Sinarmas AM : Saham Terkoreksi, Momentum Investasi di Reksadana Apa?

Setelah terjadi koreksi yang cukup dalam, pasar akan kembali naik setelahnya
Abdul Malik • 24 Jan 2022
cover

Ilustrasi investasi di reksadana. (Shutterstock)

Bareksa.com - Pandemi Covid-19 yang terjadi dalam hampir dua tahun terakhir sempat mengakibatkan krisis perekonomian, mulai dari pertumbuhan ekonomi yang menurun hingga banyaknya terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK). Krisis ini juga mengakibatkan koreksi yang cukup dalam di pasar saham.

Namun, Chief Investment Officer PT Sinarmas Asset Management Genta Wira Anjalu menjelaskan, koreksi yang terjadi di pasar saham justru bisa menjadi peluang. "Setelah terjadi koreksi yang cukup dalam, pasar akan kembali naik setelahnya," jelas dia dalam acara SimInvestival 2022, "Investasi Digital Rang Mudo" secara Virtual, Senin (24/1).

Momentum ini, menurut Genta tidak terjadi setiap saat di pasar saham. Karenanya, investor sebaiknya memanfaatkan momentum ini untuk menambah porsi investasinya. Genta mengungkapkan, investasi di saham memang memberikan tingkat pengembalian (return) terbaik di antara instrumen investasi lainnya. 

Dalam periode 2009 hingga 2019, saham bisa memberikan return hingga 176,6 persen atau 11,7 persen per tahun. Sementara obligasi sebesar 136,7 persen atau 9,88 persen per tahun. Emas malah menurun 35,23 persen, sedangkan deposito hanya memberikan return 50 persen.

Meski demikian, di balik return yang tinggi dalam berinvestasi saham, terdapat risiko yang menghantui. Genta menyebutkan, dari lebih dari 600 saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), hanya 224 saham yang menunjukkan performa yang baik atau memberikan return lebih tinggi dari indeks harga saham gabungan (IHSG).

Karenya, investor yang baru memulai berinvestasi sebaiknya memperhatikan profil risiko masing-masing. Diversifikasi investasi juga perlu dilakukan karena tidak setiap saat investasi di saham selalu menguntungkan.

Berinvestasi di reksadana bisa menjadi salah satu jawaban untuk bisa mengurangi risiko berinvestasi di saham. Pasalnya, investasi melalui reksadana dikelola oleh manajer investasi yang tentunya lebih berpengalaman dalam mengelola keuangan.

Instrumen juga bisa menyesuaikan jenis investasi reksadana sesuai dengan risiko masing-masing. Bagi investor yang konservatif, bisa memilih berinvestasi di reksadana pasar uang yang aset dasar (underlying) nya adalah deposito. Kemudian, ada reksadana pendapatan tetapyang sedikit lebih berisiko dari reksadana pasar uang dengan aset dasar obligasi.

Sementara investor yang agresif bisa memilih berinvestasi di reksadana campuran atau reksadana saham. Berinvestasi di reksadana saham tentunya jauh lebih rendah risikonya karena saham yang dipilih oleh manajer investasi tentunya sudah memilih proses screening yang ketat.

Namun, investor tetap harus cermat memilih produk dan manajer investasi dengan kredibilitas yang bisa dipercaya.

(K09/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di emas dan reksadana secara online yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Beli emas, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.