BI Pangkas Suku Bunga Jadi 5 Persen, Ini Prediksi Kinerja Reksadana Pasar Uang

Hasil RDG Bank Indonesia 23-24 Oktober memutuskan penurunan BI 7-Day Reverse Repo Rate 25 basis poin menjadi 5 persen
Jumat, 25 Oktober 2019 07:46:22 WIB Arief Budiman
Image
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI dihadapan wartawan di gedung BI, Jakarta, Kamis (18/7/2019). Hasil RDG tersebut BI memutuskan untuk menurunkan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 5,75 persen. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/hp)

Bareksa.com - Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 23-24 Oktober 2019 memutuskan untuk menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) 25 basis poin (bps) menjadi 5 persen, suku bunga Deposit Facility 25 bps menjadi 4,25 persen, dan suku bunga Lending Facility 25 bps menjadi 5,75 persen.

Kebijakan tersebut, kata BI, konsisten dengan prakiraan inflasi yang terkendali dan imbal hasil investasi keuangan domestik yang tetap menarik, serta sebagai langkah pre-emptive lanjutan untuk mendorong momentum pertumbuhan ekonomi domestik di tengah kondisi ekonomi global yang melambat.

"Kebijakan ini juga didukung strategi operasi moneter yang terus diperkuat untuk menjaga kecukupan likuiditas dan mendukung transmisi bauran kebijakan yang akomodatif," ungkap BI dalam keterangan tertulisnya.

Terhitung sudah empat kali berturut-turut dalam empat bulan terakhir BI memangkas suku bunga acuannya.

Seiring penurunan suku bunga, kinerja reksadana pasar uang berpotensi mengalami tekanan. Menurut analisis Bareksa, ruang penurunan suku bunga masih terbuka cukup lebar karena inflasi yang sejak awal tahun hingga akhir September masih dalam level yang rendah di 3,06 persen.

Spread wajar inflasi dan suku bunga rata-rata berada di 1,5 persen, berarti suku bunga wajar harusnya di 4,5 persen. Jadi secara bertahap suku bunga memang sedang mengarah turun.

Apalagi, pemerintah kini sedang mengejar pertumbuhan ekonomi. Karena itu suku bunga rendah diperlukan untuk mendorong konsumsi yang menjadi motor utama ekonomi Indonesia.

Di sisi lain, adanya proyeksi bahwa Fed Fund Rate akan turun 25 basis poin (bps) di akhir Oktober juga menjadi asumsi kuat bahwa hal tersebut menjadi faktor yang menyebabkan BI akan kembali menurunkan BI7DRRR.

Selain memberikan stimulus untuk pertumbuhan ekonomi, penurunan suku bunga acuan juga akan mempengaruhi imbal hasil reksadana pasar uang yang memiliki aset dasar deposito.

Sebagaimana diketahui, reksadana pasar uang adalah jenis reksadana yang 100 persen berinvestasi di instrumen pasar uang seperti sertifikat bank indonesia (SBI), deposito berjangka, dan obligasi yang jatuh tempo di bawah 1 tahun.

Karena itu, jika suku bunga deposito megalami penurunan, maka manajer investasi akan menerima bunga deposito yang lebih rendah, sehingga pada akhirnya akan membuat nilai aktiva bersih portofolionya menurun.


Sumber: Bareksa

Sebagai informasi, sejauh ini rata-rata kinerja reksadana pasar uang menempati urutan ketiga dengan return tertinggi secara year to date (YtD) per 23 Oktober 2019.

Berdasarkan data Bareksa, indeks reksadana pasar uang tercatat telah naik 4,11 persen YtD, hanya kalah dari indeks reksadana pendapatan tetap dengan kenaikan 8,03 persen YtD dan indeks reksadana campuran dengan kenaikan 4,36 persen YtD. Sementara itu di posisi akhir ada indeks reksadana saham yang merosot 4,47 persen YtD.

Strategi yang dapat Dipilih MI

Meski suku bunga deposito akan menciut, para manajer investasi bisa menjaga imbal hasil reksadana pasar uangnya agar tetap optimal dengan cara berinvestasi lebih banyak pada obligasi bertenor kurang dari satu tahun. Racikan porsi portofolio yang bisa diatur kurang lebih 60 persen di obligasi, dan 40 persen di deposito.

Secara umum, imbal hasil obligasi korporasi dengan tenor kurang dari satu tahun lebih tinggi dari obligasi pemerintah dengan tenor sama. Sekarang obligasi korporasi dengan rating BBB masih bisa memberikan imbal hasil 9,5 persen, angka tersebut cukup tinggi.

Sebagai informasi, biasanya reksadana pasar uang ditujukan untuk investasi dengan likuiditas tinggi, bukan untuk mengejar imbal hasil yang tinggi. Karena itu, umumnya manajer investasi memilih obligasi pemerintah karena memiliki likuiditas tinggi (mudah ditransaksikan).

Namun, jika manajer investasi fokus mengincar imbal hasil tinggi, maka obligasi korporasi lebih cocok dipilih dengan catatan bahwa risiko likuiditas yang lebih rendah dari obligasi pemerintah.

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

(KA01/AM)

***

Ingin berinvestasi di reksadana?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER