BeritaArrow iconReksa DanaArrow iconArtikel

Bunga Acuan Tinggi, Manajer Investasi Atur Durasi Obligasi di Reksa Dana Pendapatan Tetap

10 Agustus 2026
Tags:
Bunga Acuan Tinggi, Manajer Investasi Atur Durasi Obligasi di Reksa Dana Pendapatan Tetap
Ilustrasi durasi obligasi dalam pengelolaan reksa dana pendapatan tetap seperti Insight Renewable Energy Fund. (Photo by Towfiqu barbhuiya: Pexels)

Yield SBN sempat menyentuh level tertinggi 4 tahun saat suku bunga acuan BI Rate naik. Pahami konsep durasi obligasi dan kenapa ini bisa jadi peluang masuk ke reksa dana pendapatan tetap seperti Insight Renewable Energy Fund.

Bareksa - Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan BI Rate sebanyak 100 basis poin sepanjang semester pertama tahun ini. Sementara masih ada ruang kenaikan lanjutan, yield Surat Berharga Negara (SBN) acuan tenor 10 tahun sempat menyentuh 7,5 persen, level tertinggi dalam empat tahun terakhir.

Bagi sebagian investor, kombinasi suku bunga tinggi dan yield yang sempat melonjak terdengar seperti alasan untuk menjauh dari pasar obligasi. Padahal, logikanya justru terbalik. Yield yang tinggi berarti harga obligasi sedang murah, dan harga yang murah adalah titik masuk yang secara historis jarang bertahan lama. Pertanyaannya, bagaimana investor bisa memanfaatkan momentum ini tanpa mengabaikan risiko yang menyertainya lewat reksa dana pendapatan tetap. Manajer investasi punya strateginya untuk memitigasi risiko dengan mengatur durasi obligasi dalam reksa dana.

Mengenal durasi obligasi dalam pengelolaan reksa dana

Durasi obligasi paling mudah dipahami sebagai ukuran seberapa sensitif harga obligasi terhadap perubahan suku bunga. Semakin panjang durasi portofolio obligasi, semakin besar pula ayunan harganya ketika yield bergerak, baik naik maupun turun. Sebaliknya, durasi yang pendek membuat harga relatif lebih stabil, meski potensi kenaikan harganya saat yield turun juga lebih terbatas.

Promo Terbaru di Bareksa

Hubungan ini bekerja dua arah. Saat yield naik, harga obligasi yang beredar cenderung tertekan karena investor menuntut imbal hasil yang lebih tinggi untuk obligasi baru. Sebaliknya, saat yield mulai turun, seperti yang terjadi belakangan ini dari 7,5 persen ke 7,2-7,3 persen, harga obligasi yang sudah beredar berpotensi naik, memberi tambahan capital gain di luar kupon yang rutin diterima investor.

Grafik Yield Obligasi Negara Tenor 10 Tahun Capai Rekor Tertinggi

Illustration
Sumber: Investing

Meski yield SBN menjadi salah satu acuan pasar obligasi, reksa dana pendapatan tetap juga dapat berinvestasi pada obligasi korporasi. Pergerakannya turut dipengaruhi kondisi penerbit, tenor, dan likuiditas, serta pada kondisi tertentu dapat menawarkan potensi imbal hasil tambahan dengan risiko yang perlu diperhatikan.

Dalam praktiknya, ketika pasar obligasi berfluktuasi, manajer investasi tidak pasif menunggu arah suku bunga. Ketika ketidakpastian tinggi dan sinyal higher for longer masih kuat, langkah umum yang diambil adalah memperpendek durasi portofolio dan menambah porsi instrumen pasar uang sebagai bantalan likuiditas.

Dengan memperpendek durasi portofolio reksa dana pendapatan tetap yang mereka kelola, manajer investasi berharap dapat meredam volatilitas harga di tengah pergerakan suku bunga yang belum sepenuhnya pasti.

Langkah ini bukan sinyal kekhawatiran terhadap prospek obligasi, melainkan cara manajer investasi menyeimbangkan antara menjaga stabilitas portofolio dan tetap membuka ruang untuk menangkap peluang ketika yield mulai melandai.

Menyusun strategi masuk yang realistis

Harga murah, peluang untuk masuk? Tunggu dulu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan investor sebelum menambah eksposur ke reksa dana pendapatan tetap. Pertama, masuk secara bertahap lebih masuk akal dibanding all-in dalam satu waktu, mengingat arah suku bunga BI ke depan masih bisa bergeser. Kedua, sesuaikan horizon investasi, karena instrumen pendapatan tetap paling optimal dinikmati dalam jangka menengah hingga panjang, bukan untuk kebutuhan dana jangka pendek.

Ketiga, pahami bahwa ekspektasi return tahun ini secara wajar akan lebih moderat, ditopang kombinasi kupon dan potensi kenaikan harga yang lebih terukur dibanding periode sebelumnya. Keempat, hindari kesalahan umum berupa menarik dana saat terjadi volatilitas jangka pendek, padahal itu bagian normal dari siklus suku bunga.

Dengan kata lain, penyesuaian durasi bukan tanda kekhawatiran, melainkan strategi disiplin manajer investasi menghadapi ketidakpastian siklus suku bunga, dan di sinilah pemilihan reksa dana yang tepat menjadi krusial.

