Pengetatan Kebijakan Moneter AS, Ini Dampaknya ke Reksadana Pendapatan Tetap

Kebijakan pengetatan moneter Bank Sentral AS The Fed menjadi faktor yang membuat instrumen surat utang negara berkembang seperti Indonesia mulai dilepas para investornya
Abdul Malik • 28 Jun 2022
cover

Ilustrasi investasi reksadana pendapatan tetap. (Shutterstock)

Bareksa.com - Menjelang berakhirnya paruh pertama tahun 2022, kinerja reksadana pendapatan tetap cenderung masih tertinggal dibandingkan dengan ketiga jenis reksadana lainnya.

Berdasarkan data Bareksa, sepanjang tahun berjalan hingga 27 Juni 2022 indeks reksadana pendapatan tetap menjadi satu-satunya yang mencatatkan kinerja negatif dengan turun 1,17 persen year to date (YTD).

Sumber : Bareksa

Hal tersebut memang senada dengan kinerja pasar obligasi Tanah Air yang cenderung mengalami tekanan sepanjang tahun berjalan, di mana yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun terpantau mengalami peningkatan sejak awal tahun ini.

Sumber: Worldgovermentbonds

Sebagai informasi, pada awal tahun ini posisi imbal hasil (yield) SUN 10 tahun masih berada di level 6,445 persen. Namun pada 27 Juni 2022, posisinya sudah berada di level 7,316 persen. Yield berlawanan arah dari harga, sehingga naiknya yield menunjukkan harga obligasi yang sedang melemah, demikian juga sebaliknya.

Kebijakan pengetatan moneter yang ditempuh Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Fed menjadi faktor yang membuat instrumen surat utang negara berkembang seperti Indonesia mulai dilepas para investornya.

Hal tersebut setidaknya tercermin dari kepemilikan asing atas Surat Berharga Negara yang turun signifikan mencapai Rp107,97 triliun sepanjang tahun berjalan, dari sebelumnya Rp891,34 triliun per 31 Desember 2021 menjadi Rp783,37 per 24 Juni 2022.

Seperti diketahui, The Fed menaikkan Fed Funds Rate sebesar 75 bps pada FOMC meeting Juni 2022 sebagai respons peningkatan inflasi AS yang menuju level tertingginya sejak tahun 1981. Sejak awal tahun 2022, Bank Sentral AS telah menaikkan suku bunga acuan sebanyak 150 bps yang saat ini berada di level 1,5 persen-1,75 persen. 

Normalisasi kebijakan terus berlanjut. Dengan kecenderungan inflasi AS masih akan tetap tinggi dalam beberapa bulan ke depan, pasar memperkirakan The Fed akan terus menaikkan suku bunga secara agresif dalam beberapa bulan mendatang.

Dampak ke Reksadana Pendapatan Tetap

Sentimen volatilitas ini juga akan dirasakan oleh reksadana pendapatan tetap. Karena itu, investor sebaiknya tetap waspada terhadap isu kebijakan kenaikan suku bunga The Fed bulan depan yang mempengaruhi pergerakan pasar obligasi.

Dengan kondisi seperti saat ini, reksadana pasar uang mungkin bisa menjadi salah satu alternatif untuk pelaku pasar memarkirkan dananya sementara, sambil menunggu kebijakan selanjutnya.

Selama pelaku pasar punya kecenderungan profil risiko yang rendah dan khawatir dengan tertekannya pasar, menambah porsi di reksadana pasar uang bisa menjadi alternatif pilihan. Jadi, ketika pasar sudah terkoreksi imbas keputusan The Fed, investor sudah memiliki “cash buffer” dan siap masuk ke instrumen lain yang lebih berisiko.

(KA01/Arief Budiman/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.