Berita / SBN / Artikel

Pemerintah Lelang 7 Seri SUN Pekan Depan, Target Maksimal Rp40 Triliun

Lelang SUN ini untuk memenuhi sebagian dari target pembiayaan dalam APBN 2020
Abdul Malik • 26 Nov 2020
cover

Ilustrasi Surat Berharga Negara. (Shutterstock)

Bareksa.com – Pemerintah mengumumkan akan melakukan lelang Surat Utang Negara (SUN) dalam mata uang rupiah untuk memenuhi sebagian dari target pembiayaan dalam APBN 2020. Sebanyak 7 seri SUN akan dilelang Selasa pekan depan (1/12) dengan target maksimal Rp40 triliun.

"Pelaksanaan lelang dilakukan berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 168/PMK.08/2019 tentang Lelang Surat Utang Negara di Pasar Perdana Domestik (PMK No. 168/PMK.08/2019)," demikian disampaikan Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Kementerian Keuangan dalam keterangannya (26/11/2020).

Juga berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 38/PMK.02/2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Keuangan Negara untuk Penanganan Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) dan/atau Menghadapi Ancaman yang Membahayakan Perekonomian Nasional dan/atau Stabilitas Sistem Keuangan (PMK No. 38/PMK.02/2020),

Pokok-pokok terms & conditions SUN yang akan dilelang :

1. Tanggal Lelang  : Selasa, 1 Desember 2020, dibuka pukul 09.00 WIB dan ditutup pukul 11.00 WIB
2. Tanggal Setelmen : Kamis, 3 Desember 2020|
3. Target Indikatif  : Rp20 triliun
4. Target Maksimal : Rp40 triliun

Adapun jenis/seri SUN yang akan dilelang sebagai berikut : 

Conditions

SPN

ON

Seri

SPN12210304
(Reopening)

SPN12211202
(New Issuance)

FR0086
(Reopening)

FR0087
(Reopening)

FR0080
(Reopening)

FR0083
(Reopening)

FR0076
(Reopening)

Jatuh Tempo

4 Maret 2021

2 Desember 2021

15 April 2026

15 Februari 2031

15 Juni 2035

15 April 2040

15 Mei 2048

Tingkat Kupon

Diskonto

Diskonto

5,5 persen

6,5 persen

7,5 persen

7,5 persen

7,375 persen

Alokasi Pembelian Non-Kompetitif

Maksimal 50 persen
(dari yang dimenangkan)

Maksimal 30 persen (dari yang dimenangkan)

Peserta Lelang SUN

  1. Dealer Utama:
    Citibank N.A., Deutsche Bank AG, PT Bank HSBC Indonesia, PT Bank Central Asia, Tbk., PT Bank Danamon Indonesia, Tbk., PT Bank Maybank Indonesia, Tbk., PT Bank Mandiri (Persero), Tbk., PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk., PT Bank OCBC NISP, Tbk., PT Bank Panin, Tbk., PT Bank Rakyat Indonesia, Tbk., PT Bank Permata, Tbk., PT Bank CIMB Niaga Tbk., PT Bank ANZ Indonesia., Standard Chartered Bank, JP Morgan Chase Bank N.A., PT. Bahana Sekuritas, PT. Danareksa Sekuritas, PT. Mandiri Sekuritas, PT. Trimegah Sekuritas Indonesia, Tbk.
  2. Lembaga Penjamin Simpanan;
  3. Bank Indonesia

Sumber : DJPPR Kemenkeu

Kemenkeu menyatakan penjualan SUN tersebut akan dilaksanakan dengan menggunakan sistem pelelangan yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia. Lelang bersifat terbuka (open auction), menggunakan metode harga beragam (multiple price). Pemenang lelang yang mengajukan penawaran pembelian kompetitif (competitive bids) akan membayar sesuai dengan yield yang diajukan.

Pemenang lelang yang mengajukan penawaran pembelian non-kompetitif (non-competitive bids) akan membayar sesuai dengan yield rata-rata tertimbang (weighted average yield) dari penawaran pembelian kompetitif yang dinyatakan menang.

"Pemerintah memiliki hak untuk menjual ketujuh seri SUN tersebut lebih besar atau lebih kecil dari jumlah indikatif yang ditentukan. SUN yang akan dilelang mempunyai nominal per unit Rp1 juta," kata Kemenkeu.