Insight Renewable Energy Fund sebagai salah satu alternatif

Investor ritel bisa masuk ke pasar obligasi melalui investasi di reksa dana pendapatan tetap, salah satunya adalah Insight Renewable Energy Fund (I-Renewable) yang dikelola PT Insight Investments Management (Insight IM). Produk ini dapat menjadi salah satu alternatif bagi investor dengan profil risiko moderat dan horizon investasi menengah hingga panjang. Dengan dana kelolaan mencapai Rp937,91 miliar per akhir Juni 2026, produk yang telah berjalan sejak 2011 ini mencerminkan kepercayaan investor yang terbangun lintas siklus pasar.

Portofolionya berfokus pada efek surat utang korporasi lintas sektor, mulai dari energi, infrastruktur, hingga pertambangan. Dengan minimum investasi awal Rp100.000, reksa dana ini terjangkau bagi investor ritel.

Dari sisi kinerja, I-Renewable mencatatkan return 6,35% dalam setahun terakhir, melampaui rata-rata reksa dana sejenis di industri seperti tercermin dalam Indeks Reksa Dana Pendapatan Tetap Bareksa yang berada di 0,31%, per 5 Agustus 2026. Dalam periode 3 tahun, selisihnya lebih lebar lagi, 23,70% berbanding 6,50%.

Illustration
Sumber: Bareksa, data per 5 Agustus 2026

Satu hal yang membedakan I-Renewable dari reksa dana pendapatan tetap pada umumnya adalah sebagian dari pendapatan yang diterima oleh manajer investasi akan dialokasikan untuk mendukung promosi dan program pengembangan energi baru terbarukan. Hal ini sejalan dengan komitmen Transforming Investment into Social Impact yang menjadi tagline Insight IM selaku pengelola reksa dana I-Renewable. Bagi investor yang ingin instrumennya sesuai tujuan investasi sekaligus punya kontribusi terhadap dampak lingkungan, karakteristik ini layak dipertimbangkan sebagai nilai tambah di luar sekadar angka return.

Kesimpulan

Terlepas dari produk mana yang dipilih, pelajaran utamanya tetap sama. Memahami durasi membantu investor menilai risiko reksa dana pendapatan tetap secara lebih objektif, bukan sekadar mengejar angka return tertinggi. Sebelum memutuskan, pastikan untuk membaca prospektus dan menyesuaikan pilihan produk dengan profil risiko serta tujuan investasi masing-masing. Informasi lebih lanjut mengenai Insight Renewable Energy Fund dapat diakses melalui platform Bareksa.

Pelajari I-Renewable lebih lanjut

(ADV)

* * *

DISCLAIMER: ARTIKEL INI ADALAH ARTIKEL BERBAYAR, BEKERJA SAMA DENGAN PT INSIGHT INVESTMENTS MANAGEMENT (PT IIM). PT IIM BERIZIN DAN DIAWASI OLEH OTORITAS JASA KEUANGAN (OJK). INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RISIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DATANG.

Pertanyaan Umum

Apa itu durasi obligasi dan kenapa memengaruhi reksa dana pendapatan tetap?

Durasi obligasi mengukur seberapa sensitif harga obligasi terhadap perubahan suku bunga. Semakin panjang durasi, semakin besar pergerakan harganya saat yield naik atau turun. Reksa dana pendapatan tetap yang portofolionya berisi obligasi berdurasi panjang cenderung lebih fluktuatif dibanding yang durasinya pendek, terutama saat suku bunga acuan sedang bergerak signifikan seperti kondisi saat ini.

Kenapa yield SBN yang turun dianggap peluang, bukan risiko?

Yield dan harga obligasi bergerak berlawanan arah. Saat yield SBN turun dari level tertinggi 7,5 persen ke kisaran 7,2-7,3 persen, harga obligasi yang beredar berpotensi naik, membuka peluang capital gain di luar kupon rutin. Level yield yang masih relatif tinggi dibanding rata-rata beberapa tahun terakhir membuat titik masuk ini menarik bagi investor jangka menengah-panjang.

Apakah reksa dana pendapatan tetap cocok untuk semua profil investor?

Reksa dana pendapatan tetap umumnya sesuai bagi investor dengan profil risiko moderat dan horizon investasi menengah hingga panjang, bukan untuk kebutuhan dana jangka pendek. Investor tetap perlu menyesuaikan porsi alokasi dengan tujuan investasi dan toleransi risiko masing-masing, serta membaca prospektus sebelum memutuskan berinvestasi.

Profil Penulis

Hanum Kusuma Dewi
Hanum Kusuma Dewi

Hanum Kusuma Dewi adalah seorang penulis dengan spesialisasi pada topik bisnis, keuangan, dan investasi termasuk reksa dana, saham, SBN hingga emas. Dengan latar belakang pendidikan di bidang komunikasi dan pengalaman 8+ tahun di pasar modal, Hanum juga melakukan riset untuk membuat konten yang mena

Pilihan Investasi di Bareksa

Klik produk untuk lihat lebih detail.

Produk EksklusifHarga/Unit1 Bulan6 BulanYTD1 Tahun3 Tahun5 Tahun

Trimegah Dana Obligasi Nusantara

autodebet

1.231,85

Up0,80%
Up1,79%
Up2,11%
Up6,36%
Up21,04%
Up14,68%

Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A

1.187,54

Up0,91%
Up2,08%
Up2,80%
Up6,55%
--

STAR Stable Amanah Sukuk

autodebet

1.204,40

Up0,51%
Up1,11%
Up1,65%
Up5,07%
--

Eastspring Syariah Mixed Asset Fund Kelas A

1.035,15

Up1,46%
Down-1,15%
Down-1,19%
---

Video Pilihan

Lihat Semua

Artikel Lainnya

Lihat Semua