Manfaatkan Teknologi, Bloomberg Prediksi Industri Reksadana Bisa Tumbuh Berlipat
 
 

Manfaatkan Teknologi, Bloomberg Prediksi Industri Reksadana Bisa Tumbuh Berlipat

Total aset reksadana telah naik dua kali lipat dalam kurun waktu lima tahun terakhir
Jumat, 10 Agustus 2018 07:20:00 WIB Issa Almawadi
Image
Ilustrasi reksadana (123rf)

Bareksa.com – Industri reksadana dan investasi Indonesia memiliki potensi pertumbuhan yang sangat besar dan perlu memanfaatkan teknologi agar mampu menarik perhatian para investor mancanegara. Hal ini dikemukakan oleh salah satu perwakilan dari Bloomberg, perusahaan global penyedia informasi dan data bisnis serta keuangan.

Bloomberg Asia Pacific Head of Sales Taran Khera menyampaikan, reksadana merupakan pilar utama dalam sektor keuangan Indonesia, dan memiliki peran penting dalam mendorong dinamisme dan inovasi dalam perekonomian.

“Total aset reksadana telah naik dua kali lipat dalam kurun waktu lima tahun terakhir, namun angka ini masih 12 persen dari total kapitalisasi pasar dalam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Hal ini menunjukkan bahwa industri manajemen dana memiliki potensi pertumbuhan yang besar,” tutur Khera dalam keterangannya, Kamis, 9 Agustus 2018.

Sementara, total assets under management (AUM) di Indonesia selama lima bulan pertama pada tahun 2018 telah naik 10 persen hingga Rp504 triliun yang didorong oleh peningkatan dana ekuitas, meskipun belakangan ini arus keluar modal dari pasar-pasar negara berkembang juga semakin meningkat.

Pernyataan Khera disampaikan dalam rangka mengikuti acara peluncuran forum buyside pertama Bloomberg di Indonesia. Asia Managing Director Aberdeen Standard Investment Hugh Young mengatakan, bahwa Indonesia memiliki fondasi yang kuat serta perekonomian yang berpotensi tumbuh sebesar 7 persen.

“Sektor yang sudah ada sejak dahulu, seperti di bidang telekomunikasi, perbankan, konsumen, dan semen lebih diminati oleh investor global,” terang Young.

Young menambahkan, Indonesia semakin menarik hati para investor, dan Bloomberg memiliki peran yang unik dalam menghubungkan Indonesia dengan para pemain industri keuangan yang paling berpengaruh di dunia.

Pada 1 Juni 2018 lalu, utang dalam denominasi rupiah masuk dalam Indeks Bloomberg Global Aggregate untuk pertama kalinya. Hal ini memunculkan respons yang baik karena dapat memberikan pengaruh positif terhadap obligasi bernilai rupiah dalam jangka menengah dan mendorong lebih banyak investor asing agar mau bergabung dalam pasar obligasi.

Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani Indrawati berharap arus modal masuk (capital inflow) meningkat US$5 miliar hingga US$7 miliar, dan dapat membantu Indonesia menjadi lebih kompetitif dalam hal penjualan obligasi ke depannya.

Para pengelola aset di Indonesia masih fokus di pasar dalam negeri. Karena semakin banyak pembeli buyside Indonesia yang hendak berekspansi ke luar negeri, Khera menyatakan bahwa Indonesia perlu mengikuti best practice berstandar global dalam mengelola prortofolio, risiko, dan juga likuiditas agar mampu menarik para investor mancanegara.

Menurut white paper Bloomberg, para pengelola aset terdepan di dunia mulai mengimplementasikan pendekatan berbasis data yang berjangka panjang agar mampu mencapai target dan meningkatkan efisiensi operasional.

(AM)



TOP
10
REKSA DANA

Jenis Reksa Dana 
loading...
Selanjutnya
BELI DAFTAR BERLANGGANAN CHAT
Kontak : 62-21-71790970 | marketing@bareksa.com
TERPOPULER