ST017: Tim Analis Bareksa Prediksi Imbal Hasil 6,8%–7,1%
Tim Analis Bareksa memprediksi imbal hasil minimal ST017 tenor 2 tahun (ST017T2) sebesar 6,8%–6,9% dan ST017 tenor 4 tahun (ST017T4) 7%–7,1%. Simak dasar proyeksi dan data PHEI terbaru.

Tim Analis Bareksa memprediksi imbal hasil minimal ST017 tenor 2 tahun (ST017T2) sebesar 6,8%–6,9% dan ST017 tenor 4 tahun (ST017T4) 7%–7,1%. Simak dasar proyeksi dan data PHEI terbaru.
Bareksa – Tim Analis Bareksa memperkirakan imbal hasil atau kupon minimal Sukuk Tabungan ST017 tenor dua tahun (ST017T2) sebesar 6,8%–6,9% dan tenor empat tahun (ST017T4) sebesar 7%–7,1% per tahun, menjelang penawaran pada 6 November 2026. Prediksi tersebut mempertimbangkan kenaikan yield SBN tenor setara, BI Rate 5,75%, serta tekanan pasar global. Angka ini merupakan proyeksi analis, bukan tingkat imbalan resmi pemerintah.
Berapa Prediksi Imbal Hasil ST017?
Tim Analis Bareksa memprediksi rentang tingkat imbalan atau kupon minimal (floor) sebagai berikut.
Indikator | ST017T2 | ST017T4 |
|---|---|---|
Prediksi imbal hasil | 6,8%–6,9% | 7%–7,1% |
Titik tengah proyeksi | 6,85% | 7,05% |
Tenor | 2 tahun | 4 tahun |
BI-Rate acuan | 5,75% | 5,75% |
Spread terhadap BI Rate | 105–115 bps | 125–135 bps |
Jenis imbalan | Floating with floor | Floating with floor |
Sumber: Tim Analis Bareksa
Promo Terbaru di Bareksa
Berdasarkan rentang proyeksi, spread imbal hasil ST017T2 diperkirakan 105–115 basis poin (bps) dan kupon ST017T4 sebesar 125–135 bps di atas BI Rate 5,75%. Satu basis poin setara 0,01 poin persentase.
Mengapa Imbal Hasil ST017 Diprediksi Lebih Tinggi?
1. Yield SBN Tenor 2 dan 4 Tahun Meningkat
Berdasarkan data Indonesia Government Securities Yield Curve (IGSYC) PHEI per 27 Oktober 2026, yield acuan Surat Berharga Negara (SBN) tenor dua tahun mencapai 6,9%, sedangkan tenor empat tahun 7,22%. Keduanya meningkat dibandingkan perdagangan sebelumnya. Yield tenor 10 tahun juga naik menjadi 7,49%, bahkan sempat menyentuh 7,56% secara intraday.
Tenor SBN | 26 Oktober | 27 Oktober | Perubahan |
|---|---|---|---|
2 tahun | 6,88% | 6,90% | 2,18 bps |
4 tahun | 7,20% | 7,22% | 2,44 bps |
10 tahun | 7,44% | 7,49% | 4,64 bps |
Sumber: PHEI, 27 Oktober 2026
Kenaikan yield mencerminkan meningkatnya imbal hasil yang diminta pasar. Kondisi ini menjadi salah satu dasar Tim Analis Bareksa memperkirakan imbalan ST017 lebih tinggi dibandingkan tingkat minimal SBN ritel yang diterbitkan sebelumnya.
Yield SBN dengan tenor yang sama di pasar sekunder menjadi salah satu pertimbangan utama dalam penetapan imbal hasil SBN ritel, termasuk ST017. Karena itu, kenaikan yield SBN tenor dua tahun menjadi 6,90% dan empat tahun 7,22% per 27 Oktober 2026 menjadi dasar penting prediksi Tim Analis Bareksa, selain BI-Rate, tingkat bunga penjaminan LPS, bunga deposito, dan kondisi makroekonomi. Besaran imbalan resmi akan ditetapkan pemerintah maksimal jelang hari H penawaran.
