Mirae Asset Prediksi IHSG Bertahan dari Tekanan Inflasi, Prospek Reksadana Saham

Mirae memprediksi IHSG bisa tembus 7.400 di akhir 2022 atau sedikit menurun dari proyeksi sebelumnya di 7.600
Abdul Malik • 12 Jul 2022
cover

Ilustrasi aplikasi Mirae Asset Sekuritas Indonesia yang diakses melalui ponsel. (Shutterstock)

Bareksa.com - PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia memprediksi perekonomian nasional dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan bertahan di tengah ancaman inflasi yang melambung serta rezim pengetatan moneter yang mengarah pada tren penaikan suku bunga global.

Hariyanto Wijaya, Head of Research Mirae Asset Sekuritas, mengatakan perekonomian nasional dan pasar saham masih akan bertahan di tengah kenaikan inflasi dan penaikan suku bunga oleh bank sentral negara-negara di dunia.

“Karena itu juga, Tim Riset Mirae Asset Sekuritas memasukkan saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) ke stock picks saham Juli dengan prediksi IHSG pada akhir tahun pada 7.400,” ujarnya dalam acara Media Day: July by Mirae Asset Sekuritas (12/7/2022).

Dia mengatakan 7.400 adalah skenario dasar IHSG (base scenario), di mana skenario optimistis (bullish scenario) untuk IHSG hingga akhir tahun adalah 7.800 dan skenario pesimistis (bear scenario) adalah 6.100.

Angka proyeksi itu sedikit menurun dari prediksi sebelumnya. Berdasarkan Research Report Mirae Asset Sekuritas Indonesia yang dipublikasikan pada Desember 2021, awalnya target IHSG di akhir tahun 2022 dipatok di level 7600. 

Pada penutupan perdagangan hari ini, Selasa (12/7/2022), IHSG ditutup di level 6.718. Sepanjang tahun ini pasar saham Tanah Air sangat fluktuatif, di mana sempat ditutup di level 7.276 pada 21 April, yang kemudian longsor hingga di 6.597 pada 13 Mei. Sepanjang tahun berjalan, IHSG hari ini hanya naik tipis 0,79 persen dibandingkan penutupan pada Desember 2021.

Menurut Hariyanto, ekonomi Indonesia akan mampu bertahan di tengah guncangan ekonomi global karena fundamental Indonesia masih sangat baik sehingga IHSG tidak akan banyak terbebani oleh koreksi pasar saham AS yang sedang dalam tren koreksi (bearish).

Selain saham ICBP dan UNVR, dalam stock pick Hariyanto dan Tim Riset Mirae Asset Sekuritas terdapat PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT United Tractor Tbk (UNTR), PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR), dan PT Indofood Sukses Makmur (INDF).

Tren Kenaikan Suku Bunga

Ekonom Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto menilai suku bunga bank-bank sentral di dunia akan terpacu oleh aksi bank sentral AS yaitu The Federal Reserve (The Fed) yang sudah menaikkan suku bunga acuannya yaitu Fed Fund Rate (FFR) sebanyak tiga kali. Sepanjang tahun ini, The Fed sudah menaikkan FFR sebanyak 150 basis poin (bps).

“Tahun ini, kami memprediksi suku bunga FFR akan dinaikkan hingga 3,4 persen, sejalan dengan prediksi pelaku pasar global. Selain itu, tahun depan kami prediksi akan ada resesi di AS sebagai dampak dari pengetatan moneternya tahun ini. Di Indonesia, perekonomiannya masih masih akan ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan investasi.”

Juan Harahap, Research Analyst Mirae Asset Sekuritas, menilai dengan tren laju inflasi yang bertambah cepat serta usaha bank sentral untuk meredamnya dengan menekan suku bunga sudah berdampak pada nilai tukar rupiah. Tekanan rupiah tersebut, kata dia, akan menguntungkan bagi perusahaan berorientasi ekspor, terutama eksportir batu bara.

“Faktor rupiah tersebut juga akan ditambah faktor positif dari kenaikan harga batu bara yang kembali menguat dan akan bertahan di atas kisaran US$300 per ton, dengan faktor utama dari larangan impor batu bara Rusia oleh negara-negara Eropa.

Prospek Reksadana Berbasis Saham

Seiring proyeksi Mirae yang memperkirakan IHSG akan mampu bertahan di tengah tekanan inflasi dan tren kenaikan suku bunga, maka hal itu akan membuat reksadana berbasis saham jadi prospektif. 

Berdasarkan daftar reksadana saham yang tersedia di Bareksa, top 5 reksadana saham dengan imbalan tertinggi sepanjang tahun berjalan (YTD) hingga 11 Juli 2022 mencatatkan cuan 5,77 persen hingga 9,59 persen. 

Sumber : Bareksa

Adapun top 5 reksadana campuran dengan imbalan tertinggi di Bareksa sepanjang tahun berjalan hingga 11 Juli berhasil membukukan cuan antara 4,8 - 10,72 persen. 

Sumber : Bareksa

Sedangkan top 5 reksadana indeks di Bareksa dengan cuan tertinggi sepanjang tahun berjalan per 11 Juli berhasil memberikan imbal hasil 3,58 persen hingga 4,65 persen. 

Sumber : Bareksa

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

(AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.