BeritaArrow iconSBNArrow iconArtikel

10 Tahun Terakhir, Permintaan Obligasi Negara Ritel Selalu Ramai. Kenapa?

Bareksa13 Mei 2016
Tags:
10 Tahun Terakhir, Permintaan Obligasi Negara Ritel Selalu Ramai. Kenapa?
Obligasi Negara Ritel (ORI) telah diterbitkan sejak 2006. Bisa dibeli masyarakat mulai dengan nilai Rp5 juta (Didesain dari foto Antara)

ORI bisa menjadi alternatif investasi yang aman dengan potensi imbal hasil di atas bunga deposito di bank.

Bareksa.com – Saat ini pemerintah melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah menyiapkan rencana peluncuran Electronic Trading Platform (ETP) perdagangan obligasi. Dengan platform ini, pembentukan harga obligasi di pasar dapat menjadi lebih transparan. Langkah ini ditempuh pemerintah untuk meningkatkan minat masyarakat berinvestasi pada produk pasar modal, khususnya pada instrumen obligasi. (Baca juga: OJK Luncurkan Sistem Trading Obligasi Elektronik, Kenapa?)

Untuk yang masih awam, obligasi dapat menjadi salah satu alternatif investasi yang menarik. Kenapa? Karena memiliki potensi keuntungan di atas bunga deposito bank, dengan risiko yang relatif rendah.

Obligasi adalah surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah dan korporasi yang memiliki jatuh tempo dan nilai kupon (bunga) tertentu. Kupon obligasi akan dibayarkan pada periode tertentu secara rutin. Adapun nilai pokok dari hutang akan dibayarkan pada saat obligasi bersangkutan jatuh tempo.

Promo Terbaru di Bareksa

Selama ini obligasi yang banyak diminati oleh masyarakat adalah yang diterbitkan oleh pemerintah. Obligasi diterbitkan pemerintah untuk mendapatkan sumber pendanaan bagi pengeluaran pemerintah seperti pengembangan proyek infrastruktur, dan lainnya.

Obligasi pemerintah yang ditransaksikan umumnya berjenis obligasi negara dengan kupon tetap (fixed rate, FR) dan kupon mengambang (variable rate, VR). Untuk mengetahui lebih mendalam perbedaan kedua jenis obligasi ini, klik tautan berikut.

Sejak tahun 2006, pemerintah menerbitkan Obligasi Negara Ritel (ORI). ORI termasuk obligasi yang berkupon (bunga) tetap dan dapat dibeli secara eceran oleh semua kalangan, mulai dari ibu rumah tangga, pengusaha, karyawan swasta, termasuk pegawai negeri.

ORI dikatakan merupakan obligasi ritel sebab penjualan dan pembelian dapat dilakukan dengan dana yang relatif terjangkau--mulai dari Rp5 juta dan kelipatannya seperti Rp10 juta, Rp15 juta, dan seterusnya, hingga maksimum Rp3 miliar. Untuk pembelian dan penjualannya, kita bisa datang ke bank atau perusahaan keuangan yang ditunjuk sebagai agen penjual.

Selama 10 tahun sejak pertama kali diterbitkan di tahun 2006 itu, pemerintah telah merilis seri ORI001 hingga 012. Penerbitan yang berkelanjutan ini mengindikasikan bahwa obligasi pemerintah cukup menarik bagi investor ritel.

Dari 12 seri, ORI001 sampai ORI009 telah jatuh tempo sehingga sudah tidak lagi diperdagangkan di pasar. Saat ini, terdapat 3 ORI yang masih beredar dan aktif diperdagangkan di pasar, yakni ORI010 dengan kupon 8,5 persen, ORI011 8,5 persen, ORI012 9,0 persen,

Tabel: Daftar Obligasi Negara Ritel (ORI) Seri 001 S.d. 012

Illustration

Sumber: Media massa, diolah Bareksa

Tingginya permintaan

Sepanjang penerbitan ORI, juga terlihat beberapa kali peningkatan target penjualan akibat ada pemesanan yang cukup besar. Saat menerbitkan ORI001, pemerintah menyerap semua pemesanan hingga mencapai Rp3,2 triliun. Padahal, target awal pemerintah hanya sekitar Rp2 triliun.

Hal yang sama terjadi pada penerbiitan ORI006 dan ORI007. Pemerintah mampu meraup lebih dari Rp8 triliun dan menyerap semua penawaran yang masuk. Awalnya, target awal penjualan ORI006 dan ORI007 masing masing hanya Rp3,6 triliun dan Rp5 triliun.

Dalam beberapa kali penerbitan, volume penawaran yang masuk juga cenderung meningkat. Hal ini mengindikasikan minat investor terhadap ORI terus naik.

Berikut adalah grafik yang menunjukan terjadinya over subscribed pada penjualan ORI001 hingga ORI012, dengan membandingkan total penawaran yang masuk dengan yang diterima (diserap pemerintah).

Grafik: Data Pemesanan (Subscription) ORI001 S.d. ORI012

Illustration

Sumber: Dari Sejumlah Media Massa

Terihat, ORI008 mengalami lonjakan permintaan (over subscribed) yang menapai 1,85 kali. Penawaran yang masuk mencapai Rp20,3 triliun, namun yang diserap pemerintah hanya sekitar Rp11 triliun.

Dalam penerbitan ORI-ORI selanjutnya, total penawaran yang masuk hampir sama dengan yang diterima, dengan bid to cover ratio menunjukkan angka 1,01 kali. Ini menandakan permintaan ORI yang terjadi di pasar mampu diserap pemerintah dengan baik.

Keunggulan ORI

Bila dibandingkan dengan instrumen investasi lain, ORI memiliki beberapa keunggulan. Beberapa di antaranya adalah potensi bunga yang dihasilkan cenderung di atas bunga deposito, mendapatkan hasil berupa kupon yang dibayarkan tiap bulan (bunga setahun dibagi 12), dan kemungkinan terjadinya risiko gagal bayar sangat kecil karena dijamin dua undang-undang, yakni UU Surat Utang Negara dan UU APBN. Juga tidak kalah penting, ORI cukup likuid dan mudah dicairkan.

ORI memang instrumen investasi yang relatif aman. Namun, perlu tetap diingat bahwa dalam setiap investasi--tak terkecuali ORI--tetap mengandung risiko. Dalam hal ini, risikonya adalah capital loss (kerugian) dan likuiditas.

Juga perlu diingat bahwa saat suku bunga acuan naik, harga ORI akan cenderung turun. Hal ini membuat investor cenderung menahan dan menyimpan ORI hingga jatuh tempo, agar tidak merugi. Ini karena pada saat jatuh tempo, investor akan mendapat pelunasan 100 persen dari nilai pokok ORI. (kd)

Pilihan Investasi di Bareksa

Klik produk untuk lihat lebih detail.

Video Pilihan

Lihat Semua

Artikel Lainnya

Lihat Semua