2. BI Rate 5,75%, Bunga Penjaminan LPS 3,75%
Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di 5,75% pada 21 Oktober 2026, setelah menaikkannya secara kumulatif 100 bps pada Mei–Juni. Sementara itu, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mempertahankan tingkat bunga penjaminan simpanan rupiah di bank umum 3,75%, berlaku 1 Oktober 2026–31 Januari 2027
Tingkat bunga penjaminan LPS bukan rata-rata bunga deposito bank, melainkan batas suku bunga dalam persyaratan penjaminan simpanan. Perkembangan kedua indikator ini menjadi pembanding untuk menilai posisi indikatif imbalan ST017 di tengah kondisi suku bunga domestik.
3. Rupiah dan Tekanan Global Masih Membayangi
Menurut laporan Ciptadana Sekuritas, rupiah berada di sekitar Rp18.153 per dolar AS pada 27 Oktober, sedangkan harga minyak Brent mencapai sekitar US$113,9 per barel. Pada hari yang sama, yield US Treasury tenor 10 tahun berada di 4,99%, menurut Departemen Keuangan AS. Investor juga mencermati hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 27–28 Oktober 2026 yang dapat memengaruhi ekspektasi suku bunga global.
Di dalam negeri, lelang SUN pada 27 Oktober membukukan penawaran masuk Rp31,09 triliun, dengan nominal dimenangkan Rp20,65 triliun. Persaingan instrumen pendapatan tetap dan kondisi permintaan pasar menjadi pertimbangan tambahan dalam menyusun proyeksi imbalan ST017.
Perbandingan Prediksi ST017 dengan ST016 dan SBR015
Seri SBN Ritel | Tenor 2 Tahun | Tenor 4 Tahun |
|---|---|---|
ST016 — imbalan minimal awal | 6,05% | 6,25% |
ST016 — imbalan berjalan* | 7,05% | 7,25% |
SBR015 — kupon minimal awal | 6,75% | 6,85% |
ST017 — prediksi imbalan minimal | 6,80%–6,90% | 7,00%–7,10% |
Sumber: DJPPR Kementerian Keuangan dan Tim Analis Bareksa. *Imbalan berjalan ST016 berlaku 11 Agustus–10 November 2026.
Pada titik tengah, prediksi kupon ST017 mencatat 80 bps lebih tinggi daripada imbalan minimal awal ST016, untuk kedua tenor. Dibandingkan kupon minimal awal SBR015, proyeksi titik tengah ST017 lebih tinggi 10 bps untuk T2 dan 20 bps untuk T4. Namun, investor perlu membedakan imbalan minimal awal dengan kupon berjalan.
Akibat penyesuaian mengikuti kenaikan BI Rate, imbalan ST016 yang sedang berlaku justru lebih tinggi daripada seluruh rentang prediksi ST017. SBR015 sebelumnya berhasil menghimpun Rp17,01 triliun dari 62.529 investor. Meski menunjukkan permintaan SBN ritel masih ada, realisasi tersebut tidak menjamin ST017 akan memperoleh hasil penjualan serupa.
Kapan ST017 Ditawarkan dan Apa Risikonya?
Berdasarkan jadwal sementara DJPPR, ST017 direncanakan ditawarkan pada 6 November–2 Desember 2026, dengan tenor dua dan empat tahun serta minimal pemesanan Rp1 juta. ST017 menggunakan skema imbalan mengambang dengan batas minimal (floating with floor). Imbalan dapat meningkat mengikuti penyesuaian BI Rate, tetapi tidak turun di bawah tingkat minimal yang ditetapkan pemerintah saat penerbitan.
Sebagai instrumen yang tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder, ST017 memiliki keterbatasan likuiditas. Fasilitas pencairan awal (early redemption) tersedia secara terbatas sesuai persyaratan pemerintah. Karena itu, calon investor perlu memperhatikan pengumuman imbalan resmi, tenor, serta kebutuhan dana sebelum melakukan pemesanan.
Catatan Penting untuk Investor
- Prediksi ST017T2: Imbal hasil minimal 6,8%–6,9% per tahun.
- Prediksi ST017T4: Kupon minimal 7%–7,1% per tahun.
- Dasar analisis: Yield PHEI SBN tenor 2 tahun 6,9% dan 4 tahun 7,22%, BI Rate 5,75%, serta tekanan global.
- Status: Proyeksi Tim Analis Bareksa, belum ditetapkan pemerintah.
Kesimpulan
Tim Analis Bareksa memperkirakan imbal hasil minimal ST017 berada di rentang 6,8%–6,9% untuk tenor dua tahun dan 7%–7,1% untuk tenor empat tahun. Proyeksi tersebut didukung kenaikan yield SBN dan kondisi suku bunga domestik maupun global. Namun, tingkat imbalan resmi ST017 masih menunggu pengumuman Kementerian Keuangan. Investor perlu menggunakan angka prediksi sebagai referensi analisis, bukan kepastian hasil investasi.
Investasi di Aplikasi SBN Ritel Terbaik - Bareksa
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi SBN resmi yang memudahkan pembelian obligasi negara seperti ORI, SR, ST, dan SBR. Kamu dapat membandingkan imbal hasil, memahami risiko, dan mengikuti jadwal penerbitan dengan jelas. Cocok untuk investor yang mencari investasi aman dengan dukungan negara, semuanya tersedia dalam satu aplikasi investasi terpercaya. Pembelian SBN di Bareksa hanya melalui aplikasi Bareksa resmi. Bareksa tidak pernah meminta transfer ke rekening pribadi.
Siap-siap Investasi ST017 di Sini
(Rahmat Hidayat/Sigma Kinasih CTA, CFP/AM)
Tentang Penulis
*Rahmat Hidayat adalah Investment Specialist Bareksa dengan pengalaman lebih dari 7 tahun di bidang investasi dan produk finansial digital. Ia aktif mengembangkan produk pasar modal dan memberikan edukasi keuangan kepada masyarakat, serta memegang lisensi WPPE.
*Sigma Kinasih adalah Investment Strategist Bareksa dengan
pengalaman lebih dari 12 tahun di industri pasar modal. Memegang
lisensi WMI, WPPE, CTA, dan CFP, ia berfokus pada riset makroekonomi,
strategi portofolio, serta analisis reksadana, saham, emas dan SBN.
Sigma meraih gelar Magister Ekonomi dari Universitas Trisakti.
Pertanyaan Umum
Berapa prediksi imbal hasil ST017T2?
Tim Analis Bareksa memperkirakan imbal hasil minimal 6,8%–6,9% per tahun.
Berapa prediksi imbal hasil ST017T4?
Diperkirakan 7%–7,1% per tahun.
Apakah imbal hasil ST017 sudah resmi?
Belum. Pemerintah dijadwalkan menetapkannya menjelang masa penawaran November 2026.
Mengapa prediksi ST017 lebih tinggi daripada floor awal ST016?
Karena proyeksi mempertimbangkan kenaikan yield SBN tenor setara, BI-Rate yang lebih tinggi, dan perkembangan pasar keuangan.
Kapan ST017 mulai ditawarkan?
Dijadwalkan pada 6 November–2 Desember 2026 (tentatif).
Profil Penulis

Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WMI dan WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
Pilihan Investasi di Bareksa
Klik produk untuk lihat lebih detail.
| Produk Eksklusif | Harga/Unit | 1 Bulan | 6 Bulan | YTD | 1 Tahun | 3 Tahun | 5 Tahun |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
Trimegah Dana Obligasi Nusantara autodebet | 1.256,24 | ||||||
Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A | 1.210,54 | - | - | ||||
STAR Stable Amanah Sukuk autodebet | 1.220,41 | - | - | ||||
Eastspring Syariah Mixed Asset Fund Kelas A | 1.027,41 | - | - |
Produk Belum Tersedia
Ayo daftar Bareksa SBN sekarang untuk bertransaksi ketika periode pembelian dibuka.
Ayo daftar Bareksa SBN sekarang untuk bertransaksi ketika periode pembelian dibuka.
