Bareksa Insight : Krisis Ukraina Buat Investor Lepas Aset Berisiko, Simak Strategi Ini

Pelemahan bursa global menyusul tuduhan Ukraina terhadap Rusia yang telah menyerang desa di perbatasan Negeri Beruang Putih dengan negara pecahan Uni Soviet tersebut
Abdul Malik • 18 Feb 2022
cover

Ilustrasi memanasnya ketegangan geopolitik di Eropa Timur antara Rusia dan Ukraina, dan keterlibatan Amerika Serikat dan NATO membuat pasar bergejolak dan berdampak pada kinerja reksadana, SBN dan emas. (Shutterstok)

Bareksa.com - Pasar saham global pada perdagangan kemarin mayoritas ditutup melemah, yang kemudian bursa regional Asia juga dibuka melemah pada perdagangan hari ini (18/2/2022). 

Menurut analisis Bareksa, pelemahan itu menyusul tuduhan Ukraina terhadap Rusia yang telah menyerang desa di perbatasan Negeri Beruang Putih dengan negara pecahan Uni Soviet tersebut.

Hal ini membuat ketegangan antara kedua negara yang sebelumnya sempat mereda, kembali memanas 2 hari terakhir, setelah sebelumnya Rusia mengumumkan penarikan pasukannya dari perbatasan Ukraina. 

Kinerja pasar nasional yang tercermin dari kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 17 Februari 2022 melemah 0,22 persen ke level 6.835.

Di sisi lain, pasar Obligasi Indonesia pada hari ini diproyeksikan akan bergerak terbatas mengingat investor global telah memproyeksikan keputusan The Fed pada Kamis lalu. 

Analisis Bareksa memperkirakan imbal hasil (yield) Obligasi Pemerintah Indonesia kemungkinan akan bergerak ke level 6,7 - 6,8 persen pada saat The Fed dan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuannya. 

Berdasarkan data id.investing.com (diakses 17/02/2022 pukul 17.00 WIB) benchmark obligasi pemerintah tercatat tetap di level 6,6 persen pada 17 Februari 2022. 

Baca : Kerahkan Sinergi Ekosistem, Grab-OVO Ikut Mendukung Perluasan Distribusi SBN Melalui Bareksa​

Apa yang bisa dilakukan Investor?

Analisis Bareksa menyarankan agar investor tetap dapat berinvestasi di reksadana pendapatan tetap secara bertahap, dengan pembelian terbesar dari target investasi dapat dilakukan pada saat yield Obligasi Pemerintah Indonesia berada di level 6,7 persen. 

Investor juga dapat mulai mengakumulasi emas hingga ketegangan geopolitik di kawasan Eropa Timur mereda dengan target harga emas Pegadaian di level Rp910.000 per gram.

Baca : Bareksa Raih Pendanaan Seri C dari Grab, Kukuhkan Sinergi Grab - Bareksa - OVO

Beberapa produk reksadana pendapatan tetap, reksadana saham dan reksadana indeks yang bisa dipertimbangkan oleh investor dengan profil risiko moderat dan agresif adalah sebagai berikut : 

Imbal Hasil 3 Tahun (per 17 Februari 2022)

Reksadana Pendapatan Tetap

Syailendra Pendapatan Tetap Premium : 32,46 persen
Manulife Obligasi Negara Indonesia II Kelas A : 29,79 persen

Imbal Hasil 6 Bulan (per 17 Februari 2022)

Reksadana Saham

Schroder Dana Prestasi Plus : 12,17 persen
BNI-AM Inspiring Equity Fund : 11,59 persen

Reksadana Indeks

Syailendra MSCI Indonesia Value Index Fund : 18,39 persen
RHB SRI KEHATI Index Fund : 17,23 persen

Baca : Kolaborasi PT Pegadaian - Bareksa, Hadirkan Tabungan Emas Online untuk Investasi Terintegrasi

Investasi Sekarang

(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo Sucahyo/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.