Bareksa Insight : Pasar Minim Sentimen, Investor Bisa Cermati Reksadana Ini

Inflasi AS melonjak hingga 8,5 persen secara tahunan pada Maret 2022, level tertinggi dalam 41 tahun terakhir atau sejak 1981
Abdul Malik • 13 Apr 2022
cover

Ilustrasi lonjakan inflasi di Amerika Serikat yang membuat The Fed akan menaikkan suku bunganya lebih agresif, sehingga berdampak pada pasar keuangan global, termasuk IHSG, reksadana dan SBN, hingga emas. (Shutterstock)

Bareksa.com - Minimnya sentimen dari dalam dan luar negeri pada pekan ini membuat pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik tipis 0,15 persen pada perdagangan kemarin. IHSG pada Selasa (12/4/2022) ditutup di 7.214,78 yang merupakan rekor tertinggi baru sepanjang masa (all time high), ditopang derasnya aliran dana asing masuk dengan catatan net buy Rp1,5 triliun.  

Menurut analisis Bareksa, tipisnya kenaikan IHSG karena pelaku pasar masih mencermati pergerakan harga komoditas global, serta kebijakan ekonomi Amerika Serikat (AS). Reksadana saham berbasis saham kapitalisasi besar masih mencatatkan kinerja cukup baik, sebab aliran dana investor asing masih terlihat masuk di saham-saham tersebut.

Sementara itu, mayoritas harga obligasi, terutama Surat Berharga Negara (SBN) melemah pada perdagangan kemarin. Sebab investor memperkirakan tingginya inflasi AS pada Maret 2022 yang tercatat 8,5 persen secara tahunan, akan semakin mendorong suku bunga acuan Bank Sentral Federal Reserve (Fed Rate) naik lebih agresif. 

Hal ini juga turut mempengaruhi imbal hasil (yield) acuan Obligasi Pemerintah AS yang naik hingga 2,7 persen. Sehingga, yield SBN acuan diproyeksikan akan kembali terdorong hingga 6,9 persen. 

Untuk diketahui, Departemen Tenaga Kerja AS pada Selasa malam WIB melaporkan indeks harga konsumen (inflasi) Negara Paman Sam melonjak hingga 8,5 persen secara tahunan pada Maret 2022. Angka inflasi ini merupakan yang tertinggi dalam 41 tahun terakhir atau sejak 1981. 

Angka inflasi Maret sedikit lebih tinggi dari perkiraan 8,4 persen dan juga naik lebih kencang dari inflasi Februari yang 7,9 persen. Secara bulanan, inflasi AS naik 1,2 persen pada Maret dari 0,8 persen di bulan Februari. 

Baca : Bareksa Raih Pendanaan Seri C dari Grab, Kukuhkan Sinergi Grab - Bareksa - OVO

Apa yang bisa dilakukan Investor?

Menurut analisis Bareksa, investor dapat melakukan akumulasi secara bertahap di reksadana saham berbasis saham kapitalisasi besar apabila IHSG menurun ke kisaran level 7.000 - 7.100.

Sementara itu, pasar obligasi diproyeksikan masih akan melemah karena investor melihat tingginya inflasi AS akan membuat The Fed menaikan suku bunga acuan lebih agresif pada pekan depan. Reksadana pendapatan tetap berbasis obligasi korporasi bisa dipertimbangkan untuk menjaga fluktuasi portofolio.

Baca : Kerahkan Sinergi Ekosistem, Grab-OVO Ikut Mendukung Perluasan Distribusi SBN Melalui Bareksa

Beberapa produk reksadana pendapatan tetap, reksadana saham dan reksadana indeks yang bisa dipertimbangkan investor dengan profil risiko moderat dan agresif adalah sebagai berikut : 

Imbal Hasil 1 Tahun (per 12 April 2022)

Reksadana Indeks

Principal Index IDX30 Kelas O : 19,14 persen
RHB SRI KEHATI Index Fund : 18,02 persen

Reksadana Saham

BNI-AM Inspiring Equity Fund : 13,19 persen
Schroder Dana Istimewa : 7,57 persen

Imbal Hasil 3 Tahun (per 12 April 2022)

Reksadana Pendapatan Tetap

Syailendra Pendapatan Tetap Premium : 31,08 persen
TRIM Dana Tetap 2 : 20,53 persen

Baca : Kolaborasi PT Pegadaian - Bareksa, Hadirkan Tabungan Emas Online untuk Investasi Terintegrasi

Investasi Sekarang

(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo Sucahyo/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.