Eksistensi dan Kesuksesan 25 Tahun Manulife AM di Industri Reksadana Tanah Air

Kesuksesan MAMI bertahan di tengah krisis itu ditopang oleh setidaknya enam faktor
Abdul Malik • 14 Sep 2021
cover

Logo Manulife. (Shutterstock)

Bareksa.com - Tidak banyak perusahaan manajemen investasi yang mampu bertahan selama 25 tahun di Indonesia dengan melalui beberapa kali krisis. Namun, PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) membuktikan eksistensinya di industri yang mengelola dana investor berbasis instrumen pasar modal dan pasar uang tersebut.

Presiden Direktur Manulife Aset Manajemen Indonesia Afifa menjelaskan perusahaan aset manajemen yang masuk dalam Grup Manulife Global ini sudah melewati berbagai krisis untuk bisa bertahan di Indonesia.

Afifa menceritakan perjuangan Manulife yang bertahan setelah diterpa tiga kali periode krisis, yakni krisis keuangan Asia pada tahun 1997, krisis keuangan global pada 2007-2008, dan krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19.

“Kami sangat bersyukur dapat melewati masa-masa sulit tersebut dengan baik dan keluar dalam keadaan yang lebih tangguh," kata dia dalam acara Konferensi Pers secara Virtual, Selasa (31/8).

Kesuksesan MAMI bertahan di tengah krisis itu ditopang oleh setidaknya enam faktor. Pertama adalah kepercayaan investor, baik investor ritel maupun institusi yang jumlahnya sudah mencapai 1,18 juta investor sampai saat ini.

Peningkatan jumlah investor ini, menurut Afifa tidak bisa tercapai tanpa adanya edukasi yang masif dari pihak Manulife. Afifa mengungkapkan, MAMI memiliki modul edukasi finansial 3i, yakni insyaf, irit dan invest yang sudah digunakan sejak 2013.

Modul ini mengajarkan masyarakat untuk memiliki kesadaran (insyaf) terlebih dahulu terhadap investasi. Kemudian, bersikap irit sehingga bisa mengalokasikan dananya untuk investasi dan terakhir baru melakukan investasi.

Kedua, jalur distribusi yang kuat juga menopang kesuksesan MAMI selama ini. Afifa mengungkapkan, MAMI bermitra dengan 32 pihak yang terdiri dari 20 bank dan 12 non bank. MAMI juga mendistribusikan produknya secara langsung kepada segmen ritel serta melalui institutional sales.

Ketiga, di tengah kemajuan zaman seperti saat ini, MAMI tidak lupa untuk melakukan pemasaran digital. MAMI saat ini sudah memiliki platform, yakni klikMami.com. Platform ini diluncurkan sejak 2016 dan tidak hanya melayani pemasaran produk, namun juga transaksi digital lainnya.

"KlikMami.com menjadikan MAMI sebagai pelopor fully online digital transaction platform," terang Afifa.

Keempat, berkiprah lebih dari 25 tahun tentunya membuat MAMI mempunyai wawasan yang lebih mumpuni terhadap industri reksadana. Selain menjadi pelopor dalam transaksi digital, MAMI juga menjadi pelopor produk reksadana dengan konsep multi share class di Indonesia. Produk reksadana ini menawarkan beberapa tipe kelas bagi investor.

Kelima, kekuatan produk juga menjadi faktor kesuksesan MAMI. Selain produk multi share class itu, MAMI saat ini sudah memiliki 28 produk reksadana, 40 kontrak pengelolaan dana dan satu perjanjian penasihat investasi.

Keenam, faktor lain yang mempengaruhi kesuksesan MAMI adalah dukungan berbagai pihak seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK), self regulatory organization (SRO) seperti Bursa Efek Indonesia (BEI), Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), dan Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) serta pihak lainnya. "Faktor lainnya adalah tata kelola perusahaan yang kuat," ucap Afifa.

Memimpin Industri

Berkiprah selama 25 tahun sepertinya tidak cukup hanya sekedar dibuktikan dengan eksistensi. MAMI juga berambisi untuk bisa menjadi MI terkemuka dan terbesar di Tanah Air. Apalagi, pasar modal Indonesia sangat mendukung dengan jumlah investornya yang sudah mencapai 5,82 juta orang per Juli 2021.

