BeritaArrow iconSahamArrow iconArtikel

Super Bank Indonesia (SUPA) Cetak Laba Bersih Rp78,19 Miliar di Kuartal I 2026, Naik Tajam

Abdul Malik29 April 2026
Tags:
Super Bank Indonesia (SUPA) Cetak Laba Bersih Rp78,19 Miliar di Kuartal I 2026, Naik Tajam
Logo Superbank (SUPA). (Dok. Perusahaan)

Super Bank Indonesia (SUPA) bukukan laba bersih Rp78,19 miliar di Q1 2026, naik drastis dari Rp251 juta di Q1 2025. Total aset tembus Rp23,95 triliun. Simak analisis kinerja lengkapnya.

Bareksa - PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) membukukan laba bersih Rp78,19 miliar pada periode tiga bulan yang berakhir 31 Maret 2026, melonjak signifikan hingga 31.000% dibandingkan laba bersih Rp251 juta pada periode yang sama tahun 2025. Informasi ini penting karena mencerminkan akselerasi profitabilitas bank digital yang baru melantai di Bursa Efek Indonesia pada Desember 2025.

Berdasarkan laporan keuangan unaudited yang diotorisasi Direksi pada 28 April 2026, lonjakan laba didorang pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) yang tercatatRp503,32 miliar pada Q1 2026, naik 91,4% dibandingkan Rp262,99 miliar pada Q1 2025.

Kenaikan ini didorong oleh pertumbuhan pendapatan bunga bruto dari Rp366,45 miliar menjadi Rp724,65 miliar, seiring ekspansi portofolio kredit dan efek-efek. Beban bunga turut meningkat dari Rp103,46 miliar menjadi Rp221,32 miliar, sejalan dengan pertumbuhan simpanan nasabah. SUPA merupakan emiten sektor perbankan berbasis teknologi digital.

Promo Terbaru di Bareksa

Saham SUPA ditutup di Rp835 pada 28 April 2026, naik 0,60% dalam sehari, dengan kapitalisasi pasar Rp28,02 triliun dan rasio P/E 283,94 kali. Total aset SUPA tercatat Rp23,95 triliun per 31 Maret 2026, meningkat 12,5% dari Rp21,28 triliun per 31 Desember 2025. Pertumbuhan aset ditopang oleh ekspansi kredit dan portofolio efek-efek yang substansial.

Ekspansi Kredit dan Kualitas Aset

Kredit yang diberikan (neto) tumbuh 19,5% dalam satu kuartal, dari Rp9,20 triliun per Desember 2025 menjadi Rp10,99 triliun per Maret 2026. Portofolio efek-efek juga meningkat signifikan dari Rp7,85 triliun menjadi Rp10,01 triliun. Ekspansi ini mencerminkan strategi pertumbuhan agresif SUPA di segmen ritel, UMKM, dan korporasi.

Rasio NPL bruto tercatat 2,10% per Maret 2026, membaik dari 2,60% per Desember 2025. NPL neto berada di level 0,73%, sedikit meningkat dari 0,68% per Desember 2025. Cadangan kerugian penurunan nilai kredit meningkat menjadi Rp431,71 miliar dari Rp418,68 miliar.

Simpanan nasabah tumbuh 22,1% menjadi Rp14,44 triliun dari Rp11,83 triliun per Desember 2025, dengan deposito berjangka sebagai kontributor terbesar Rp11,41 triliun. Loan to funding ratio tercatat 79,11%, turun dari 81,32% per Desember 2025.

Beban Operasional dan Rasio Permodalan

Total beban operasional meningkat dari Rp282,25 miliar menjadi Rp429,34 miliar pada Q1 2026. Kenaikan beban kerugian penurunan nilai aset keuangan dari Rp55,43 miliar menjadi Rp125,67 miliar menjadi faktor utama, seiring pertumbuhan portofolio kredit. Beban umum dan administrasi naik dari Rp126,91 miliar menjadi Rp183,95 miliar, antara lain karena biaya proteksi kredit Rp59,77 miliar.

Laba sebelum pajak tercatat Rp100,37 miliar pada Q1 2026, dibandingkan hanya Rp251 juta pada Q1 2025. Beban pajak penghasilan tangguhan Rp22,18 miliar mulai diakui pada Q1 2026, seiring membaiknya profitabilitas Bank. Laba per saham dasar tercatat Rp2,3 (nilai penuh) per saham pada Q1 2026, dibandingkan Rp0,01 pada Q1 2025.

Rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM/CAR) total tercatat 84,09% per Maret 2026, jauh di atas ketentuan minimum. Modal Tier 1 Rp7,52 triliun mencerminkan permodalan yang sangat kuat pasca IPO Desember 2025.

