Berita / SBN / Artikel

Dirjen PPR Kemenkeu Luky A: Target SBN Ritel 2021 hingga Rp80 Triliun

Pemerintah berencana menerbitkan enam seri SBN ritel tahun depan
Hanum Kusuma Dewi • 17 Dec 2020
cover

Direktur Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan Luky Alfirman dalam Investor Gathering secara virtual, 17 Desember 2020.

Bareksa.com - Pemerintah berencana untuk kembali menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) untuk investor individu atau ritel senilai hingga Rp80 triliun tahun depan, jauh lebih tinggi dari target tahun ini. Penerbitan SBN ritel meskipun kontribusinya kecil bagi pembiayaan negara, bisa memperluas basis investor di dalam negeri sekaligus memperdalam pasar keuangan nasional. 

Direktur Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan Luky Alfirman mengatakan rencana penerbitan SBN ritel di tahun 2021 akan sama dengan realisasi penjualan SBN ritel di tahun ini yang sebesar Rp76,78 triliun. Realisasi ini lebih tinggi daripada target Rp60-70 triliun sebelumnya.  

"Target tahun depan antara Rp70-80 triliun di SBN ritel, hampir sama dengan realisasi 2020. Tahun depan juga rencana enam kali penerbitan," ujarnya dalam Investor Gathering DJPPR Kementerian Keuangan 2020, 17 Desember 2020. 

Meski belum menyebutkan rincian kapan enam kali penerbitan tersebut, Luky mengatakan jenis SBN ritel yang direncanakan terbit tahun depan termasuk Savings Bond Ritel (SBR), Sukuk Tabungan (ST), Sukuk Ritel (SR) dan Obligasi Negara Ritel (ORI). Sebagai informasi, SBR dan ST adalah jenis SBN ritel yang tidak bisa diperdagangkan di pasar sekunder (non-tradable) dan bertenor 2 tahun, sementara SR dan ORI bisa diperdagangkan (tradable) dan bertenor 3 tahun. 

Menurut data DJPPR, jenis SBN ritel yang telah diterbitkan pada tahun ini terdiri dari empat seri tradable yaitu SR012, ORI017, SR013 dan ORI018. Kemudian, dua seri yang non-tradable yaitu SBR009 dan ST007. SBN seri tradable menawarkan kupon tetap (fixed) sementara jenis non-tradable kuponnya mengambang dengan batas minimum (floating with floor).

Tabel Realisasi Penjualan SBN Ritel

No
Seri
Penawaran
Sifat
Penjualan (Rp Triliun)
1.
SBR009
27-Jan-20
Non-tradable
2.25
2. 
SR012
24-Feb-20
Tradable
12.14
3. 
ORI017
27-Aug-20
Tradable
18.33
4. 
SR013
16-Jun-20
Tradable
25.67
5. 
ORI018
1-Oct-20
Tradable
12.97
6. 
ST007
4-Nov-20
Non-tradable
5.42

Total
76.78

Sumber: DJPPR Kemenkeu, diolah Bareksa

Pada 2020, menurut paparan Luky, permintaan SBN ritel meningkat. Hal ini disebabkan likuiditas yang berlimpah dan minat masyarakat terhadap investasi yang aman di tengah kondisi pandemi. Nilai penerbitan tahun ini jauh melampaui nilai SBN ritel yang jatuh tempo yaitu Rp37 triliun. 

Grafik Penerbitan SBN Ritel dan Nilai Jatuh Tempo 2016-2020

Sumber: Paparan DJPPR Kemenkeu, Investor Gathering 2020 

Luky menjelaskan kebijakan penerbitan SBN adalah untuk memenuhi pembiayaan negara. Meski porsinya hanya 4-6 persen dibandingkan total SBN yang direncanakan Rp1.535,1 triliun tahun depan, penerbitan SBN ritel bertujuan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dan pembiayaan pembangunan.

* * *

Ingin berinvestasi sekaligus bantu negara?

Dengan berinvestasi di SBN Ritel kita tidak hanya mendapatkan imbal hasil tetapi juga membantu pembiayaan APBN untuk pembangunan negara. Tunggu penerbitan SBN Ritel berikutnya di Bareksa

Belum memiliki akun Bareksa tetapi ingin berinvestasi di SBN? Segera daftar melalui aplikasi Bareksa sekarang, gratis hanya dengan menyiapkan KTP dan NPWP (opsional).

Bagi yang sudah punya akun Bareksa untuk reksadana, lengkapi data berupa rekening bank untuk mulai membeli SBN di Bareksa. Bagi yang sudah pernah membeli SBR, ORI atau Sukuk di Bareksa sebelumnya, Anda bisa menggunakan akun di Bareksa untuk memesan SBN ritel seri berikutnya.

PT Bareksa Portal Investasi atau bareksa.com adalah mitra distribusi resmi Kementerian Keuangan untuk penjualan Surat Berharga Negara (SBN) ritel secara online. Selain proses registrasi dan transaksi sangat cepat dan mudah, Anda juga dapat memantau investasi Anda dari mana saja dan kapan saja.