Kemenkeu Umumkan Transaksi Penjualan SUN US$4,3 Miliar, Begini Rinciannya

Yield yang dicapai untuk tenor 10,5 tahun, 30,5 tahun dan 50 tahun masing-masing 3,9 persen, 4,25 persen dan 4,5 persen
Bareksa • 16 Apr 2020
cover

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (dok. Humas Kemenkeu)

Bareksa.com - Kementerian Keuangan mengumumkan pada 6 April 2020, Pemerintah Republik Indonesia telah sukses melakukan transaksi penjualan tiga seri Surat Utang Negara (SUN) dalam denominasi dolar Amerika Serikat (USD Bonds) dengan total nominal US$4,3 miliar yang terdiri dari masing-masing US$1,65 miliar untuk tenor 10,5 tahun, US$1,65 miliar untuk tenor 30,5 tahun dan US$1 miliar untuk tenor 50 tahun.

Sesuai dengan kewenangan yang diberikan oleh Undang-Undang No. 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara, maka Menteri Keuangan menetapkan hasil transaksi penjualan SUN dalam valuta asing sebagai berikut :


Sumber : Kementerian Keuangan

Kemenkeu menyatakan penerbitan USD Bonds kali ini akan digunakan untuk memenuhi pembiayaan APBN secara umum, termasuk biaya untuk upaya penanganan dan pemulihan COVID-19. Pembiayaan APBN melalui mekanisme pasar merupakan upaya pemerintah untuk tetap menjalankan kebijakan fiskal secara kredibel, disiplin dan sustainabel di tengah kondisi perekonomian global yang volatile.

"Di sisi lain juga menggambarkan kebijakan fiskal yang responsif untuk mendukung tiga program prioritas pemerintah dalam penanganan COVID-19 yaitu penanganan masalah kesehatan, penyediaan jaring pengaman sosial, serta dukungan terhadap dunia usaha terutama UMKM," demikian disampaikan Kemenkeu dalam keterangannya (15/4/2020).

Pada transaksi kali ini, pemerintah melakukan penerbitan tenor 50 tahun untuk pertama kalinya setelah mempertimbangkan preferensi investor global bonds pada tenor yang sangat panjang, sekaligus untuk menyeimbangkan kurva jatuh tempo Surat Utang Negara dan menciptakan acuan (benchmark) tenor baru bagi Indonesia.

Dengan total penerbitan US$4,3 miliar atau yang terbesar sepanjang penerbitan USD Bonds, transaksi ini memperlihatkan kemampuan pemerintah untuk memanfaatkan window penerbitan dengan baik. Pada transaksi USD Bonds kali ini, yield yang dicapai untuk tenor 10,5 tahun, 30,5 tahun dan 50 tahun ini masing-masing adalah 3,9 persen, 4,25 persen dan 4,5 persen. Yield ketiga tenor tersebut masing-masing lebih ketat 25 bps, 30 bps dan 40 bps dari level initial price guidance.

Ketiga seri SUN yang diterbitkan memperoleh peringkat Baa2 dari Moody’s, BBB dari Standard & Poor’s, dan BBB dari Fitch* dan dicatatkan pada Singapore Stock Exchange dan Frankfurt Stock Exchange. Joint Bookrunners dalam transaksi ini adalah Citigroup, Deutsche Bank, Goldman Sachs, HSBC dan Standard Chartered Bank, sedangkan yang bertindak sebagai co-Managers adalah PT Danareksa Sekuritas dan PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk.

Sri Mulyani sebelumnya menyatakan keberhasilan pemerintah menerbitkan global bond dalam kondisi pasar keuangan dan perekonomian global yang volatile, menunjukkan besarnya kepercayaan investor terhadap kemampuan pemerintah dalam mengelola keuangan negara secara prudent. "Ini menunjukkan kepercayaan investor dari pengelolaan keuangan negara. Kita memanfaatkan 50 tahun dari preferensi tenor bond jangka panjang cukup kuat, sehingga kita bisa mendapatkan yield cukup baik," ujar Sri Mulyani.

Sri Mulyani mengatakan peringkat yang tinggi juga menunjukkan kepercayaan rating agency terhadap prospek perekonomian dan kemampuan pemerintah mengelola keuangan negara. Pada transaksi kali ini, pemerintah melakukan penerbitan tenor 50 tahun untuk pertama kalinya."Pemanfaatan dari penerbitan ini yang tadi malam dieksekusi sangat positif di tengah turbulensi pasar keuangan global. Ini penerbitan terbesar di tengah sejarah penerbitan USD bonds oleh pemerintah RI dan negara pertama di Asia yang menerbitkan sovereign bonds sejak pandemi covid-19 terjadi," jelas Sri Mulyani.

Penerbitan SBN dalam valuta asing juga diharapkan dapat memperkuat cadangan devisa Indonesia dan mendukung Bank Indonesia selaku otoritas moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Perlu dicatat juga bahwa penerbitan global bond kali ini dilakukan secara elektronik tanpa ada pertemuan fisik, termasuk road show dengan para calon investor. “Namun Alhamdulillah, dalam keterbatasan tersebut, kita masih bisa menyakinkan para investor untuk tetap berinvestasi di Indonesia”, ujarnya.

***

Ingin berinvestasi sekaligus bantu negara?

Pemerintah membuka masa penawaran Sukuk Ritel seri SR012 mulai 24 Februari 2020 dan telah berakhir pada 18 Maret 2020. Belum memiliki akun Bareksa tetapi ingin berinvestasi SBN seri selanjutnya? Segera daftar di sbn.bareksa.com sekarang, gratis hanya dengan menyiapkan KTP dan NPWP. Baca panduannya di sini.

Bagi yang sudah pernah membeli SBR, ORI atau Sukuk di Bareksa sebelumnya, Anda bisa menggunakan akun di sbn.bareksa.com untuk memesan SBN seri berikutnya.

Bila sudah memiliki akun Bareksa untuk reksadana sebelumnya, segera lengkapi data Anda berupa NPWP dan rekening bank yang dimiliki.

Kalau belum punya NPWP, tapi mau beli SBN? Kita juga bisa meminjam NPWP punya orang tua atau suami.

PT Bareksa Portal Investasi atau bareksa.com adalah mitra distribusi resmi Kementerian Keuangan untuk penjualan Surat Berharga Negara (SBN) ritel secara online. Selain proses registrasi dan transaksi sangat cepat dan mudah, Anda juga dapat memantau investasi Anda dari mana saja dan kapan saja.