Risiko Tapering The Fed, Ini Strategi Manulife AM Kelola Portofolio Reksadana

Daya tarik obligasi Indonesia menjadi pertimbangan MAMI dalam mengatur portofolio reksadana pendapatan tetap
Hanum Kusuma Dewi • 29 Nov 2021
cover

Syuhada Arief, Senior Portfolio Manager, Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI)

Bareksa.com - Menjelang akhir tahun 2021, Bank Sentral Amerika Serikat The Federal Reserve (The Fed) mengumumkan kebijakan pengurangan stimulus ekonomi yang disebut sebagai tapering. Ada risiko yang muncul dalam pengelolaan reksadana, tetapi PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) sudah punya strategi terkait Reksadana pendapatan tetap atau reksadana berbasis obligasi (fixed income). 

Syuhada Arief, Senior Portfolio Manager, Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), menjelaskan rencana tapering tersebut sudah dikomunikasikan oleh The Fed sehingga diantisipasi oleh pasar dan tidak menimbulkan gejolak. Positifnya juga, The Fed dengan jelas menyampaikan bahwa belum ada rencana kenaikan suku bunga, setidaknya hingga proses tapering berakhir. 

"Komunikasi ini memberikan kejelasan bagi pasar bahwa suku bunga akan tetap pada level akomodatif. Kondisi pasar obligasi global dan domestik relatif stabil pasca pengumuman tapering The Fed, dengan imbal hasil US Treasury 10-tahun stabil pada kisaran 1,5-1,6 persen dan obligasi pemerintah Indonesia 10-tahun stabil di kisaran 6 persen," kata Syuhada dalam ulasannya melalui email kepada Bareksa, 26 November 2021. 

Dengan adanya tapering, bagaimana pengaruhnya terhadap kebijakan suku bunga Bank Indonesia? 

Syuhada menjelaskan pergerakan suku bunga Bank Indonesia akan lebih dipengaruhi oleh perkembangan dinamika domestik. Menurutnya, Bank Indonesia masih memiliki ruang untuk menjaga suku bunga pada level akomodatif. 

Berbeda dengan negara lain yang inflasinya melonjak, di Indonesia tekanan inflasi masih rendah, pada level 1,66 persen YoY per Oktober, sehingga belum ada tekanan bagi Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga. Selain itu tingkat defisit transaksi berjalan Indonesia saat ini pada level yang rendah didukung oleh harga komoditas dan neraca perdagangan yang suportif, sehingga memberi ruang bagi Bank Indonesia untuk tetap akomodatif. 

"Risiko terhadap pandangan ini adalah perubahan pada kebijakan The Fed. Asumsi dasar kami adalah The Fed akan tetap gradual dalam melakukan perubahan kebijakan." 

Selain itu, MAMI melihat walaupun The Fed melakukan tapering, imbal hasil US Treasury tidak akan bergerak terlalu liar naik. Ini terjadi akibat akan adanya keseimbangan supply dan demand imbal hasil obligasi global, yang berdasarkan data Bloomberg, secara total terdapat US$13,29 triliun obligasi global (baik itu obligasi pemerintah maupun korporasi) yang memiliki imbal hasil negatif. Hal tersebut berarti hampir seperlima dari keseluruhan obligasi global memiliki imbal hasil negatif.

Bukan Stagflasi

Menyusul tapering, stagflasi menjadi isu yang hangat dibicarakan di pasar keuangan global. Stagflasi adalah kondisi pertumbuhan ekonomi melambat, tingkat pengangguran tinggi, dan disertai juga dengan tingkat inflasi tinggi. Namun, Syuhada menjelaskan bahwa saat ini, Indonesia dan global tidak dalam periode stagflasi. 

Faktor yang menunjukkan kondisi sekarang bukanlah stagflasi:  

  • Tingkat pertumbuhan ekonomi global masih pada level yang tinggi. IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi global mencapai 4,9 persen di 2022, lebih tinggi dari rata-rata 10 tahun di level 2,2 persen.
  • Dari sisi tingkat pengangguran, data ketenagakerjaan Amerika Serikat terus mencatat perbaikan, tercermin dari data klaim pengangguran mingguan dan nonfarm payroll yang konsisten membaik.
  • Sementara itu inflasi yang tinggi di global saat ini disebabkan oleh ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan di tengah pembukaan kembali ekonomi. Kondisi ini bukan faktor yang bersifat struktural dan inflasi diperkirakan akan menurun setelah adanya penyesuaian pasokan dan permintaan.