Sementara dari sisi AUM reksadana di Indonesia, rasionya masih rendah sekali, yakni baru 3,3 persen dari produk domestik bruto (PDB). Begitupun dengan jumlah investornya yang tidak sampai 2 persen dari total jumlah penduduk. "Karena itu, masih banyak penduduk yang belum terjamah," kata Afifa.

Ambisi MAMI untuk menjadi MI terkemuka sudah terlihat pada kinerja Agustus 2021.

Dana Kelolaan Reksadana Rupiah MAMI

Sumber : Bareksa

Berdasarkan data Bareksa, MAMI tercatat sudah 9 bulan berturut-turut, sejak Desember 2020 hingga Agustus 2021 menjadi perusahaan MI terbesar dari sisi jumlah dana kelolaan reksadana. Pada Agustus 2021, total dana kelolaan reksadana MAMI mencapai Rp59,79 triliun atau hampir menembus Rp60 triliun. Untuk reksadana dalam mata uang rupiah MAMI per Agustus senilai Rp47,6 triliun.

Padahal kinerja MI lainnya cukup tertekan akibat pandemi Covid-19. Namun MAMI berhasil tahan banting dari dampak pandemi Covid-19. Moncernya kinerja MAMI ini tidak terlepas dari peningkatan kinerja produk-produk reksadana yang dimiliki perseroan.

Dua produk reksadana MAMI yang mencatat dana kelolaan terbesar ialah reksadana pendapatan tetap, Manulife Pendapatan Bulanan II. Produk ini diluncurkan pada 23 Januari 2009 dan sudah membukukan dana kelolaan Rp8,68 triliun.

Return Manulife Pendapatan Bulanan II (per 13 September 2021)

Sumber : Bareksa

Manulife Saham Andalan juga menjadi produk yang mencatat kinerja cukup baik. Reksadana saham ini diluncurkan sejak 1 November 2007 dan sudah mencatat dana kelolaan Rp5,03 triliun.

Return Manulife Saham Andalan (per 13 September 2021)

Sumber : Bareksa

Produk Unggulan MAMI

Director, Chief Investment Officer, Fixed Income Manulife Aset Manajemen Indonesia, Ezra Nazula mengatakan reksadana pendapatan tetap dan reksadana saham menjadi produk unggulan MAMI. Tahun ini, kinerja kedua jenis reksadana tersebut diprediksi akan meningkat.

Dari reksadana saham, Ezra melihat adanya peluang peningkatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) seiring mulai pulihnya perekonomian. Pemulihan ekonomi ini juga jadi peluang untuk berinvestasi di saham yang menawarkan potensi pertumbuhan.

Salah satunya adalah saham dari sektor ekonomi digital karena sektor teknologi bisa meningkatkan bobot indeks atau MSCI Indonesia di tingkat Asia Tenggara. Kemudian, saham yang termasuk dalam 45 saham berkapitalisasi besar (LQ 45). Menurut Ezra, saham ini nantinya akan unggul ketika situasi pandemi sudah berakhir.

"Kalau kita melihat, LQ45 saat ini memang sedang tertekan karena perekonomian Indonesia memang sedang melambat akibat pandemi yang berkepanjangan," jelas dia.

Sementara untuk reksadana pendapatan tetap, Ezra melihat potensi penurunan imbal hasil (yield) Obligasi Negara (Surat Berharga Negara/SBN) tenor 10 tahun di bawah 6 persen. Penurunan yield ini ditopang oleh pasar obligasi yang masih positif karena adanya dukungan burden sharing dari Bank Indonesia (BI).

Selain itu, kebijakan fiskal juga cukup akomodatif dengan fokus utama mendorong pertumbuhan dan menjaga nilai tukar. Meski, masih ada sentimen negatif dari perkembangan kasus Covid-19, namun adanya vaksinasi dan likuiditas domestik yang melimpah bisa mengimbangi dampak negatif tersebut.

(K09/AM)

​***

Ingin berinvestasi aman di reksadana yang diawasi OJK?

- Daftar jadi nasabah, klik tautan ini
- Beli reksadana, klik tautan ini
- Download aplikasi reksadana Bareksa di App Store​
- Download aplikasi reksadana Bareksa di Google Playstore
- Belajar reksadana, klik untuk gabung Komunitas Bareksa di Facebook. GRATIS 

DISCLAIMER​
Investasi reksadana mengandung risiko. Investor wajib membaca dan memahami prospektus dan fund fact sheet dalam berinvestasi reksadana.