Tak Ada Lockdown Buat Varian Baru Covid-19, Reksadana Bakal Sumringah

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden yang mengatakan tidak ada lockdown untuk varian baru Covid-19
Abdul Malik • 30 Nov 2021
cover

Ilustrasi kebijakan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat Jawa – Bali guna menekan angka penularan Covid-19 yang berpengaruh pada kinerja pasar saham dan obligasi, serta berdampak pada reksadana dan SBN. (Shutterstock)

Bareksa.com - Analisi Bareksa memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang melanjutkan kenaikan, seiring dengan penguatan mayoritas bursa saham global,. Kondisi itu menyusul Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden yang mengatakan tidak ada lockdown untuk varian baru Covid-19.

Hal ini diproyeksikan mendorong penguatan reksadana berbasis saham. Investor juga akan mencermati pertumbuhan manufaktur China yang akan rilis hari ini. Jika menunjukkan ekspansi, maka akan menjadi sentimen positif bagi pasar saham.

IHSG pada 29 November 2021 naik 0,71 persen ke level 6.608,29

Di sisi lain, mayoritas harga obligasi Indonesia diproyeksikan masih akan menguat karena pernyataan the Fed yang mengatakan adanya varian baru Covid-19 yakni Omicron akan menahan laju pemulihan ekonomi dan memperlambat tingkat daya beli masyarakat (inflasi). Dampaknya imbal hasil (yield) acuan Obligasi Pemerintah AS terlihat menurun.

Hal ini turut mempengaruhi kenaikan harga obligasi Indonesia serta kinerja mayoritas reksadana pendapatan tetap. Berdasarkan data id.investing.com (diakses 29/11/2021 pukul 17.00 WIB) benchmark obligasi pemerintah tercatat tetap di level 6,2 persen, pada 29 November 2021.

Di tengah penguatan pasar saham dan prospek positif pasar obligasi, investor dengan profil risiko moderat dan agresif bisa mempertimbangkan beberapa produk reksadana pendapatan tetap, reksadana saham dan reksadana campuran yang mencatatkan kinerja cemerlang berikut ini :

Imbal Hasil 1 Tahun (per 29 November 2021)

Reksadana Saham

Eastspring Investments Value Discovery Kelas A : 17,12 persen
TRIM Kapital : 17,77 persen

Reksadana Campuran

Jarvis Balanced Fund : 81,52 persen
Syailendra Balanced Opportunity Fund : 26,74 persen

Imbal Hasil 3 Tahun (per 29 November 2021)

Reksadana Pendapatan Tetap

Syailendra Pendapatan Tetap Premium : 32,97 persen
Bahana Mes Syariah Fund Kelas G : 28,23 persen

Peristiwa Penting yang Bisa Mempengaruhi Pasar

Beberapa peristiwa penting dari dalam negeri yang diperhatikan investor dan diperkirakan bisa mempengaruhi pergerakan pasar di antaranya :

1. PPKM Jawa - Bali

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Jawa - Bali di perpanjang hingga 14 Desember 2021. Pemerintah menerapkan kebijakan ini untuk tetap menjaga kasus Covid-19 agar tetap stabil.

Berdasarkan pantauan Satgas Covid-19 jumlah daerah dengan level 2 terus bertambah dengan 23 kabupaten/kota, sedangkan terdapat 8 kabupaten/kota yang turun menjadi level 1.

Satgas Covid-19 juga melihat aktivitas masyarakat dan mobilitas masyarakat telah meningkat kembali dan mendekati level hari raya Idul Fitri 2021.

2. Kinerja Perbankan

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta industri perbankan perlu mewaspadai lebarnya gap atau kesenjangan antara pertumbuhan kredit dengan dana pihak ketiga (DPK) karena berpotensi mempengaruhi profitabilitas. Hal ini menjadi tantangan bagi perkembangan bisnis perbankan ke depan.

Tercatat pertumbuhan kredit jauh lebih rendah dari pertumbuhan DPK. Hingga Oktober 2021, kredit hanya tumbuh 3,24 persen secara tahunan (yoy). Sedangkan DPK justru tumbuh lebih tinggi yaitu 9,4 persen yoy.

(Sigma Kinasih/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.