Stimulus Ekonomi Hadapi Covid-19 Diluncurkan, Angin Segar Bagi Investor?

Tidak ada yang bisa memastikan kapan pandemi ini akan berakhir
Kamis, 09 April 2020 11:29:32 WIB Hanum Kusuma Dewi
Image
Pekerja melintas di depan layar yang menampilkan pergerakan saham di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (26/3/2020). ANTARA FOTO/Reno Esnir

Bareksa.com - Pandemi global virus corona Covid-19 telah membawa sentimen negatif bagi pasar saham, dan diperkirakan bisa memberi dampak buruk pada ekonomi. Pemerintah telah mengumumkan sejumlah stimulus untuk menjaga ekonomi Indonesia, benarkah hal ini bisa menjadi harapan bagi para investor keuangan?

Sepanjang Maret 2020, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menjadi acuan pasar modal Indonesia terkoreksi 16,76 persen dan telah turun 27,95 persen sejak awal tahun. Indeks obligasi pemerintah juga telah turun 2,5 persen secara year to date (YTD).

Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sudah tertekan 15 persen ke level Rp16.367 per dolar AS.

Tabel Indikator Ekonomi dan Proyeksi Menurut Skenario Dampak Covid-19

Sumber : Kementerian Keuangan

Banyak yang mengira bahwa dampak Pandemi virus corona Covid-19 ini terhadap ekonomi akan mirip dengan krisis pada 2008. Meskipun demikian, kebijakan stimulus yang diberikan oleh pemerintah kali ini berbeda dengan 12 tahun lalu.

Andre, Researcher dari Sinarmas Asset Management menilai bahwa Pemerintah Indonesia saat ini tidak punya pilihan selain memberikan stimulus untuk mengantisipasi perlambatan ekonomi. Seperti diberitakan sebelumnya, Presiden Joko Widodo mengumumkan anggaran sebesar Rp405 triliun untuk mengatasi Covid-19.

"Ini cara yang harus ditempuh untuk menyelamatkan ekonomi di periode selanjutnya. Kita tidak bisa melakukan pembatasan tanpa ekonomi berjalan. Jangan sampai seperti di India yang menerapkan lockdown tetapi tidak persiapan, bisa chaos," ujarnya dalam market update melalui teleconference bersama Bareksa 8 April 2020.

Memang dampak dari pemberian stimulus ini adalah pelebaran fiskal, sehingga defisit bisa semakin membengkak. Kementerian Keuangan memperkirakan skenario terburuk defisit bisa mencapai 5 persen.

Menurut Andre, besaran stimulus yang sekitar 2 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia sudah terbilang cukup. Sebab akan sangat sulit ke depannya bila harus melebarkan defisit lebih dari 5 persen. "Level yang sekarang ini appropriate untuk Indonesia."

Sementara itu, Eastpring Investments Indonesia, dalam buletin yang disampaikan pada investor, mengatakan perbedaan stimulus kali ini. Menurut buletin tersebut, stimulus ekonomi yang diberikan pasca krisis ekonomi global 2008 adalah stimulus moneter dalam bentuk penurunan suku bunga dan pembelian surat utang pemerintah, maupun perusahaan.

Sedangkan stimulus yang diberikan dalam menanggulangi Covid-19 adalah stimulus yang diberikan kepada para pekerja yang kehilangan nafkahnya. "Perbedaan utama dari kedua strategi ini yaitu strategi kebijakan moneter yang sifatnya deflasi untuk pemulihan pasca krisis 2008, sementara kebijakan fiskal Covid-19 kali ini sifatnya inflasi," tulis buletin bertajuk Spring Letter April 2020 tersebut.

Oleh karena itu, Eastpring memperkirakan penurunan suku bunga akan terbatas di global. Meski Indonesia masih memiliki kesempatan penurunan suku bunga, ruangnya tidak selebar sebelumnya. Selain karena tingkat bunga sudah rendah, program cetak uang di 2020 ini akan lebih bersifat inflasi karena penerimanya akan segera membelanjakannya.

"Pada situasi inflasi, investasi saham merupakan pilihan yang tepat," tulis Eastpring Investments.

Namun, yang menjadi pertanyaan adalah kapan waktu yang tepat untuk mulai membeli saham. Jawaban untuk pertanyaan ini tidak ada yang tahu, sebab kapan pandemi ini usai tidak ada yang bisa memastikannya.

"Yang dapat kita sarankan adalah sebaiknya pembelian memang dilakukan bertahap yang sudah dapat dimulai dari saat ini, karena kita sudah tahu betapa besarnya program stimulus fiskal yang akan dikucurkan," tulis Eastpring.

Di sisi lain, Sinarmas menilai saat ini ketidakpastian masih sangat tinggi sehingga pandangan untuk jangka menengah hingga panjang pasar masih dalam tren melemah (bearish). Akan tetapi, dalam jangka pendek, pasar saham bisa bervariasi (mixed).

Berdasarkan tiga skenario ekonomi yang diperhitungkan oleh pemerintah -- mulai dari normal, buruk, hingga terburuk -- Sinarmas memperkirakan rupiah dalam skenario terbaik bisa menguat ke Rp15.000 per dolar AS sementara di skenario terburuk bisa mencapai Rp18.000 per dolar AS. "Kami juga merevisi target IHSG di rentang 4.500 hingga 5.500 pada akhir tahun ini."

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER