Berita / SBN / Artikel

Sukuk Ritel SR013 Semakin Menarik Jika Suku Bunga BI Tetap 4 Persen, Mengapa?

Jika suku bunga BI turun, rupiah berpotensi makin berfluktuasi
Abdul Malik • 18 Sep 2020
cover

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI dihadapan wartawan di gedung BI, Jakarta, Kamis (18/7/2019). Hasil RDG tersebut BI memutuskan untuk menurunkan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 5,75 persen. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/hp)

Bareksa.com – Setelah melakukan rapat dalam kurun waktu 2 hari, Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed pada Rabu waktu AS (Kamis pagi WIB) memutuskan untuk mempertahankan tingkat suku bunga. Bahkan, The Fed berjanji akan menjaga tingkat suku bunga hampir nol hingga inflasi bisa menembus target bank sentral lebih dari 2 persen.

Proyeksi ekonomi baru menunjukkan bahwa sebagian besar pejabat The Fed memperkirakan suku bunga akan tetap di posisi sekarang hingga setidaknya tahun 2023.

"Pernyataan Gubernur The Fed Jerome Powell bahkan lebih dovish daripada ekspektasi pasar," kata Quincy Krosby, chief market strategist Prudential Financial kepada Reuters.

Krosby menambahkan pernyataan Powell menunjukkan bank sentral akan tetap akomodatif dalam waktu yang lama.

Bank Sentral AS menetapkan target inflasi lebih dari 2 persen untuk menutup inflasi sebelumnya yang kurang dari target awal 2 persen. The Fed menggeser kebijakan moneter dari kebijakan krisis menjadi kebijakan untuk menahan pasar tetap bertahan sepanjang pandemi lewat pemulihan dalam beberapa tahun.

BI Juga Diramal Pertahankan Suku Bunga

Bank Indonesia (BI) akan mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 17 September 2020. BI diperkirakan akan menahan suku bunga acuan pada RDG kali ini. Terdapat beberapa hal yang menjadi pertimbangan untuk mempertahankan suku bunga, di antaranya :

1. Jika suku bunga turun, rupiah berpotensi makin berfluktuasi

Peneliti Ekonomi Senior Institut Kajian Strategis (IKS) Eric Alexander Sugandi memprediksi BI akan tetap mempertahankan suku bunga acuan di level 4 persen, bahkan hingga akhir 2020. Eric menilai, penurunan suku bunga BI lebih lanjut, justru akan berisiko menekan rupiah. Di sisi lain, permintaan kredit belum tentu akan terdorong dikarenakan sisi permintaan kredit masih lemah

2. Jika suku bunga turun, capital outflow berpotensi makin deras

Senior Economist PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. Anton Hendranata juga memprediksi BI akan menahan penurunan suku bunga acuan meski inflasi tercatat rendah dan pertumbuhan ekonomi mengarah kepada resesi pada kuartal III 2020. Menurutnya, volatilitas rupiah dan tekanan keluar arus modal asing diperkirakan akan menjadi pertimbangan bank sentral dalam menentukan kebijakan suku bunga.

"BRI memperkirakan suku bunga kebijakan [7DRRR] dipertahankan tetap pada 4 persen pada RDG BI yang berakhir pada 17 September 2020," katanya.

Jika BI Rate Tetap 4 persen, SR013 akan Semakin Menarik

Sebagai informasi, saat ini ada jenis SBN ritel yang sedang ditawarkan oleh pemerintah yaitu Sukuk Negara Ritel SR013 selama masa penawaran 28 Agustus - 23 September 2020. Imbal hasil (kupon) yang ditawarkan oleh SR013 sebesar 6,05 persen per tahun dengan jangka waktu 3 tahun.

Berdasarkan Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) per 16 september 2020, yield obligasi pemerintah dengan jangka waktu 3 tahun berada di level 5,05 persen. Sehingga, dengan perbedaan 1 persen terhadap kupon SR013, maka sangat menarik apabila suku bunga di AS maupun di Indonesia belum diproyeksikan naik dalalm waktu dekat, mengingat harga obligasi di pasar sekunder berpotensi melanjutkan penguatannya.

SR013 bersifat tradable alias bisa diperdagangkan di pasar sekunder setelah dua kali pembayaran kupon, yaitu mulai 11 Desember 2020.

SR013 Laris Terjual

Menjelang pekan terakhir masa penawaran, Sukuk Negara Ritel seri SR013 laris terjual diburu investor. Tercatat hingga Rabu sore (16/9/2020) atau hari ke-20 masa penawaran, penjualan SR013 menembus Rp8,6 triliun (tepatnya Rp8.604.341.000.000). Dibandingkan penjualan sehari sebelumnya, yakni Selasa siang (15/9/2020) yang baru Rp7,27 triliun, maka realisasi penjualan harian kemarin mencapai sekitar Rp1 triliun.

Realisasi penjualan SR013 sudah jauh melampaui target awal Rp5 triliun. Kuota nasional atau target pemesanan SR013 telah dinaikkan jadi Rp10 triliun dari sebelumnya Rp9 triliun. Dengan begitu, kuota pemesanan SR013 masih tersisa Rp1,39 triliun. Masa penawaran masih tersisa 7 hari lagi hingga ditutup pada 23 September pukul 10.00 WIB.

(KA02/AM)

***

Ingin berinvestasi sekaligus bantu negara?

Pemesanan Sukuk Negara Ritel seri SR013 secara online di Bareksa hanya bisa dilakukan pada masa penawaran 28 Agustus - 23 September 2020. Belum memiliki akun Bareksa tetapi ingin berinvestasi SBN? Segera daftar melalui aplikasi Bareksa sekarang, gratis hanya dengan menyiapkan KTP dan NPWP (opsional).

Bagi yang sudah punya akun Bareksa untuk reksadana, lengkapi data berupa rekening bank untuk mulai membeli SBN di Bareksa. Bagi yang sudah pernah membeli SBR, ORI atau Sukuk di Bareksa sebelumnya, Anda bisa menggunakan akun di Bareksa untuk memesan SR013.

PT Bareksa Portal Investasi atau bareksa.com adalah mitra distribusi resmi Kementerian Keuangan untuk penjualan Surat Berharga Negara (SBN) ritel secara online. Selain proses registrasi dan transaksi sangat cepat dan mudah, Anda juga dapat memantau investasi Anda dari mana saja dan kapan saja.