BCA Raih Restu Stock Split Saham, 60 Reksadana Ini Punya Portofolio BBCA

Menyusul pengumuman stock split, kemarin saham BBCA mencatatkan net buy tertinggi kedua
Abdul Malik • 24 Sep 2021
cover

Ilustrasi kinerja saham PT Bank Central Asia Tbk atau BCA yang berpengaruh pada kinerja reksadana yang memiliki portofolio saham BBCA. (Shutterstock)

Bareksa.com - ​PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa atau RUPSLB pada Kamis (23/9/2021). RUPSLB memutuskan untuk melakukan aksi korporasi pemecahan saham yang beredar (stock split).

Pemegang saham dalam rapat memberikan persetujuan atas aksi korporasi stock split dengan rasio 1 : 5 (1 saham yang ada saat ini dipecah menjadi 5 saham baru). Nilai nominal per saham BBCA saat ini adalah Rp62,5, sedangkan nilai nominal per saham BBCA setelah stock split akan menjadi Rp12,5.

Jika melihat harga penutupan BBCA per 23 September Rp32.900 per lembar, maka asumsi eksekusi stock split menjadi Rp6.575 per lembar.

Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan aksi korporasi ini diharapkan meningkatkan komposisi kepemilikan investor ritel di perseroan.

‘’Kami melihat investor ritel termasuk investor muda di pasar modal Indonesia memiliki ketertarikan yang kuat untuk berinvestasi di saham BBCA. Dengan adanya aksi korporasi ini diharapkan harga saham BCA dapat lebih terjangkau oleh investor retail,” jelas Jahja dalam keterangan tertulis, Kamis, 23 September 2021.

Menyusul pengumuman stock split, kemarin saham BBCA mencatatkan net buy tertinggi kedua mencapai Rp170,6 miliar. Saham BBCA mencatatkan total transaksi Rp400,5 miliar dengan volume 12,2 juta saham dan naik 0,38 persen di level Rp 32.900 per saham.

Reksadana dengan Underlying Asset Saham BBCA

Dengan aksi korporasi tersebut, diperkirakan partisipasi investor ritel terhadap saham BBCA semakin meningkat dikarenakan harganya yang sudah semakin terjangkau. Hal tersebut bisa berdampak positif pada pergerakan saham BBCA itu sendiri yang tentu semakin likuid.

Menyandang status sebagai perusahaan dengan nilai kapitalisasi pasar (market cap) terbesar (Rp803,04 triliun) di Bursa Efek Indonesia (BEI), tentu tidak heran jika saham BBCA banyak masuk ke dalam portofolio investasi banyak produk reksadana.

Berikut reksadana yang tersedia di Bareksa yang tercatat menjadikan saham BBCA sebagai underlying asset dalam portofolionya.

Sumber: Bareksa

Berdasarkan penelusuran Bareksa dari fund fact sheet, terdapat 60 produk reksadana yang memiliki saham BBCA dalam portofolionya hingga bulan Juli atau Agustus 2021.

Reksadana tersebut di antaranya Avrist Ada Saham Blue Safir, Batavia Dana Saham Optimal, BNP Paribas Pesona, Eastspring Investments Alpha Navigator Kelas A, Manulife Saham Andalan, Schroder Dana Istimewa, Bahana Dana Prima, Simas Satu Prima, Danareksa Anggrek Fleksibel hingga Mandiri Investa Aktif.

Perlu diketahui, reksadana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang telah terkumpul tersebut nantinya akan diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi seperti saham, obligasi, atau deposito.

Reksadana juga diartikan sebagai salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka.

(KA01/Arief Budiman/AM)

***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.