Perkiraan Pertumbuhan Ekonomi 

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal ketiga turun menjadi 3,51 persen, dibandingkan 7,07 persen pada kuartal kedua. Menurut Syuhada hal ini sudah diantisipasi karena kondisi PPKM yang menekan aktivitas ekonomi. 

"Kami memandang potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih positif di Q4-2021 dan 2022. Pelonggaran PPKM menjadi katalis pemulihan ekonomi Indonesia didukung oleh mobilitas masyarakat yang meningkat."

Dia menilai kondisi di Indonesia berbeda dengan beberapa negara lain yang pertumbuhan ekonominya mulai mengalami normalisasi di 2022, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan meningkat di 2022. Konsensus di Bloomberg mengindikasikan pertumbuhan ekonomi 2022 diproyeksikan mencapai 5,2 persen, naik dari 3,6 persen di 2021. Akselerasi vaksinasi akan menjadi faktor penting untuk pemulihan ekonomi Indonesia yang berkesinambungan.

Daya Tarik Pasar Obligasi

Menurut Syuhada, daya tarik utama pasar obligasi Indonesia saat ini adalah tidak adanya supply (penawaran baru) dari obligasi pemerintah melalui mekanisme lelang Kemenkeu sampai akhir tahun. Selain itu, pasar obligasi Indonesia didukung oleh dinamika pasar domestik yang suportif. 

Indonesia saat ini pada era suku bunga rendah, dengan tingkat suku bunga acuan BI pada level terendah sepanjang masa. Dalam kondisi ini obligasi masih menjadi salah satu instrumen investasi alternatif untuk mencari imbal hasil yang lebih menarik. 

Pasar obligasi juga didukung oleh kebijakan burden sharing yang diperpanjang hingga 2022 dan defisit APBN yang ditargetkan turun menjadi 4,85 persen dari PDB sehingga mengurangi penerbitan SBN dan suportif bagi dinamika demand-supply pasar.

Faktor lain yang menjadi support bagi pasar obligasi Indonesia adalah komposisi pasar yang semakin didominasi oleh investor domestik. Komposisi investor asing di pasar obligasi Indonesia saat ini hanya sekitar 21 persen, jauh lebih rendah dibanding 38 persen di akhir 2019 sebelum pandemi, sehingga risiko pelemahan pasar yang disebabkan oleh dana asing keluar dari Indonesia menjadi lebih minim.

Tantangan utama pasar obligasi adalah ketidakpastian terkait gangguan rantai pasokan global. "Skenario dasar kami adalah inflasi global akan mengalami moderasi di 2022 seiring dengan perbaikan rantai pasokan global. Namun apabila gangguan rantai pasokan terjadi lebih panjang dari ekspektasi, kondisi ini dapat mempengaruhi ekspektasi inflasi pasar dan menekan The Fed untuk lebih agresif."

Strategi Pengelolaan Portofolio

Berkaitan dengan kondisi pasar terkini, Syuhada menjelaskan pengelolaan Reksadana pendapatan tetap yang berbasis obligasi di MAMI didasari filosofi bahwa riset mendalam dan manajemen risiko yang disiplin dapat menghasilkan kinerja yang unggul dan konsisten. 

"Kami menggunakan pendekatan top-down yang mengandalkan analisa makroekonomi global dan domestik untuk mendasari keputusan alokasi portofolio. Dalam hal ini selain didukung tim investasi yang berpengalaman di pasar domestik, kami juga didukung jaringan global Manulife Investment Management yang memiliki tim investasi on-the-ground yang dapat memberikan keunggulan informasi dan analisa yang terkini dan tajam." 

Untuk strategi saat ini, lanjut Syuhada, dengan dinamika pasar domestik yang suportif durasi portofolio reksadana obligasi MAMI pada level tactical overweight. Duration management, security selection, dan yield enhancement diharapkan menjadi penopang kinerja portofolio. "Tentunya kami terus mencermati perkembangan pasar terkini untuk memastikan posisi portofolio tetap optimal." 

Reksadana pendapatan tetap berisikan mayoritas obligasi dengan porsi minimal 80 persen dari portofolionya. Reksadana pendapatan tetap disarankan untuk investor moderat, dengan jangka waktu investasi menengah sekitar 1-3 tahun. 

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.