Yield SUN Pekan Ini Cukup Menarik, Reksadana Pendapatan Tetap Terimbas Positif

Potensi yield mengecil cukup besar dengan SUN untuk tenor 10 tahun di rentang 6,7-6,8 persen
Bareksa • 12 Aug 2020
cover

Ilustrasi investor sedang merencanakan investasinya di reksadana pendapatan tetap (shutterstock)

Bareksa.com - Imbal hasil (yield) Surat Utang Negara (SUN) pekan ini diperkirakan akan menurun. Hal ini berpengaruh positif terhadap reksadana pendapatan tetap yang memiliki portofolio SUN di dalamnya.

Associate Director Fixed Income PT Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto mengatakan, pemerintah dan Bank Indonesia dalam waktu dekat diprediksi akan kembali menurunkan suku bunga acuan. Hal ini guna memacu perekonomian di tengah pandemi Covid-19. Penurunan inilah yang menyebabkan yield SUN berpotensi untuk menurun.

"Potensi yield mengecil cukup besar dengan SUN untuk tenor 10 tahun di rentang 6,7-6,8 persen," jelas dia di Jakarta kemarin.

Kendati yield menarik, namun pasar SUN masih akan dibayangi volatilitas. Ketidakpastian atas penyelesaian wabah virus corona menjadi penyebab atas fluktuasi tersebut. Karena itu, investor disarankan untuk bersikap hati-hati dan membeli SUN secara bertahap.

"Usahakan untuk membeli SUN seri benchmark, karena seri tersebut yang paling likuid," terang dia.

Di sisi lain, Direktur Asosiasi Riset dan Investasi PT Pilarmas Investindo Maximilianus Nico Demus juga menilai, tingkat volatilitas di pasar SUN cukup tinggi. Dia memperkirakan SUN dengan tenor lima tahun akan berada di rentang 5,8-6 persen, tenor 10 tahun di level 6,75-6,9 persen, tenor 15 tahun di rentang 7,2-7,35 persen dan rentang 20 tahun di level 7,4-7,55 persen.

Nico mengungkapkan, penyebab dari volatilitas tersebut adalah rilis data perekonomian Singapura dan Malaysia yang berpotensi untuk negatif.

"Hal ini memberikan indikasi bahwa perekonomian di wilayah Asia dan seluruh dunia sedang berada dalam kondisi tidak baik," papar dia.

Bagi investor, Nico menyarankan agar pelaku pasar dan investor bisa memilih SUN untuk mengurangi volatilitas. Adapun perbandingan antara SUN bertenor panjang dan pendek adalah 30:70.

Dalam situasi ini pula, Nico merekomendasikan investor agar bisa menyisihkan dana untuk berinvestasi di obligasi korporasi. Namun, dengan tetap memperhatikan kualitas kredit yang baik dan kupon yang tinggi.

Sementara itu, bagi investor yang tidak ingin membeli produk SUN secara langsung, bisa membelinya melalui reksadana pendapatan tetap. Produk ini dikelola oleh perusahaan manajemen investasi dengan menyertakan portofolio SUN di dalamnya.

Yield SUN yang menarik tentunya berimbas positif kepada produk reksadana pendapatan tetap.

Menurut data Bareksa, dari 47 reksadana pendapatan tetap yang ada di Bareksa, enam di antaranya membukukan yield di atas 10 persen setahun terakhir (per 11 Agustus 2020).

Adapun keenam produk tersebut adalah Cipta Bond dari PT Ciptadana Asset Management, Capital Fixed Income Fund dari PT Capital Asset Management, Sucorinvest Bond Fund dari PT Sucor Asset Management, Manulife Obligasi Negara Indonesia dari PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, RHB Fixed Income Fund 2 dari PT RHB Asset Management dan Medali Dua dari PT Mega Capital Investama.

Perbandingan NAV Reksadana Pendapatan Tetap


Sumber : Bareksa

(K09/AM)

***

Ingin berinvestasi yang aman di reksadana dan diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Pilih reksadana, klik tautan ini
- Belajar reksadana, klik untuk gabung di Komunitas Bareksa Fund Academy. GRATIS

DISCLAIMER

Semua data return dan kinerja investasi yang tertera di dalam artikel ini tidak dapat digunakan sebagai jaminan dasar perhitungan untuk membeli atau menjual suatu efek. Data-data tersebut merupakan catatan kinerja berdasarkan data historis dan bukan merupakan jaminan atas kinerja suatu efek di masa mendatang. Investasi melalui reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus sebelum memutuskan untuk berinvestasi melalui reksadana.