Jurus Syailendra Pendapatan Tetap Premium Jadi Juara Cuan dan Bertahan Saat Pasar Tertekan

Kinerja indeks reksadana pendapatan tetap di level terendahnya pada 12 Mei minus hingga 2,87%. Namun Syailendra Pendapatan Tetap Premium justru cuan 2,36% di periode yang sama
Abdul Malik • 29 Nov 2022
cover

Ilustrasi investasi di reksadana Syailendra Pendapatan Tetap Premium yang meraih cuan tertinggi dan terus cuan saat pasar tertekan. (Shutterstock)

Bareksa.com - Reksadana pendapatan tetap Syailendra Pendapatan Tetap Premium mencatatkan kinerja paling unggul setahun ini. Di saat kinerja reksadana pendapatan tetap secara umum masih tertekan akibat pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat, namun reksadana yang dikelola PT Syailendra Capital tersebut justru berhasil mencatatkan kinerja terbaik.

Syailendra Pendapatan Tetap Premium berhasil meraih cuan 7,37% setahun terakhir (per 28/11/2022) atau yang tertinggi dari total 49 produk reksadana pendapatan tetap yang tersedia di super apps investasi Bareksa. Imbal hasil tersebut jauh melampaui indeks reksadana pendapatan tetap di Bareksa yang hanya naik tipis 0,14 persen.

Top 5 Reksadana Pendapatan Tetap Cuan Tertinggi 1 Tahun di Bareksa (per 28/11/2022)

 Sumber : Bareksa

Skor Barometer Bareksa yang dibukukan Syailendra Pendapatan Tetap Premium juga di atas 4,5, tertinggi dibandingkan produk reksadana pendapatan tetap lain dalam posisi top 5 cuan tertinggi setahun terakhir. Barometer Bareksa adalah penilaian yang dibuat oleh Tim Riset Bareksa yang menunjukan kinerja dari suatu reksadana dengan mempertimbangkan faktor return, resiko dan lain-lain.

Untuk diketahui, kinerja reksadana pendapatan tetap sepanjang tahun ini kurang moncer akibat kenaikan agresif suku bunga AS yang mendorong dana asing deras keluar dari pasar obligasi RI, sehingga pasar surat utang Tanah Air tertekan.

Kementerian Keuangan mencatat sejak awal tahun hingga 22 November 2022, dana asing keluar dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) mencapai Rp167,45 triliun. Reksadana pendapatan tetap yang mayoritas portofolio investasinya di SBN dan obligasi korporasi, ikut tertekan.

Menurut catatan Bareksa, sepanjang tahun ini kinerja indeks reksadana pendapatan tetap di level terendahnya pada 12 Mei yang minus hingga 2,87%. Namun saat itu Syailendra Pendapatan Tetap Premium justru berhasil cuan 2,36% di periode yang sama.

Sumber : Bareksa

Jurus Investasi Syailendra Pendapatan Tetap Premium

Jadi juara dan terus cuan di saat pasar obligasi sedang tertekan, kira-kira apa jurus investasi Syailendra Pendapatan Tetap Premium?

Reksadana dengan dana kelolaan Rp1,26 triliun (per Oktober 2022) itu memiliki kebijakan investasi 80-100% dari nilai aktiva bersih (NAB) di efek surat utang atau sukuk yang diterbitkan Pemerintah atau korporasi. Selain itu, 0-15% efeknya ditempatkan di ekuitas, serta 0-20% di instrumen pasar uang.

Berdasarkan fund fact sheet periode Oktober 2022, reksadana yang dalam 3 tahun terakhir membukukan cuan 29,84% (per 28/11/2022) ini memiliki top 10 portofolio investasi yakni :

- Obligasi Berwawasan Lingkungan Berkelanjutan I Bank BRI Tahap I Tahun 2022 seri B (BBRI01BGNCN1)
- Obligasi Negara RI seri FR0072
- Obligasi Negara RI seri FR0082
- Obligasi Negara RI seri FR0097
- Obligasi Negara RI seri FR0098
- Obligasi Berkelanjutan IV Indomobil Finance Tahap III Tahun 2022 seri A (IMFI04ACN3)
- Obligasi Berkelanjutan I Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry Tahap II Tahun 2022 seri A (LPPI01ACN1)
- Sukuk Ijarah Berkelanjutan III Global Mediacom Tahap II Tahun 2022 seri B (SIBMTR03BCN2)
- Sukuk Mudharabah Berkelanjutan II Indah Kiat Pulp & Paper Tahun 2022 seri C (SMINKP02BCN2)
- Sukuk Mudharabah I Pindo Deli Pulp and Paper Mills Tahun 2022 seri A (SMPIDL01A23).

Dari data tersebut bisa dilihat, 4 dari top 10 portofolio investasi Syailendra Pendapatan Tetap Premium merupakan Surat Berharga Negara (SBN) dan 3 obligasi korporasi konvensional dan 3 sukuk korporasi.

Kini asing kembali masuk ke pasar SBN. Bank Indonesia mencatat pada periode 21 - 24 November 2022, investor asing (nonresiden) di pasar keuangan domestik mencatatkan beli neto Rp11,71 triliun terdiri dari Rp9,72 triliun di pasar SBN dan Rp1,99 triliun di pasar saham. Hal itu membuat imbal hasil (yield) SBN 10 tahun naik ke level 6,65%.

Kembali masuknya dana asing di pasar SBN menyusul ekspektasi Bank Sentral AS yang akan mulai memperlambat kenaikan suku bunga acuannya mulai Desember. Sepanjang 2022, The Fed sudah menaikan suku bunga acuan 375 basis poin atau 3,75% dari level 0-0,25% jadi 3,75-4% saat ini.

Seiring kembali bergairahnya pasar obligasi Tanah Air, maka akan jadi angin segar bagi Syailendra Pendapatan Tetap Premium untuk terus mendulang cuan di masa mendatang. Meski begitu, reksadana yang bisa dibeli di Bareksa dengan minimum pembelian awal Rp50.000 ini bukan tanpa risiko.

Risiko investasi reksadana yang cocok bagi investor dengan profil risiko moderat ini termasuk perubahan kondisi ekonomi dan politik, risiko likuiditas dan menurunnya nilai aktiva bersih. Karena itu, Smart Investor sangat disarankan untuk membaca prospektus dan fund fact sheet dalam memutuskan investasi.

(ADV)

 ***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.