Benarkah Dampak Corona di Pasar Keuangan Mirip Krisis 2008? Ini Data Ekonominya

Menkeu Sri Mulyani mengatakan kondisi saat ini lebih rumit dibandingkan krisis 2008
Selasa, 17 Maret 2020 10:53:25 WIB Hanum Kusuma Dewi
Image
Yang menarik, kondisi di saat ini adalah inflasi per Februari 2020 masih sangat rendah, di 3,02 persen secara tahunan. Angka ini jauh dibandingkan inflasi 2008 yang mencapai 12,14 persen dan 82,4 persen di 1998.

Bareksa.com - Isu pandemi virus corona covid-19 telah menekan pasar keuangan secara global. Tekanan pada pasar modal di seluruh dunia juga pernah terjadi pada 2008. Bagaimana perbandingannya dengan saat ini?

Krisis keuangan global pada 2008 dipicu oleh kejatuhan pasar subprime mortgage, yakni KPR dengan debitur peringkat buruk yang mengalami gagal bayar, di Amerika Serikat dan kemudian menular ke perbankan di seluruh dunia hingga menjadi perlambatan ekonomi global.

Sementara itu, pasar saham saat ini mengalami kejutan akibat dua sentimen, yaikni penyebaran pandemi Covid-19 dan kejatuhan harga minyak global.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan mengatasi dampak ekonomi dari virus corona bakal lebih rumit ketimbang krisis ekonomi global 2008-2009.

"Lebih rumit yang ini (ketimbang krisis 2008-2009) karena ini menyangkut manusia, harus memberikan ketenangan dulu apa yang disebut dengan ancaman atau risiko terhadap mereka. Keselamatan, kesehatan, sampai pada kemungkinan terancam meninggal dunia. Itu yang jauh lebih langsung. Kalau dulu kan melalui lembaga keuangan, korporasi jatuh, PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) paling," papar Sri Mulyani dikutip CNBC Indonesia (6/03/2020).

Dari segi ekonomi secara makro, bagaimana kondisi saat ini? Benarkah lebih buruk dibandingkan dengan kondisi pada 2008, atau justru pada krisis moneter 1998? Berikut kompilasi data yang diolah Bareksa.

Pertumbuhan ekonomi 2020 diperkirakan melambat menjadi di bawah 5 persen. Menkeu mengasumsikan, meski belum mengumumkan secara resmi, bahwa ekonomi Indonesia bisa terkena dampak dari perlambatan global menjadi di kisaran 4,7 persen.

Yang menarik, kondisi di saat ini adalah inflasi per Februari 2020 masih sangat rendah, di 3,02 persen secara tahunan. Angka ini jauh dibandingkan inflasi 2008 yang mencapai 12,14 persen dan 82,4 persen di 1998.

Memang rupiah saat ini sudah mulai melemah terhadap dolar Amerika Serikat mencapai Rp14.818 per US$ pada 16 Maret 2020. Namun, dilihat secara year to date (sejak awal tahun), depresiasi rupiah baru mencapai 6 persen. Angka ini jauh dibandingkan depresiasi pada 2008 yang mencapai 34,86 persen dan 197 persen pada 1998.

Tabel Perbandingan Indikator Ekonomi Indonesia 1998, 2008 dan 2020

Sumber: kompilasi Bareksa

Menurut data Otoritas Jasa Keuangan, rasio kredit bermasalah per Februari 2020 masih terjaga di 2,70 persen, lebih rendah dibandingkan dengan kondisi di 2008 yang mencapai 3,8 persen dan jauh di bawah 1998 yang mencapai 30 persen.

Saat ini, suku bunga acuan Bank Indonesia masih terjaga rendah di 4,75 persen per Februari 2020. Sementara di 2008, suku bunga 9,5 persen dan di 1998 mencapai 60 persen.

Dari sisi cadangan devisa, saat ini Indonesia memiliki US$130,4 miliar per Februari 2020. Sementara utang luar negeri mencapai US$410,8 miliar. Rasio utang luar negeri terhadap cadangan devisa mencapai 3,15 kali, tidak jauh berbeda dibandingkan 2008, tetapi jauh lebih rendah dibandingkan pada 1998.

Mengutip Han Yik, Head of Institutional Investors, World Economic Forum, ada pelajaran yang bisa diambil dari krisis 2008. Pada saat itu, kejatuhan pasar memberi dampak sangat besar bagi mereka yang baru akan pensiun karena sebagian dana masih berada di pasar saham.

"Tantangan saat ini adalah mencari solusi. Sepanjang bulan ini kita sudah melihat tiga dari lima bank sentral negara G7 menurunkan suku bunga acuan, yaitu The Fed dan Bank of Canada dari 1,75 persen ke 1,25 persen dan Bank of England dari 0,75 persen ke 0,25 persen," tulisnya dalam World Economic Forum Agenda 12 Maret 2020.

Saat ini, para bank sentral sudah mencapai batas penurunan suku bunga. Sebab, sebelum krisis terjadi, tren suku bunga sudah sangat rendah sehingga para bank sentral tidak bisa menggunakan alat yang sama untuk mengatasi krisis seperti di 2008.

