Rahasia Pengelolaan dan Arah Perkembangan Robo Advisor Bagi Industri Reksadana

Bareksa yakin dengan membantu investor meraih cuan, maka industri reksadana akan tumbuh lebih pesat
Abdul Malik • 29 Oct 2021
cover

Ilustrasi kinerja Robo Advisor Bareksa yang terus meroket. (Shutterstock)

rroBareksa.com - Penggunaan Robo Advisor makin marak digunakan oleh pelaku industri di bidang investasi. Tujuannya tak lain untuk membantu investor agar bisa meraih cuan, sekaligus mendorong lebih berkembangnya industri keuangan.

Seperti apa sebenarnya rahasia pengelolaan Robo Advisor dan arah perkembangannya ke depan? Chief Research and Business Development Officer Bareksa, Ni Putu Kurniasari sempat menjelaskan pada diskusi panel dengan tema "Robo Advisor: Game Changer Industri Wealth Management", dalam rangkaian acara Bareksa-Kontan 5th Fund Awards 2021, Senin (25/10/2021).

Ni Putu menyampaikan Robo Advisor sangat dibutuhkan sekali oleh investor saat ini. Terlebih, tingkat literasi pasar modal memang masih rendah sekali di mana menurut survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2019 tercatat 4,9 persen.

Di sisi lain, jumlah investor pasar modal naik lebih dari dua kali lipat, namun tingkat literasi belum mengimbangi. Meski begitu, memang saat ini masyarakat sebagai investor sudah lebih paham soal investasi reksadana.

"Kalau dulu banyak yang tidak tahu, kebalik antara Danareksa dan reksadana, sekarang sudah banyak yang paham soal reksadana," ucap Putu.

Hanya saja Putu mendapati kalau masyarakat sebagai investor umumnya masih belum mengetahui reksadana mana yang akan dipilih karena belum bisa memahami profil risikonya.

"Info mengenai reksadana masih belum banyak yang benar-benar tahu, misalnya MI (manajer investasi) ini bagaimana, produk reksadana ini seperti apa, belum masyarakat ketahui. Ini dibutuhkan guidance bisa membantu bagi para investor untuk memilih reksadana," ujarnya.

Saat bersamaan, Putu menyampaikan investor ritel makin banyak yang masuk di reksadana. Makanya, tidak bisa lagi melakukan guidance manual.

"Disinilah peran Robo Advisor dibutuhkan bagi calon investor kita. Bisa memberikan guidance secara masif, tentunya untuk industri ini dengan biaya yang lebih efisien," kata Putu.

Arah Perkembangan Robo Advisor

Lalu akan seperti apa perkembangan Robo Advisor? Putu menyampaikan perkembangan Robo Advisor akan menyesuaikan dengan kebutuhan investor.

"Karena kita semua baik kami maupun manajer investasi memahami potensi investor ritel itu besar sekali. Penetrasi sekarang sudah lebih dari 5 juta investor, kalau dilihat dari populasi kan masih rendah," ujarnya.

Putu mengatakan langkah selanjutnya setelah mengetahui potensi, adalah bagaimana menjadikan calon investor ini menjadi investor. "Itu tidak akan bisa kita raih jika kita tidak kasih real benefit," imbuhnya.

Menurut Putu, masyarakat awam memang tahu reksadana. Namun apabila mereka tidak mendapatkan keuntungan dari investasinya di reksadana, maka masyarakat tidak akan berinvestasi di reksadana. Apalagi dengan adanya teknologi digital, informasi tentang beragam produk investasi, tidak hanya reksadana, kini kian mudah didapatkan.

"Kalau di dunia digital, tidak ada istilah loyal terhadap satu hal. Dibutuhkan sesuatu hal yang guidance  bagi investor untuk merasakan manfaat baik dari reksadana. Saya bicara dari kacamata investor, saya berharap investasi saya menghasilkan, meski saya juga paham ada risiko, harapan saya bisa minimize risiko dan memperoleh hasil maksimal dari reksadana tersebut," papar Putu.

Ia berpendapat, tidak bijaksana jika mendorong calon investor, katakan untuk terus-terus beli reksadana saham padahal pasar saham lagi tinggi. 

