Terus Turun, Apa Saja Tantangan Reksadana Syariah Agar Berkembang?

Dana kelolaan reksadana syariah per April 2022 hanya Rp42,85 triliun, turun 44,72 persen secara tahunan
Abdul Malik • 24 May 2022
cover

Ilustrasi investasi di reksadana syariah. (Shutterstock)

Bareksa.com - Industri reksadana syariah tengah dalam kinerja yang kurang memuaskan. Hal tersebut setidaknya tercermin dari anjloknya dana kelolaan atau asset under management (AUM) reksadana syariah.

Mengutip data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jumlah dana kelolaan reksadana syariah per April 2022 hanya sebesar Rp42,85 triliun. Nilai tersebut turun 44,72 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp77,51 triliun.

Sumber: OJK

Jika ditelusuri lebih lanjut, pemicu hal tersebut karena adanya aksi jual bersih (net redemption) yang tercermin dari jumlah unit penyertaan reksadana syariah yang anjlok 56,13 persen dari sebelumnya 64,67 miliar menjadi 28,37 miliar.

Pemicu terbesarnya datang dari produk reksadana terproteksi syariah, yang beberapa di antaranya telah jatuh tempo namun tidak digantikan dengan produk yang baru.

Di sisi lain, reksadana syariah juga tampaknya cenderung kurang diminati investor, khususnya investor besar seperti institusi. Penyebabnya adalah insentif pajak atas imbal hasil obligasi yang sejak 2021 berkurang sehingga mengalami kenaikan tarif, dari sebelumnya 5 persen menjadi 10 persen.

Hal tersebut membuat investor institusi lebih memilih untuk menempatkan atau membeli obligasi secara langsung, dibandingkan membelinya melalui reksadana.

Tantangan Industri Reksadana Syariah

Industri reksadana syariah di Indonesia memang masih menghadapi sejumlah tantangan, di antaranya masih rendahnya tingkat literasi dan inklusi reksadana syariah.

Sederhananya, masyarakat Muslim yang menjadi target pasar utama industri ini justru cenderung masih lebih nyaman dengan menempatkan dananya ke instrumen investasi tradisional seperti emas, properti atau bahkan hanya sekadar menabung di bank.

Kendala lainnya, aset berbasis syariah di pasar modal saat ini juga cenderung masih terbatas untuk menjadi underlying asset dari suatu portofolio.

Sebagai contoh, saham sektor keuangan yang tergabung ke dalam Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) saat ini hanya berjumlah 6 emiten. Bandingkan dengan saham sektor keuangan konvensional yang jumlahnya mencapai 100 emiten.

Alhasil ketika pasar tengah mengalami reli yang didorong saham-saham konvensional, kinerja reksadana syariah akan cenderung tertinggal karena aset pendorongnya yang masih sangat terbatas.

Karena itu, jika ke depannya semakin banyak tersedia saham-saham syariah yang listed di Bursa Efek Indonesia, maka bisa menjadi alternatif pilihan bagi produk reksadana syariah.

(KA01/Arief Budiman/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.