Varian Baru Covid-19 Bisa Tekan SUN, Reksadana Pendapatan Tetap Masih Mencorong

Harga SUN berpotensi mengalami penurunan pekan ini seiring adanya tekanan di pasar obligasi akibat munculnya varian baru Covid-19, Omicron
Abdul Malik • 29 Nov 2021
cover

Ilustrasi pasar obligasi dan Surat Berharga Negara yang dibayangi sentimen munculnya varian baru Covid-19, dan berimbas ke reksadana pendapatan tetap. (Shutterstock)

Bareksa.com - Harga Surat Utang Negara (SUN) berpotensi mengalami penurunan pekan ini seiring adanya tekanan di pasar obligasi akibat munculnya varian baru Covid-19, Omicron. Namun penurunan harga SUN diharapkan tidak berdampak signifikan terhadap reksadana yang memiliki portofolio surat utang atau reksadana pendapatan tetap.

Associate Director, Head of Fixed Income PT Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto menjelaskan, varian Omicron sudah menjalar ke beberapa negara di Eropa. Apabila hal ini terus berlanjut, maka ketidakpastian di pasar SUN akan meningkat sehingga bisa menekan harga SUN.

"Bisa menurun (harga SUN), tapi masih landai ke level 6,2-6,3 persen," kata dia di Jakarta akhir pekan lalu. 

Associate Director of Research and Investment PT Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, investor asing masih wait and see dengan situasi dan kondisi yang tengah terjadi saat ini. Pasalnya, varian Omicron mendorong kekhawatiran terhadap prospek pemulihan ekonomi yang akan terjadi pada tahun depan. 

Karena itu, Nico melihat pelaku pasar dan investor asing akan mencoba untuk bersikap defensif dan tidak akan ragu untuk keluar dari pasar SUN apabila Omicron ternyata tidak bisa dikendalikan. 

"Sejauh ini kami merekomendasikan aksi jual sebagai keharusan di tengah situasi dan kondisi saat ini, sembari menunggu gejolak di pasar mulai mereda," kata dia.

Apalagi imbal hasil (yield) obligasi dengan tenor 10 tahun juga sudah berada di titik terendahnya sehingga membutuhkan sedikit koreksi. Karenanya, Nico melihat harga SUN pekan ini akan menurun dengan yield yang meningkat ke level 6,05 - 6,15 persen untuk tenor 10 tahun dan 4,9-5 persen untuk tenor 5 tahun.

Head of Fixed Income PT Sucor Asset Management Dimas Yusuf menambahkan, volatilitas kemungkinan akan meningkat seiring adanya ketakutan terhadap varian Omicron. Dimas menyebutkan, hingga saat ini kenaikan kasus di Afrika Selatan masih minim dan spread ability dari varian Omicron juga cukup tinggi. 

Karenanya, yield SUN dalam jangka panjang masih bisa menurun mengikuti pergerakan di Amerika Serikat (AS). Namun tampaknya masih akan sulit terjadi pada minggu ini sehingga untuk bertahan di level saat ini juga sudah cukup baik.

"Ada kemungkinan turun, namun menurut saya lebih mungkin stay. Kalaupun turun, yield SUN maksimal bisa naik ke level 6,25 persen," kata dia.

Wealth Management Head PT Bank OCBC NISP Tbk Juky Mariska menjelaskan, sebelum terjadinya tapering, pasar obligasi terus mengalami penguatan. Yield obligasi pemerintah dengan tenor 10 tahun menurun dari 6,26 persen pada September 2021 ke 6,06 persen pada Oktober 2021.

"Penguatan tersebut dipengaruhi oleh dukungan berkelanjutan dari bank sentral dengan skema pembagian beban dan berkurangnya pasokan obligasi serta penguatan nilai tukar rupiah bulan lalu," kata dia.

Namun pengumuman yang dibuat oleh The Fed untuk mulai mengurangi pembelian aset secara bertahap sebelum akhir November telah menjadi tekanan untuk pasar obligasi.

Pada awal November 2021, pemerintah juga mengumumkan untuk menghentikan pelelangan obligasi karena target 2021 telah tercapai.

Dengan memperhatikan berbagai sentimen tersebut, Juky menilai obligasi pemerintah untuk tenor 10 tahun akan diperdagangkan di level 6 - 6,3 persen sampai akhir tahun.

Penurunan harga SUN ini secara tidak langsung bisa berdampak kepada pergerakan kinerja reksadana pendapatan tetap. Namun diharapkan dampak tersebut tidak berlangsung lama. 

Berdasarkan data Bareksa, 30 produk reksadana yang dijual di Bareksa membukukan tingkat pengembalian (return) yang positif dalam satu tahun. Hanya Manulife Obligasi Unggulan Kelas A yang menunjukkan koreksi return 1,75 persen setahun (per 26 November 2021). 

Sementara reksadana lain menunjukkan kinerja positif, bahkan Sucorinvest Stable Fund dari PT Sucor Asset Management membukukan return 9,08 persen dalam setahun. Begitu juga dengan Syailendra Pendapatan Tetap Premium yang menorehkan return 9,08 persen dalam setahun.

(K09/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.