Kemenkeu menambahkan pada prinsipnya, semua pihak baik investor individu maupun institusi, dapat menyampaikan penawaran pembelian (bids) dalam lelang. Namun dalam pelaksanaannya, penyampaian penawaran pembelian harus melalui peserta lelang sebagaimana diatur dalam PMK No. 168/PMK.08/2019 dan PMK No. 38/PMK.02/2020.

Realisasi SBN per Oktober

Menteri Keuangan Sri Mulyani sebelumnya menyatakan realisasi pembiayaan utang hingga Oktober 2020 mencapai Rp958,6 triliun, atau meralisasi 78,5 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam Perpres 72/2020 yang senilai Rp 1.220,5 triliun. Nilai itu melonjak hingga 143,8 persen dari realisasi Oktober 2019 yang senilai Rp393,2 triliun.

"Di mana penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) neto sudah diissue Rp943,5 triliun dan pinjaman Rp15,2 trilun," ungkap Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kita Edisi November 2020 secara virtual di Jakarta (23/11/2020).

Nilai penerbitan SBN hingga Oktober tahun ini melonjak 130,1 persen dibandingkan realisasi periode yang sama tahun lalu yang senilai Rp410 triliun. Adapun nilai pinjaman neto negatif 190 persen. Kemenkeu mencatat realisasi pembiayaan anggaran hingga Oktober 2020 mencapai Rp928 triliun, atau 89,3 persen dari pagu Perpres 72/2020, yang melesat 143 persen dari Oktober 2019.

"Realisasi pembiayaan anggaran yang 89,3 persen dari target, didukung likuiditas yang cukup dan kinerja pasar SBN yang baik," demikian disampaikan dalam materi paparan Sri Mulyani.

Sumber : Kemenkeu

Pembelian SBN oleh Bank Indonesia melalui skema burden sharing sesuai SKB I hingga Oktober 2020 mencapai Rp72,49 triliun, dengan rincian Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) Rp32,3 triliun dan Surat Utang Negara (SUN) Rp40,2 triliun. Adapun pembelian SBN oleh BI sesuai SKB II untuk public goods senilai Rp270 triliun, atau 67,92 persen dari target. Sedangkan penerbitan SBN untuk non public goods mencapai Rp152,03 triliun.

Realisasi APBN hingga Oktober 2020 mencatatkan defisit hingga Rp764,9 triliun atau mencapai 4,67 persen dari PDB. Untuk diketahui, akibat Covid-19 pemerintah mengasumsikan defisit APBN 2020 bisa bengkak ke Rp1.039 triliun atau 6,35 persen dari PDB. Pendapatan negara tercatat Rp1.276,9 triliun atau tumbuh negatif 15,4 persen. Sementara belanja negara Rp2.041 triliun atau tumbuh 13,6 persen untuk mendukung Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

"Perpres kita untuk defisit menggambarkan keseluruhan tahun defisit akan mencapai Rp1.039 triliun atau 6,34 persen dari PDB. Sekali lagi saya bawa ini dalam konteks G-20 ini fiscal support kontraksi cukup relatif modest. Negara lain bisa belasan persen," papar Sri Mulyani.

***

Ingin berinvestasi sekaligus bantu negara?

Dengan berinvestasi di SBN Ritel kita tidak hanya mendapatkan imbal hasil namun juga membantu pembiayaan APBN untuk pembangunan negara. Tunggu penerbitan SBN Ritel berikutnya di Bareksa. Belum memiliki akun Bareksa tetapi ingin berinvestasi di SBN? Segera daftar melalui aplikasi Bareksa sekarang, gratis hanya dengan menyiapkan KTP dan NPWP (opsional).

Bagi yang sudah punya akun Bareksa untuk reksadana, lengkapi data berupa rekening bank untuk mulai membeli SBN di Bareksa. Bagi yang sudah pernah membeli SBR, ORI atau Sukuk di Bareksa sebelumnya, Anda bisa menggunakan akun di Bareksa untuk memesan ST007.

PT Bareksa Portal Investasi atau bareksa.com adalah mitra distribusi resmi Kementerian Keuangan untuk penjualan Surat Berharga Negara (SBN) ritel secara online. Selain proses registrasi dan transaksi sangat cepat dan mudah, Anda juga dapat memantau investasi Anda dari mana saja dan kapan saja.