Kerutan lain berkaitan dengan pemulihan adalah frase "the new normal", level normal baru yang dalam kasus ini lebih tepat. Bila kita harus mengubah kebiasaan sosial dan bisnis kita akibat pandemik berkepanjangan, atau untuk mencegah pandemi lain, hal ini berpotensi memperpanjang waktu pemulihan ekonomi menjadi lebih lama dibandingkan dengan resesi 2008.

Solusi

Han Yik mengatakan, setidaknya ada tiga hal yang bisa dilakukan dalam kondisi ini. Pertama dan terpenting, kita harus melawan penyebaran virus. Hal ini membutuhkan kombinasi tindakan dari pemerintah dan individu untuk mengubah interaksi sosial mereka dalam rangka menghentikan penyebaran.

"Kita perlu mengikuti saran dari para ahli, termasuk epidemiologis dan organisasi seperti World Health Organization (WHO) dan waspada untuk tidak mengambil informasi salah yang menyebar di sosial media," ujarnya.

Kedua, pemerintah perlu mengambil langkah pemulihan ekonommi nyata, terutama bagi pemilik UMKM. Banyak UMKM yang beroperasi dengan marjin tipis, dan gangguan berkepanjangan terhadap bisnis mereka memiliki potensi untuk mempertajam kesenjangan ekonomi.

Ketiga, komunitas bisnis global perlu berdiskusi bersama untuk membantu mengawali pemulihan. COVID action platform dari World Economic Forum bertujuan untuk membangkitkan pemerintah dan pemimpin bisnis untuk melakukannya.

Ini adalah momen yang menantang, tetapi momen seperti inilah yang mengharuskan kita bertindak bersama untuk memperbaiki kondisi dunia.

Pemerintah pada pekan lalu telah meluncurkan stimulus fiskal dan non-fiskal untuk meredam dampak COVID-19 atau virus corona terhadap perekonomian Indonesia. Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengatakan dampak dari stimulus dari pemerintah akan bertahap memperbaiki kinerja korporasi terlebih dahulu kemudian respons market akan positif.  

"Paket stimulus yang dikeluarkan ini tidak langsung kepada pasar modal. Tapi kami harapkan bisa beri confidence (kepercayaan) pelaku usaha baik sektor yang terkena secara langsung maupun tidak langsung termasuk investor pasar modal," kata Wimboh dalam konferensi pers Stimulus Ekonomi Jilid II di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jumat (13/3).

Langkah Investor

Dalam kondisi ini, sebagian investor ada yang panik dan melakukan aksi jual di pasar saham, dan investasi berbasis saham seperti reksadana saham. Bila investor mencairkan investasi di reksadana, tentu saja mereka langsung merealisasikan kerugian.

Namun, investor tidak perlu panik, tetapi hanya perlu lebih waspada. Bahkan, kondisi ini bisa juga menjadi sebuah kesempatan, seperti yang dilakukan oleh investor institusi besar seperti BP Jamsostek dan Asosiasi Dana Pensiun.

Chief Research and Business Development Officer Bareksa, Ni Putu Kurniasari menilai kondisi pasar yang sedang turun saat ini bisa menjadi kesempatan untuk membeli reksadana di harga murah. Khusus untuk masyarakat yang ingin menghindari risiko, reksadana pasar uang bisa dipilih.

"Reksadana jenis pasar uang yang stabil untuk pemula dan investor yang ingin menaruh dana jangka pendek," ujarnya.

Di samping itu, jenis Surat Berharga Negara juga bisa menjadi alternatif investasi di tengah kondisi pasar yang tertekan saat ini. Sebab, SBN dijamin 100 persen oleh pemerintah.

Saat ini, sedang dalam masa penawaran Sukuk Ritel SR012, yang termasuk Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). SR012 bisa dibeli secara online melalui mitra distribusi, termasuk Bareksa.

***

Ingin berinvestasi sekaligus bantu negara?

Pemerintah telah resmi membuka masa penawaran Sukuk Ritel seri SR012 mulai 24 Februari 2020 hingga 18 Maret 2020. SR012 bisa dipesan selama masa penawaran secara online di Bareksa.

Belum memiliki akun Bareksa tetapi ingin berinvestasi SBN? Segera daftar di sbn.bareksa.com sekarang, gratis hanya dengan menyiapkan KTP dan NPWP. Baca panduannya di sini.

Bagi yang sudah pernah membeli SBR, ORI atau Sukuk di Bareksa sebelumnya, Anda bisa menggunakan akun di sbn.bareksa.com untuk memesan SBN.

Bila sudah memiliki akun Bareksa untuk reksadana sebelumnya, segera lengkapi data Anda berupa NPWP dan rekening bank yang dimiliki.

Kalau belum punya NPWP, tapi mau beli SBN? Kita juga bisa meminjam NPWP punya orang tua atau suami.

PT Bareksa Portal Investasi atau bareksa.com adalah mitra distribusi resmi Kementerian Keuangan untuk penjualan Surat Berharga Negara (SBN) ritel secara online. Selain proses registrasi dan transaksi sangat cepat dan mudah, Anda juga dapat memantau investasi Anda dari mana saja dan kapan saja.



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER