BeritaArrow iconSahamArrow iconArtikel

OJK: Jumlah Investor Pasar Modal Tembus 31,14 Juta, Asing Borong SBN Rp15,35 Triliun

08 September 2026
Tags:
OJK: Jumlah Investor Pasar Modal Tembus 31,14 Juta, Asing Borong SBN Rp15,35 Triliun
Ilustrasi sejumlah investor muda tampak gembira berinvestasi di saham, reksadana dan SBN melalui aplikasi Bareksa. (Shutterstock)

Pasar modal domestik mencatat tiga sinyal pemulihan pada Agustus 2026: jumlah investor bertambah 1,07 juta dalam sebulan, investor asing membukukan pembelian bersih di saham dan SBN, serta aktivitas transaksi saham meningkat.

Bareksa - Jumlah investor pasar modal Indonesia mencapai 31,14 juta pada akhir Agustus 2026. Berdasarkan hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), terdapat penambahan 1,07 juta investor baru hanya dalam satu bulan. Secara year to date (YTD), jumlah investor tumbuh 52,9%.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Merangkap Anggota Dewan Komisioner OJK Hasan Fawzi mengatakan pertumbuhan basis investor berlangsung ketika pasar saham domestik mulai menguat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup Agustus di level 6.525,48, naik 4,64% secara bulanan. Meski demikian, indeks masih terkoreksi 24,53% sejak awal tahun. Artinya, penguatan bulanan tersebut tampak sebagai fase pemulihan, belum sebagai penghapusan seluruh tekanan sepanjang 2026.

Ringkasan untuk Investor

  • Investor pasar modal mencapai 31,14 juta, bertambah 1,07 juta selama Agustus.

  • Asing membukukan net buy saham Rp1,19 triliun dan SBN Rp15,35 triliun.

  • IHSG naik 4,64% secara bulanan, tetapi masih turun 24,53% secara YtD.

  • Reksadana mengalami net redemption Rp8,5 triliun meski NAB naik tipis 0,05%.

Dana asing masuk ke saham dan SBN

Investor asing mencatat pembelian bersih atau net buy saham Rp1,19 triliun pada Agustus 2026. Nilainya lebih rendah dibandingkan net buy Rp1,62 triliun pada Juli, tetapi menunjukkan arus masuk berlanjut selama dua bulan berturut-turut.

Promo Terbaru di Bareksa

Likuiditas perdagangan juga membaik. Rata-rata nilai transaksi harian saham meningkat menjadi Rp15,86 triliun dari Rp14,31 triliun pada Juli. Rata-rata bid-ask spread menyempit dari 1,33% menjadi 1,17%. Spread yang lebih sempit umumnya menunjukkan jarak harga beli dan jual mengecil sehingga proses transaksi menjadi lebih efisien.

Arus masuk yang lebih besar terjadi di pasar Surat Berharga Negara (SBN). Investor asing mencatat net buy SBN Rp15,35 triliun pada Agustus, melonjak dari Rp6,79 triliun pada Juli. Pada saat yang sama, yield SBN secara rata-rata naik 26,48 basis poin secara bulanan. Kenaikan yield berarti harga obligasi di pasar sekunder mengalami tekanan, tetapi juga menciptakan tingkat imbal hasil masuk yang lebih tinggi bagi investor baru.

Indonesia Composite Bond Index (ICBI) tetap naik 2,23% secara bulanan ke 440,04, meskipun masih turun tipis 0,18% secara YTD.

Mengapa reksa dana justru mengalami net redemption?

Di tengah pemulihan pasar, investor reksa dana membukukan net redemption Rp8,50 triliun pada Agustus. Namun, Nilai Aktiva Bersih (NAB) industri masih naik tipis 0,05% secara bulanan menjadi Rp652,88 triliun. Total dana kelolaan industri pengelolaan investasi juga meningkat 0,03% menjadi Rp1.013,03 triliun.

Perbedaan arah antara arus keluar investor dan kenaikan tipis NAB dapat terjadi ketika kenaikan nilai aset dalam portofolio membantu mengimbangi pencairan unit. Artinya kenaikan jumlah investor pasar modal tidak otomatis berarti seluruh kategori produk memperoleh arus dana masuk pada periode yang sama.

Bagi investor, sinyal pasar Agustus mendukung pendekatan bertahap. Reksadana pasar uang dapat digunakan untuk kebutuhan likuiditas, reksadana pendapatan tetap dapat dicermati saat yield obligasi meningkat, sedangkan reksadana saham lebih sesuai untuk horizon panjang dan toleransi fluktuasi yang lebih tinggi. Pilihan tetap perlu disesuaikan dengan tujuan, profil risiko, dan jangka waktu investasi.

Tabel Perbandingan Pasar Juli-Agustus 2026

Indikator

Juli 2026

Agustus 2026

Perubahan

Net buy asing saham

Rp1,62 triliun

Rp1,19 triliun

Turun Rp0,43 triliun

Net buy asing SBN

Rp6,79 triliun

Rp15,35 triliun

Naik Rp8,56 triliun

Rata-rata transaksi harian saham

Rp14,31 triliun

Rp15,86 triliun

Naik 10,83%

Bid-ask spread saham

1,33%

1,17%

Menyempit 0,16 poin persentase

Sumber: OJK

Grafik: Arus Dana Asing ke Saham dan SBN

Grafik arus dana asing ke saham dan SBN

Kesimpulan

Pemulihan pasar Agustus didukung kenaikan IHSG, aktivitas transaksi, dan arus asing—terutama ke SBN. Namun, koreksi IHSG secara YTD dan net redemption reksadana menunjukkan investor tetap perlu masuk bertahap dan membagi aset sesuai tujuan serta profil risiko.

Investasi di Aplikasi Trading Saham Online Terbaik – Bareksa

Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.

Beli Saham di Sini

***

DISCLAIMER​​​​​​​​​

Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.

Pertanyaan Umum

Apakah net buy asing berarti IHSG pasti naik?

Tidak. Arus asing mendukung sentimen, tetapi indeks juga dipengaruhi laba emiten, valuasi, rupiah, suku bunga, dan kondisi global.

Mengapa yield SBN naik tetapi asing tetap membeli?

Yield yang lebih tinggi dapat memperbaiki potensi imbal hasil masuk, meskipun harga obligasi masih dapat berfluktuasi.

Apakah net redemption berarti industri reksadana memburuk?

Belum tentu. Arus keluar perlu dibaca bersama perubahan NAB, kinerja aset, dan komposisi pencairan per jenis reksadana.

Profil Penulis

Abdul Malik
Abdul Malik

Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.

Pilihan Investasi di Bareksa

Klik produk untuk lihat lebih detail.

Video Pilihan

Lihat Semua

Artikel Lainnya

Lihat Semua