"Kita sebagai pengelola investasi dalam ilmu investasi simpel ya beli saat aset murah, jual asset sedang saat mahal, itu yang harus kita kasih ke sisi calon investor," ujarnya.

Kalau tidak, dia melanjutkan jika hasilnya ternyata setelah investasi di reksadana tidak mendapatkan hasil optimal, maka calon investor ini akhirnya akan pindah ke produk investasi lain.

"Yang tadinya kita lihat ada potensi, lihat dari penetrasi pasar modal kecil, itu hanya sekadar potensi, kita tidak bisa jadikan calon investor jadi investor," kata Putu.

Putu berpendapat Robo Advisor arahnya akan sangat dibutuhkan dan sifatnya cukup urgent karena permintaan pasar terhadap reksadana mulai naik. Makanya, pelaku reksadana harus mampu memberikan guidance dan edukasi yang baik, soal bagaimana masyarakat berinvestasi reksadana dengan baik, dan diinformasikan secara massif, yang sudah pasti tidak bisa dilakukan secara manual.

Putu menyampaikan arah perkembangan Robo Advisor di Indonesia tentu akan mirip dengan perkembangan di negara lain. Bedanya, kalau negara lain lebih advance, sudah ada payung hukum terhadap Robo Advisor.

"Kalau di luar negeri tahapannya Robo Advisor dikasih mandat bisa dikelola investasi, langsung direct beli underlying asset lain atau fund on fund asset, investor mempercayakan ke Robo nanti Robo yang otomatis memilih. Kalau di kita kan masih dalam proses bertahap ke arah sana, kita masih lihat risk-nya," kata Putu.

Dia menyampaikan tetap dibutuhkan Robo Advisor yang bisa memberikan guidance optimal dalam mendiversifikasi aset investasi milik investor. Robo hanya melihat kecocokan antara profil risiko dan kebutuhan investor, namun ini baru tahap pertama perkenalan teknologi Robo Advisor.

"Step kedua kita tidak bisa lihat dari situ saja, tetapi bagaimana memberikan guidance yang maksimal untuk investor mendiversifikasi asetnya," kata Putu.

Pengelolaan Robo Advisor

Lalu bagaimana Robo Advisor dikelola agar lebih efektif mendorong nilai investasi bagai investor? Putu menjelaskan realitas bagai investor awam yang benar-benar tidak tahu reksadana dan produknya, memang tidak mudah untuk membeli reksadana, kerena dari sisi informasinya.

"Investor memang lebih menurut dari kacamata mereka lebih mudah trading saham karena info dari emiten saham lebih mudah didapatkan. Misal saya mau beli saham BCA, karena saya selama ini transaksi saham BCA, lebih mudah informasi diperoleh bagi investor," ucap Putu.

Jadi, ia melanjutkan dibutuhkan satu tools bagi investor, sebagai guidance bukan hanya memahami sebuah kebutuhan profil risiko, tetapi juga pilihan produk sesuai.

"Dari sisi investor kan ada yang memang tidak terlalu tahu, atau ada yang tahu namun sibuk, perlu diingatkan, pasar mana yang lagi bagus. Robo bisa kasih saran dan mengingatkan investor untuk berinvestasi sehingga bisa dilakukan investasi secara optimal. Tetapi teknologi Robo Advisor perlu ditopang dari underlying, teman-teman manajer investasi mensupport adanya pertumbuhan Robo Advsior dengan lebih banyak informasi atas produk yang mereka kelola," papar Putu.

Ia menyampaikan informasi yang jels mengenai produk reksadana sangat dibutuhkan. Berkaca Robo Advisor di luar negeri yang sudah berkembang karena informasi mengenai isi reksadana jelas, sehingga mudah untuk disesuaikan dengan kebutuhan investor. Selain itu juga ada diversifikasi produk lebih banyak,  serta lebih sesuai dengan kebutuhan investor.

Diharapkan dengan lebih banyak informasi atas suatu produk reksadana dan pengelolaan produknya yang lebih baik, maka benefit yang diterima investor akan lebih optimal, ujung-ujungnya ini akan mendorong industri reksadana.

"Karena kalau di Bareksa kami yakin jika membuat investor cuan, tentu kita akan cuan, industri kita akan tumbuh lebih pesat ketika kita memberikan real benefit kepada investor," kata Putu.

(Martina Priyanti/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.