Target Harga Saham PT Timah (TINS) Naik Jadi Rp4.200, Apa Katalis dan Risikonya?
Analis Ciptadana Sekuritas mempertahankan rekomendasi BUY untuk saham Timah (TINS) dengan target harga Rp4.200. Simak katalis kenaikan laba, prospek harga timah, dan risikonya.

Analis Ciptadana Sekuritas mempertahankan rekomendasi BUY untuk saham Timah (TINS) dengan target harga Rp4.200. Simak katalis kenaikan laba, prospek harga timah, dan risikonya.
Bareksa - Riset Ciptadana Sekuritas Asia (13/7) mempertahankan rekomendasi BUY untuk saham PT Timah Tbk (TINS) dan menaikkan target harga menjadi Rp4.200 per saham dari sebelumnya Rp3.400.
Optimisme tersebut didorong oleh harga timah dunia yang diperkirakan tetap tinggi akibat defisit pasokan global, kenaikan produksi perusahaan, serta potensi tambahan kapasitas dari aset smelter sitaan yang belum masuk dalam proyeksi laba.
Analis Naikkan Target Harga TINS Menjadi Rp4.200
Analis menaikkan target harga saham TINS menjadi Rp4.200, sekitar 25% di atas harga pasar Rp3.360 saat laporan diterbitkan.
Promo Terbaru di Bareksa
Rekomendasi BUY tetap dipertahankan karena prospek fundamental perusahaan dinilai semakin kuat di tengah siklus kenaikan harga timah global.
Analis juga menaikkan proyeksi laba bersih TINS masing-masing sebesar:
FY2026: +63%
FY2027: +63%
FY2028: +44%
Kenaikan estimasi tersebut sepenuhnya berasal dari asumsi harga timah yang lebih tinggi dibanding proyeksi sebelumnya.
Pasokan Global Diperkirakan Tetap Defisit
Menurut analis, pasar timah global masih mengalami structural supply deficit, yakni kondisi ketika pertumbuhan produksi tambang tidak mampu mengejar kenaikan permintaan.
Beberapa faktor utama yang menopang harga timah antara lain:
Konsumsi timah global diperkirakan tumbuh sekitar 3,5% per tahun.
Indonesia dan Myanmar menyumbang sekitar 28% produksi bijih timah dunia pada 2025.
Tambang Man Maw Mine di Myanmar yang berhenti beroperasi sejak Agustus 2023 belum diperkirakan pulih secara penuh meski proses dewatering telah dimulai pada awal 2026.
Gangguan tersebut menghilangkan sekitar 7-8% pasokan timah global.
Akibat keterbatasan pasokan tersebut, harga timah di London Metal Exchange (LME) bertahan di atas US$50.000 per ton, jauh lebih tinggi dibanding rata-rata harga sepanjang 2025 sebesar US$34.120 per ton.
AI dan Data Center Jadi Mesin Permintaan Baru
Selain pasokan yang ketat, permintaan timah juga mendapat dukungan dari tren pertumbuhan industri teknologi.
Sekitar 48% konsumsi timah dunia digunakan sebagai bahan solder elektronik. Permintaan diperkirakan terus meningkat seiring berkembangnya:
Artificial Intelligence (AI)
Semikonduktor
Data center
Kendaraan listrik
Energi terbarukan
Dengan demikian, permintaan timah dinilai memiliki karakter yang lebih struktural dibanding siklus komoditas biasa. Grafik dalam laporan juga menunjukkan aplikasi solder masih menjadi penggunaan terbesar timah secara global.
Produksi TINS Diperkirakan Melonjak pada 2026
Manajemen PT Timah menargetkan produksi bijih timah mencapai 30.000 ton pada 2026 atau naik sekitar 61% dibanding realisasi 2025. Namun analis menggunakan asumsi yang lebih konservatif sebesar 28.000 ton.
Dengan asumsi tersebut, pendapatan TINS diperkirakan melonjak menjadi:
Indikator | FY2025 | FY2026F |
Pendapatan | Rp11,55 triliun | Rp24,94 triliun |
Pertumbuhan | - | 116% |
Sumber: riset Ciptadana Sekuritas
Laba bersih diperkirakan meningkat menjadi sekitar Rp2,81 triliun pada 2026 dibanding Rp1,31 triliun pada 2025.
Smelter Sitaan Rp7 Triliun Belum Masuk Proyeksi
Salah satu potensi tambahan (upside) berasal dari enam smelter timah sitaan yang telah diserahkan kepada PT Timah pada 2026. Nilai aset tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp7 triliun, termasuk fasilitas pengolahan dan persediaan.
