Fluktuasi Pasar Tengah Tahun, Bareksa Prioritas Sarankan Strategi Investasi Ini

Reksadana berbasis saham energi akan diuntungkan dari peningkatan harga komoditas, investor HNWI direkomendasikan tetap berinvestasi sesuai profil risiko
Abdul Malik • 25 May 2022
cover

Ilustrasi fluktuasi pasar akibat dibayangi risiko global, sehingga investor perlu menerapkan strategi investasinya di reksadana agar tetap cuan. (Shutterstock)

Bareksa,com - Bareksa Prioritas -- platform investasi kerja sama antara Bareksa dan Jagartha Advisors untuk nasabah high net-worth individuals (HNWI) -- memperkirakan sejumlah sentimen global masih membayangi pasar saham hingga pertengahan tahun ini sehingga membuat pasar berfluktuasi. Namun, memasuki kuartal III 2022, investor HNWI disarankan untuk mulai melakukan akumulasi di reksadana yang diuntungkan dari peningkatan harga komoditas dengan tetap menyesuaikan profil risiko investor.

Head of Investment Bareksa Christian Halim menjelaskan adanya konflik Ukraina dan Rusia yang masih belum ada tanda-tanda berakhir membuat harga komoditas energi akan tetap berada dalam level yang tinggi, terutama pada musim dingin tahun ini. Hal ini akan menyulitkan kawasan Eropa apabila mereka gagal menemukan sumber energi dari negara lain yang cukup untuk menggantikan energi dari Rusia.

Bagi Indonesia, peningkatan harga komoditas energi memberikan dampak positif bagi neraca perdagangan. Indonesia mencatatkan surplus US$7,56 miliar pada bulan April 2022, yang didorong oleh neraca perdagangan sektor nonmigas akibat meningkatnya ekspor batu bara, biji besi, dan baja.

"Dengan harga batu bara acuan yang tetap tinggi kami melihat Indonesia akan menikmati surplus di sekitar US$3 miliar – US$4 miliar pada Mei, dan US$4 miliar – US$5 miliar pada Juni, setelah pemerintah mencabut larangan ekspor kelapa sawit," jelas Christian.

Menguatnya surplus neraca perdagangan pada bulan April 2022 memberikan bantalan bagi yield obligasi dan nilai tukar rupiah yang selama beberapa minggu terakhir mengalami pelemahan. Dengan stabilnya nilai tukar rupiah, diharapkan yield obligasi juga mampu bertahan pada level 7,3 – 7,5 persen hingga pengumuman kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika pada 15 Juni mendatang.

Akan tetapi, tekanan inflasi global dan peningkatan suku bunga acuan yang terjadi di dunia masih memungkinkan imbal hasil obligasi negara kembali meningkat ke level 7,8 persen hingga 8 persen. Sembari menunggu yield obligasi negara meningkat lagi, investor disarankan untuk masuk ke reksadana pendapatan tetap berbasis obligasi korporasi.

"Kami menyarankan nasabah untuk mulai mencicil pembelian reksadana pendapatan tetap berbasis obligasi pemerintah ketika yield obligasi menyentuh 7,8 persen. Rekomendasi ini didasari oleh data historis yield akan kembali rebound ke level 7 persen, setelah yield menyentuh 8 persen," kata Christian.

Akumulasi Reksadana Saham

Sementara itu, Managing Partner Bareksa Prioritas Citra Putri menyatakan saat ini hingga awal kuartal III mendatang merupakan waktu yang tepat untuk melakukan akumulasi reksadana saham dan reksadana indeks saham, mengingat biasanya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak mendatar dan ada potensi koreksi hingga waktu tersebut.

"Kami juga menyarankan untuk investor dapat melakukan akumulasi secara agresif apabila IHSG terkoreksi ke level 6.500 – 6.600 dengan target Bareksa Prioritas untuk IHSG akhir tahun ini tetap pada level 7.500 – 7.800," jelas Citra.

Bareksa Prioritas juga menyarankan investor yang ingin melakukan pembelian reksadana saham saat ini, dapat memilih reksadana saham yang memiliki bobot saham di sektor yang diuntungkan dari kenaikan harga komoditas saat ini seperti sektor energi, komoditas, dan properti. Selain itu, investor dapat menghindari reksadana yang memiliki bobot saham teknologi tinggi, mengingat adanya dampak negatif dari tren kenaikan suku bunga terhadap saham teknologi, yang diproyeksikan masih akan berlanjut.

Mengenai prediksi di kuartal III mendatang, Chief Investment Officer Jagartha Advisors Erik Argasetya memperkirakan Bank Indonesia akan mulai menaikkan suku bunga acuannya menyusul langkah Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) yang telah menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan terakhir, serta merespons data inflasi Indonesia yang mulai memanas.

"Kami melihat setelah kenaikan suku bunga BI, inflasi nantinya akan tetap terjaga di level 3 - 4 persen di tengah adanya isu kenaikan tarif listrik bagi pelanggan 3.000 VA ke atas dan potensi kenaikan harga BBM oleh pemerintah, untuk menjaga defisit APBN tidak terlalu melebar akibat beban subsidi," ujar Erik. 

“Terlebih dampak dari larangan ekspor gandum dari India dan gangguan suplai gandum dari Ukraina berpotensi mendorong kenaikan harga tepung gandum di Indonesia, dan akan menambah laju inflasi,” dia menambahkan.

Erik menyarankan investor HNWI dapat mempertimbangkan berbagai sentimen dalam mengatur strategi investasi reksadana. Di samping itu, investor juga perlu tetap berinvestasi sesuai profil risiko masing-masing.

Beberapa produk reksadana saham, reksadana indeks, reksadana pendapatan tetap dan reksadana pasar uang yang bisa dipertimbangkan investor adalah sebagai berikut :

Mutual Fund Performance (per Tanggal 20 Mei 2022)

Daftar Reksa Dana

Imbal Hasil (Return)

Equity IDR

YTD (%)

1 Yr (%)

Eastspring Investment Value Discovery Kelas A

8.61

17.47

Manulife Saham Andalan

1.58

18.09

RHB SRI KEHATI Index Fund

12.47

22.59

Fixed Income IDR

YTD (%)

1 Yr (%)

Sucorinvest Stable Fund

2.39

7.59

Sucorinvest Sharia Sukuk Fund*

2.33

-

Money Market

YTD (%)

1 Yr (%)

Sucorinvest Money Market Fund

1.83

5.02

Syailendra Dana Kas

1.37

3.83

Principal Cash Fund

0.95

2.93

Sumber:  Bloomberg, Bareksa.com, Jagartha Research, *New Fund

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.