisa menjadi sentimen positif buat pasar saham dan obligasi, serta diproyeksikan menopang kinerja reksadana saham maupun reksadana pendapatan tetap.

Sepanjang pekan ini, pasar saham dan obligasi tercatat mengalami penguatan setelah pekan sebelumnya melemah signifikan. Sejumlah data ekonomi dalam negeri menunjukkan perbaikan selama bulan puasa dan mendorong optimisme investor untuk berinvestasi di pasar keuangan Indonesia. 

Tekanan jual investor asing juga mulai mereda pekan ini. Namun, menurut analisis Bareksa, investor tetap perlu mencermati isu global yang turut mempengaruhi pergerakan pasar keuangan dalam negeri.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 19 Mei 2022 kembali naik 0,44 persen ke level 6.823,33. Berdasarkan data id.investing.com (diakses 19/05/2022 pukul 17.00 WIB) benchmark obligasi pemerintah tercatat di level 7,4 persen pada 19 Mei 2022. 

Baca : Kerahkan Sinergi Ekosistem, Grab-OVO Ikut Mendukung Perluasan Distribusi SBN Melalui Bareksa

Apa yang bisa dilakukan Investor?

Meski terdapat sentimen positif dari dalam negeri, analisis Bereksa memprediksi reksadana saham dan reksadana indeks berpotensi bergerak mendatar karena bursa saham global masih mengalami pelemahan hari ini. 

Investor juga menanti rilis suku bunga pinjaman acuan China yang diekspektasikan turun untuk menopang ekonomi Negeri Panda. 

Analisis Bareksa juga melihat reksadana pendapatan tetap akan bergerak terbatas dengan proyeksi imbal hasil (yield) obligasi negara Indonesia berada di rentang 7,3 - 7,4 persen pada sesi perdagangan hari ini. 

Investor bisa mempertimbangkan wait and see untuk masuk ke reksadana pendapatan tetap berbasis obligasi pemerintah, hingga yield dapat bergerak menuju kisaran 7,8 - 8 persen.

Baca : Kerahkan Sinergi Ekosistem, Grab-OVO Ikut Mendukung Perluasan Distribusi SBN Melalui Bareksa

Beberapa produk reksadana pendapatan tetap, reksadana saham dan reksadana indeks yang bisa dipertimbangkan oleh investor dengan profil risiko moderat dan agresif adalah sebagai berikut : 

Imbal Hasil 1 Tahun (per 19 Mei 2022)

Reksadana Indeks

Avrist IDX30 : 20,14 persen
Principal Index IDX30 Kelas O : 19,86 persen

Reksadana Saham

Manulife Saham Andalan : 17,56 persen
Eastspring Investments Value Discovery Kelas A : 15,81 persen

Imbal Hasil 3 Tahun (per 19 Mei 2022)

Reksadana Pendapatan Tetap

Syailendra Fixed Income Fund : 20,07 persen
Mandiri Investa Dana Syariah : 15,38 persen

Baca : Kolaborasi PT Pegadaian - Bareksa, Hadirkan Tabungan Emas Online untuk Investasi Terintegrasi

Investasi Sekarang

(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo Sucahyo/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.