Namun seluruh aset tersebut:
belum tercatat dalam neraca,
belum memberikan kontribusi terhadap laba,
masih menunggu penyelesaian proses hukum dan akuntansi.
Jika nantinya dapat dioperasikan, kapasitas produksi maupun profitabilitas TINS berpotensi meningkat lebih lanjut.
Risiko Royalti Masih Perlu Dicermati
Analis menilai risiko regulasi mulai mereda setelah pemerintah menunda:
kenaikan tarif royalti mineral,
skema mining gross split.
Namun demikian, revisi royalti tetap menjadi risiko utama. Menurut simulasi analis, apabila usulan kenaikan royalti diberlakukan selama enam bulan saja, estimasi laba perusahaan dapat turun sekitar 16%.
Proyeksi Keuangan TINS
Indikator | FY2025 | FY2026F | FY2027F |
Pendapatan | Rp11,55 triliun | Rp24,94 triliun | Rp26,43 triliun |
Laba Bersih | Rp1,31 triliun | Rp2,81 triliun | Rp3,42 triliun |
EPS | Rp176,4 | Rp377,3 | Rp458,5 |
PER | 19,0x | 8,9x | 7,3x |
ROE | 15,6% | 26,6% | 27,2% |
Sumber: riset Ciptadana Sekuritas
Apa yang Sebaiknya Dilakukan Investor?
Prospek TINS masih didukung kombinasi faktor fundamental dan siklus komoditas, terutama apabila harga timah bertahan tinggi akibat defisit pasokan global.
Namun investor juga tetap perlu mencermati sejumlah risiko, antara lain:
perubahan kebijakan royalti mineral,
realisasi target produksi perusahaan,
perkembangan operasi tambang Myanmar yang dapat menambah pasokan global,
fluktuasi harga komoditas dunia.
Bagi investor, laporan ini menunjukkan bahwa prospek TINS dinilai semakin menarik apabila kenaikan harga timah dapat bertahan dalam jangka menengah, meski keputusan investasi tetap perlu mempertimbangkan profil risiko masing-masing.
Kesimpulan
Analis Ciptadana melihat PT Timah memasuki fase pertumbuhan laba yang lebih kuat berkat kombinasi harga timah global yang tinggi, kenaikan produksi, serta potensi tambahan kapasitas dari aset sitaan. Meski demikian, faktor regulasi terutama terkait royalti tetap menjadi risiko yang perlu dipantau.
Investasi di Aplikasi Trading Saham Online Terbaik – Bareksa
Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.
***
DISCLAIMER
Disclaimer Ciptadana Sekuritas di Sini
Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.
Pertanyaan Umum
Mengapa Ciptadana menaikkan target harga TINS?
Karena prospek harga timah dunia dinilai akan tetap tinggi akibat defisit pasokan global dan kenaikan produksi perusahaan.
Berapa target harga terbaru saham TINS?
Analis Ciptadana menaikkan target harga menjadi Rp4.200 per saham dari sebelumnya Rp3.400.
Apa yang menopang harga timah dunia?
Gangguan pasokan dari Myanmar serta meningkatnya permintaan industri elektronik, AI, semikonduktor, dan data center.
Mengapa aset sitaan menjadi katalis?
Karena enam smelter sitaan senilai sekitar Rp7 triliun belum
diperhitungkan dalam proyeksi laba sehingga masih menyimpan potensi
tambahan apabila telah beroperasi.
Apa risiko terbesar bagi TINS?
Perubahan kebijakan royalti mineral yang berpotensi mengurangi profitabilitas perusahaan.
Profil Penulis

Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis pasar modal, saham, reksadana, SBN, emas dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.
Pilihan Investasi di Bareksa
Klik produk untuk lihat lebih detail.
| Produk Eksklusif | Harga/Unit | 1 Bulan | 6 Bulan | YTD | 1 Tahun | 3 Tahun | 5 Tahun |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
Trimegah Dana Obligasi Nusantara autodebet | 1.225,99 | ||||||
Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A | 1.182,87 | - | - | ||||
Eastspring Syariah Mixed Asset Fund Kelas A | 1.028,42 | - | - | - | |||
STAR Stable Amanah Sukuk autodebet | 1.201,67 | - | - |
Produk Belum Tersedia
Ayo daftar Bareksa SBN sekarang untuk bertransaksi ketika periode pembelian dibuka.