Tabel Ringkasan Kinerja Keuangan SUPA Q1 2026

Indikator
Q1 2026
Q1 2025
Perubahan

Pendapatan Bunga

Rp724,65 miliar

Rp366,45 miliar

97,7%

Beban Bunga

Rp221,32 miliar

Rp103,46 miliar

114,0%

Pendapatan Bunga Bersih (NII)

Rp503,32 miliar

Rp262,99 miliar

91,4%

Total Pendapatan Operasional

Rp529,71 miliar

Rp283,57 miliar

86,8%

Beban Kerugian Penurunan Nilai

Rp125,67 miliar

Rp55,43 miliar

126,8%

Total Beban Operasional

Rp429,34 miliar

Rp282,25 miliar

52,1%

Laba Sebelum Pajak

Rp100,37 miliar

Rp251 juta

39.000%

Laba Bersih

Rp78,19 miliar

Rp251 juta

31.000%

Laba Per Saham Dasar

Rp2,3 (nilai penuh)

Rp0,01 (nilai penuh)


Sumber: SUPA, diolah

Tabel Posisi Keuangan Utama

Indikator
31 Mar 2026
31 Des 2025
Perubahan

Total Aset

Rp23,95 triliun

Rp21,28 triliun

+12,5%

Kredit Neto

Rp10,99 triliun

Rp9,20 triliun

+19,5%

Efek-efek

Rp10,01 triliun

Rp7,85 triliun

+27,5%

Simpanan Nasabah

Rp14,44 triliun

Rp11,83 triliun

+22,1%

Total Ekuitas

Rp8,10 triliun

Rp8,16 triliun

-0,7%

NPL Bruto

2,10%

2,60%

Membaik

NPL Neto

0,73%

0,68%

Sedikit naik

CAR Total

84,09%

93,24%

Loan to Funding Ratio

79,11%

81,32%

Rasio UMKM terhadap Total Kredit

61,15%

41,64%

Sumber: SUPA, diolah

Kesimpulan

Kinerja PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) pada kuartal pertama 2026 mencerminkan akselerasi pertumbuhan yang signifikan, ditandai oleh lonjakan laba bersih dan ekspansi aset yang substansial. Pertumbuhan ini berpotensi menjadi perhatian pelaku pasar, mengingat SUPA baru menyelesaikan IPO pada Desember 2025 dan masih berada dalam fase ekspansi aktif. Investor bisa mencermati perkembangan kualitas aset dan efisiensi beban operasional pada kuartal-kuartal mendatang.

FAQ

1. Berapa laba bersih Super Bank Indonesia (SUPA) di Q1 2026?
Laba bersih SUPA tercatat Rp78,19 miliar pada kuartal pertama 2026 (periode tiga bulan berakhir 31 Maret 2026), berdasarkan laporan keuangan unaudited.

2. Apa penyebab utama lonjakan laba SUPA di Q1 2026?
Kenaikan utama berasal dari pertumbuhan pendapatan bunga bersih (NII) yang meningkat 91,4% menjadi Rp503,32 miliar, didorong ekspansi kredit dan portofolio efek-efek.

3. Berapa laba per saham SUPA di Q1 2026?
Laba per saham dasar tercatat Rp2,3 (nilai penuh) per saham, dibandingkan Rp0,01 pada Q1 2025.

4. Bagaimana kondisi permodalan SUPA?
Rasio CAR total SUPA tercatat 84,09% per Maret 2026, jauh melampaui ketentuan minimum OJK s9–10%, mencerminkan permodalan yang sangat memadai.

5. Apakah SUPA mengumumkan dividen bersamaan dengan laporan keuangan ini?
Berdasarkan laporan keuangan Q1 2026 yang tersedia, tidak terdapat pengumuman dividen. Laporan ini bersifat unaudited dan merupakan pelaporan kuartalan rutin sesuai ketentuan BEI dan OJK.

Investasi di Aplikasi Trading Saham Online Terbaik – Bareksa

Bareksa adalah pioneer aplikasi investasi saham yang dirancang untuk membantu investor mengambil keputusan lebih percaya diri. Dilengkapi data market, riset, dan analisis fundamental, kamu bisa memantau saham dan membandingkan kinerja emiten secara praktis. Dalam satu aplikasi, Bareksa juga menyediakan reksa dana, SBN, dan emas untuk strategi investasi yang lebih lengkap.

Beli Saham di Sini

Tentang Penulis

*Abdul Malik adalah Managing Editor Bareksa dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di jurnalisme pasar modal. Memegang lisensi WPPE, ia fokus pada analisis makro, riset investasi, dan edukasi keuangan, serta merupakan peraih beberapa fellowship internasional.

***

DISCLAIMER​​​​​​​​​

Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bareksa membuat informasi ini dari materi dan sumber-sumber terpercaya, serta tidak dipengaruhi pihak manapun. Informasi ini bukan merupakan ajakan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi dan Bareksa tidak memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.

Pilihan Investasi di Bareksa

Klik produk untuk lihat lebih detail.

Produk EksklusifHarga/Unit1 Bulan6 BulanYTD1 Tahun3 Tahun5 Tahun

Trimegah Dana Obligasi Nusantara

autodebet

1.211,21

Up0,78%
Up1,50%
Up0,40%
Up7,56%
Up20,28%
Up14,56%

STAR Stable Amanah Sukuk

autodebet

1.200,25

Up0,44%
Up2,26%
Up1,30%
Up7,90%
--

Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A

1.171,52

Up0,68%
Up2,23%
Up1,41%
Up7,64%
--

Eastspring Syariah Mixed Asset Fund Kelas A

1.049,08

Up0,45%
Up2,19%
Up0,14%
---

Video Pilihan

Lihat Semua

Artikel Lainnya

Lihat Semua