Suku Bunga Acuan Naik, Prospek Reksadana Syailendra Pendapatan Tetap Premium Masih Positif

Portofolio reksadana pendapatan tetap kelolaan Syailendra Capital ini memiliki alokasi investasi mayoritas pada obligasi korporasi
Hanum Kusuma Dewi • 07 Apr 2022
cover

Ilustrasi suku bunga naik yang digambarkan dengan tumpukan koin dan persentase. (shutterstock)

Bareksa.com - Suku bunga acuan Bank Indonesia diperkirakan akan naik, setelah kebijakan The Fed menaikkan suku bunga hingga 6 kali tahun ini untuk menghadapi inflasi. Dampaknya bagi pasar obligasi domestik, imbal hasil (yield) ikut naik dan menekan harganya. Bagaimana dengan reksadana pendapatan tetap? 

Head of Fixed Income Syailendra Capital Mardiana Wirasmi menjelaskan bahwa kemungkinan besar Bank Indonesia juga akan menaikkan suku bunga acuan, tetapi tidak akan banyak. Pasalnya, inflasi di Indonesia masih terjaga dan tidak setinggi angka di Amerika Serikat. 

Secara teori, hal ini tentu menjadi hal yang kurang baik bagi reksadana pendapatan tetap yang mayoritas portofolionya adalah surat berharga negara (SBN). Sebab, harganya SBN dalam portofolio bisa ikut tertekan dan nilai aktiva bersih reksadana juga ikut turun. 

Namun, kondisi suku bunga yang naik justru bisa memberikan dampak positif bagi Reksadana Syailendra Pendapatan Tetap Premium (SPTP) yang dikelola oleh PT Syailendra Capital, karena mayoritas portofolionya adalah obligasi korporasi berperingkat baik sehingga tidak terlalu berfluktuasi karena kondisi pasar. 

"Syailendra Pendapatan Tetap Premium mayoritas portofolionya adalah obligasi korporasi dengan durasi rendah. Obligasi ini akan jatuh tempo dalam 2-3 tahun. Ketika obligasi jatuh tempo, manajer investasi bisa menginvestasikan lagi dengan obligasi lain yang menawarkan kupon lebih tinggi," jelas Mardiana. 

Dia melanjutkan, sejumlah reksadana pendapatan tetap memang mengalami penurunan nilai aktiva bersih saat suku bunga naik. Namun, itu berlaku untuk produk dengan portofolio obligasi dengan tenor jangka panjang, khususnya pada portofolio berbasis SUN. Hal ini berbeda dengan obligasi korporasi. 

Sebagai catatan, durasi obligasi yang makin pendek membuat fluktuasinya makin rendah. Oleh karena itu, bila suku bunga makin tinggi, Reksadana Syailendra Pendapatan Tetap Premium berpotensi memberikan return lebih besar. 

"Dengan kondisi ini, kenaikan suku bunga acuan justru jadi blessing buat reksadana ini. Sebab kami bisa segera reinvest di obligasi dengan rate lebih baik dan return lebih besar," ujarnya. 

Baca juga Reksadana Syailendra Pendapatan Tetap Premium: Produk Stabil dengan Return Menarik

Kinerja dan Portofolio

Dalam melakukan keputusan investasi, SPTP berfokus pada pengelolaan aktif atas durasi portofolio yang bersifat taktis. SPTP bertujuan untuk memaksimalkan return obligasi korporasi tenor pendek-menengah dengan mengutamakan prinsip manajemen risiko kredit yang prudent.

SPTP memiliki alokasi aset 80-100 persen pada efek bersifat utang, 0-20 persen pada efek pasar uang, dan 0-15 persen pada efek ekuitas.

Secara lebih detail, obligasi korporasi yang dipilih memiliki rating dengan mayoritas sekitar 53 persen memiliki rating A dan sekitar 19 persen dengan rating AA. 

Menurut data Syailendra, obligasi korporasi dengan rating AA dapat memberikan imbal hasil yang cenderung lebih baik dibandingkan SBN acuan. Berikut perbandingan return dari obligasi korporasi rating AA bertenor 3 tahun dibandingkan dengan SBN bertenor 10 tahun.

Grafik Perbandingan Imbal Hasil Obligasi Korporasi 3 Tahun vs. SBN 10 Tahun

Maka dari itu, reksadana pendapatan tetap ini memberikan return yang stabil dan bisa mengalahkan tolok ukur acuan (benchmark). 

Sepanjang tahun 2021, Syailendra Pendapatan Tetap Premium mencatatkan kinerja (return) sebesar 6,66 persen. Kinerja ini jauh melampaui melampaui kinerja rata-rata reksa dana pendapatan tetap yang ada di Indonesia, yaitu Indeks Reksa Dana Fixed Income yang hanya naik 2,32 persen. 

Grafik NAB Syailendra Pendapatan Tetap Premium vs. Indeks Reksa Dana Fixed Income (IRDFI)

Sumber: Fund Fact Sheet Maret 2022

Bila dilihat sejak awal tahun hingga akhir Maret 2022, atau 3 bulan, reksadana ini sudah tumbuh 1,46 persen. Sementara itu, tolok ukurnya justru turun -0,27 persen pada periode sama. 

Per Maret 2022, Syailendra Pendapatan Tetap Premium memiliki dana kelolaan Rp 400,55 miliar dengan bank kustodian Bank Central Asia. Reksadana ini bisa dibeli di marketplace Bareksa dengan modal terjangkau, mulai Rp 50.000 saja. 

Setelah melihat ulasan di atas, smart investor dapat mempertimbangkan produk investasi reksadana ini untuk tujuan keuangan jangka pendek menengah. Reksadana Syailendra Pendapatan Tetap Premium juga dapat digunakan untuk diversifikasi dan cocok untuk investor dengan profil risiko rendah hingga moderat.  

(ADV) 

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini

- Beli reksadana, klik tautan ini

- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​

- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore

- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER

Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja masa depan. Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.