Tetap Cuan di Tengah Potensi Perlambatan Ekonomi Global, Investor Harus Apa?

Investasi yang dapat menghasilkan kinerja stabil akan lebih menarik dibandingkan aset yang lebih berisiko
Hanum Kusuma Dewi • 20 Sep 2022
cover

Ilustrasi perkembangan ekonomi global yang berpengaruh terhadap kinerja pasar saham, obligasi dan SBN, serta emas. (Shutterstock)

Bareksa.com - Saat ini, instrumen investasi yang dapat menghasilkan kinerja investasi stabil akan lebih menarik dibandingkan aset yang lebih berisiko karena potensi perlambatan ekonomi global akan mendorong investor untuk lebih konservatif dan berhati-hati dalam menempatkan dana investasinya.

Pekan lalu, inflasi Amerika masih berada di level yang cukup tinggi pada bulan Agustus, yakni sebesar 8,3% secara tahunan. Hal ini mendorong ekspektasi kenaikan tingkat suku bunga acuan AS lebih tinggi dan berpotensi menyebabkan perlambatan ekonomi.

Tabel Selisih Real Yield Indonesia dan AS

Bulan

Yield Bond ID (%)

Yield Bond AS (%)

Inflasi ID YoY (%)

Inflasi AS YoY (%)*

Real Yield ID (%)

Real Yield AS (%)

Selisih

Jan-22

6,54

1,78

2,18

2,44

4,36

-0,66

5,01

Feb-22

6,51

1,97

2,06

2,62

4,45

-0,65

5,1

Mar-22

6,85

2,35

2,64

2,84

4,21

-0,5

4,71

Apr-22

7,1

2,82

3,47

2,88

3,63

-0,06

3,69

May-22

7,15

2,86

3,55

2,64

3,6

0,22

3,37

Jun-22

7,36

3,02

4,35

2,33

3,01

0,69

2,32

Jul-22

7,2

2,66

4,94

2,53

2,26

0,13

2,13

Aug-22

7,25

3,2

4,69

2,55

2,56

0,65

1,91

Sumber: Bank Indonesia, PHEI, FRED Economic Data, Tim Analis Bareksa. 

*Yield Bond merupakan yield acuan obligasi 10 tahun.

*Inflasi AS YoY berdasarkan rata-rata inflasi yang diharapkan (expected inflation) oleh investor (market participants) untuk 10 tahun ke depan.

Jika dilihat dalam tabel di atas, selisih imbal hasil (real yield) antara Indonesia dengan AS semakin menipis sejak awal tahun 2022 dari sekitar 5% hingga saat ini sekitar 2%. Agar lebih menarik, umumnya yield Indonesia akan menyesuaikan naik lebih tinggi atau inflasi Indonesia dapat ditekan agar real yield yang dihasilkan dapat lebih tinggi.

Namun hingga saat ini yield acuan Indonesia masih cukup kuat di kisaran 7,1-7,2% meski yield AS sempat menyentuh level tertinggi di 3,4% pada bulan September pasca rilis data inflasi AS.

Bank Sentral Amerika telah menaikkan tingkat suku bunga acuan sekitar 2,25-2,5% selama tahun berjalan 2022, tetapi Bank Indonesia (BI) baru sekali menaikkan suku bunga acuan sebesar 0,25%. Inflasi yang dianggap masih stabil serta data makro lainnya menunjukkan pemulihan ekonomi, sehingga membuat BI menahan kenaikan suku bunga.

Hal inilah yang membuat pergerakan yield obligasi juga cenderung mendatar dengan pelemahan terbatas. Apalagi, surplus neraca dagang bulan Agustus juga tercatat melonjak sekitar US$5,76 miliar, sehingga ada angin segar bagi penguatan nilai tukar Rupiah dan harga  obligasi.

Di lain sisi, BI tentu akan melakukan kebijakan kenaikan tingkat suku bunga juga untuk mengejar selisih yield dengan AS. Hal ini masih menjadi risiko utama untuk pasar obligasi dengan proyeksi saat ini dapat bergerak ke kisaran 7,3-7,5%. 

Selain itu, pasar saham pekan lalu juga sempat mencapai level tertingginya di kisaran 7.377 dan biasanya menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) rawan aksi ambil untung.

Sehingga, melihat sejumlah risiko tersebut, investor dapat mengalihkan investasinya ke instrumen yang lebih stabil seperti reksadana pasar uang.

Apa yang harus dilakukan investor?

Melihat sejumlah sentimen di atas, investor juga dapat mempertimbangkan untuk melakukan strategi investasi berikut.

  • Investor dengan profil risiko agresif dapat lakukan aksi pengalihan bertahap reksadana saham dan reksadana indeks yang sudah untung di atas 5%, ke reksadana pasar uang. Lalu investor dapat wait and see terlebih dulu dan kembali cermati reksadana berbasis saham jika IHSG mengalami penurunan di bawah level 7.000.
  • Sementara itu, investor profil risiko moderat dapat tetap melakukan investasi di reksadana pendapatan tetap berbasis obligasi korporasi hingga Bank Indonesia kembali menaikkan tingkat suku bunga acuan ke level 4%. 
  • Lalu untuk semua jenis profil risiko, ada baiknya melakukan diversifikasi yang cukup di reksadana pasar uang karena fluktuasi pasar saham dan obligasi diproyeksikan masih tinggi melihat gejolak risiko global.

Perlu diingat kembali, investasi mengandung risiko, sehingga investor juga perlu membekali diri mengenai peluang keuntungan maupun risiko yang ada di pasar keuangan.

Kinerja Reksadana

Daftar Reksa Dana

Imbal Hasil (Return)

Reksa Dana Pasar Uang

1 Tahun

3 Tahun

Capital Money Market Fund

4,40%

17,35%

Syailendra Sharia Money Market Fund

4,06%

15,68%

Sucorinvest Sharia Money Market Fund

4,28%

17,44%

Reksa Dana Pendapatan Tetap

1 Tahun

3 Tahun

TRIM Dana Tetap 2

4,05%

17,36%

Mandiri Investa Dana Syariah

2,13%

13,62%

Sucorinvest Stable Fund

6,83%

-

Reksa Dana Saham & Indeks

YtD

1 Tahun

Avrist Ada Saham Blue Safir

15,64%

23,19%

Bahana Dana Prima

18,87%

25,05%

BNP Paribas Sri Kehati

17,30%

29,05%

Sumber: Tim Analis Bareksa, Return per NAV 14 September 2022

Baca juga Promo Switching Bareksa: Atur Investasi, Raih Cashback Reksadana hingga Rp500 Ribu

(Sigma Kinasih/Ariyanto Dipo Sucahyo/hm)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.